76 Persen Guru Khawatir Sekolah Tatap Muka saat Pandemi
Koneksi internet menjadi hal yang sangat penting saat pandemi covid 19 seperti sekarang ini.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie Tombeg
"Sementara guru untuk anak berkebutuhan khusus cenderung memilih pembelajaran daring," ujar Mega.
Selain itu, hasil survei ini juga menemukan bahwa guru dalam mengatasi masalah dalam kegiatan belajar mengajar memilih berkonsultasi dengan teman sejawatnya di satu sekolah atau sekolah lain. Sementara guru di daerah 3T cenderung kurang memiliki akses ke komunitas guru di satuan pendidikan.
Terkait dengan kebutuhan pembelajaran yang efektif, dan pemanfaatan teknologi informasi, sebanyak 40 persen guru menyatakan butuh pelatihan. "Terkait TIK, 40 persen guru 3T dan guru yang usianya lebih tua butuh pelatihan dasar TIK," kata Mega.
Selain itu, guru di daerah 3T juga lebih membutuhkan kompetensi Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS) sebanyak 54 persen. Sementara 31 persennya membutuhkan kompetensi tentang kurikulum.
Baca juga: Chord Aku Milikmu Malam Ini - Pongki Barata, Kunci Gitar Dasar dari C Mudah
Bagi guru di wilayah non 3T, kompetensi psikosisial lebih dibutuhkan. Guru pendidikan khusus juga membutuhkan kompetensi psikologis untuk mempersiapkan peserta didik. Survei dilakukan kepada 27.046 guru dan tenaga kependidikan di 34 provinsi seluruh Indonesia. Survei dilakukan pada 18 Agustus hingga 5 September 2020.
Responden guru dari wilayah Non 3T 95 persen dan 3T 5 persen. Sebanyak 74 persen merupakan guru dari pendidikan umum, sementara 26 persen dari pendidikan khusus atau inklusi. Berdasarkan wilayah, 52 persen responden guru berasal dari daerah risiko penularan Covid-19 tinggi, dan sisanya dari wilayah Covid-19 dengan penularan rendah.
Wahana Visi Indonesia dan Kemendikbud juga melakukan diskusi kelompok terarah yang melibatkan 47 orang perwakilan asosiasi guru, serta guru dari wilayah 3T, SLB dan kepala sekolah.
Berdasarkan hasil survei juga 76 persen guru merasa khawatir untuk kembali mengajar di tengah pandemi Covid-19. "Pendapat guru terkait pembukaan sekolah, temuan utama 76 persen responden guru menyatakan bahwa sekolah kurang aman atau tidak bisa diprediksi.
Sementara 24 persen guru beropini akan aman dan kecil kemungkinan penyebaran virus," ujar Mega. Guru di daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T) cenderung menyatakan aman karena tingkat kasus Covid-19 di wilayah ini lebih sedikit. Selain itu, ada tren guru usia yang lebih tua lebih khawatir dengan penularan Covid-19 di sekolah.
"Jika dibandingkan dari gender, yang perempuan punya kekhawatiran yang lebih tinggi dibanding pria," kata Mega.
Guru pendidikan khusus inklusi lebih cenderung khawatir dibandingkan guru satuan pendidikan umum. Mega mengungkapkan hal-hal yang menjadi kekhawatiran guru adalah transmisi Covid-19. Para guru khawatir menulari siswa atau sebaliknya guru yang tertular dari siswa. Serta kekhawatiran keluarga siswa maupun guru yang tertular.
"Juga kekhawatiran tentang belajar mengajar yang tidak nyaman dan kurang efektif. Guru 3T juga lebih khawatir tentang pembelajaran dan Non 3T terkait masalah kesehatan," ucap Mega. (Tribun Network/fah/wly)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ilustrasi-mahasiswi-belajar-daring.jpg)