Sabtu, 16 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Penanganan Covid

Dengan Vaksin COVID-19 Bukan Berarti Indonesia Bisa Terlindungi Sepenuhnya

Dari hasil awal uji coba tersebut, efektivitas vaksin dinyatakan mencapai 90 persen, jauh di atas syarat 50 persen yang ditetapkan WHO.

Tayang:
Editor: Rizali Posumah
Shutterstock
Ilustrasi vaksin corona. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Hasil uji coba terbaru perusahaan farmasi Pfizer, yang mengembangkan vaksin COVID-19, menunjukan kemajuan.

Mereka mengumumkan hasil awal uji coba pengembangan vaksin buatannya. 

Dari hasil awal uji coba tersebut, efektivitas vaksin dinyatakan mencapai 90 persen, jauh di atas syarat 50 persen yang ditetapkan WHO.

Analisis sementara yang dilakukan oleh pemantau independen sejauh ini mencatat ada 94 infeksi dalam uji coba yang dilakukan Pfizer dengan melibatkan hampir 44.000 orang di enam negara.

Meski proses uji coba belum selesai, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan vaksin COVID-19 buatan Pfizer ini 'paling menjanjikan'.

Banyak negara yang selama ini sangat mengharapkan vaksin COVID-19 bisa segera tersedia.

Di Indonesia, Pemerintah juga mengatakan vaksin adalah jawaban dalam pandemi COVID-19 dengan menyebutnya sebagai 'game changer'.

"Vaksin akan menjadi game changer dalam perang melawan pandemi. Kita perlu bekerja sama untuk memastikan semua negara memiliki akses setara terhadap vaksin yang aman dengan harga terjangkau," kata Jokowi dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, September lalu (23/09).

Pemerintah Indonesia mengklaim sudah mengamankan ratusan juta dosis vaksin, saat belum ada vaksin yang merampungkan masa uji coba dan dinyatakan berhasil oleh WHO.

Pemerintah juga sempat menyatakan juga menyatakan vaksin siap disuntikkan ke masyarakat pada November ini, meski kemudian Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Airlangga Hartanto, menyatakan pelaksanaan vaksinasi belum dapat dipastikan, karena menunggu izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Tren angka COVID-19 turun bukan berarti kondisi membaik

Dalam sebulan terakhir, tren angka kasus COVID-19, baik di Indonesia maupun di DKI Jakarta menurun.

Pada 8 Oktober, jumlah kasus positif memecahkan rekor tertinggi dengan 4.850 kasus, kemudian pada 2 November kasus baru tercatat sebanyak 2.618.

Namun, pakar kesehatan publik dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, mengatakan, tren angka COVID-19 yang menurun ini tidak berarti kondisi pandemi di Indonesia lebih baik.

"Tren penurunan belum berarti membaik, dan hanya bisa membaik kalau semua [faktor] bisa konsisten, terutama testing." kata Pandu dalam wawancara pandemictalks (07/11).

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved