Berita Bolmong
Kisah Warga Berambut Merah dan Mata Coklat di Bolmong, Rambut Merah Ada di Mana - mana
Rambut merah membuat mereka nampak modis. Tapi banyak diantara mereka yang malah minder.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Indry Panigoro
Rasa perihnya bertubi tubi bilamana mereka hidup jauh di komunitasnya.
Seperti pengalaman
Sandi Pobela.
Nyaris saja ia hitam rambutnya karena tak tahan diledek.
"Saya sempat mau cat hitam," katanya.
Ia menuturkan ledekan terjadi hampir pada tiap periode hidupnya. Saat sekolah, ia sering disebut anak kompeni.
"Mereka sebut saya orang aneh," kata dia.
Di saat kuliah, gangguan datang dari dosennya.
Sang dosen menarik rambutnya keras keras.
"Ia tak percaya jika ini warna rambut asli, makanya dia tarik," kata dia.
Ia bercerita sedari kecil dirinya berambut merah.
Dia menduga itu bawaan dari kakeknya.
Sang adik, sebut dia, lebih aneh lagi. Rambutnya kuning.
Matanya seperti berkilat bila kena cahaya.
Sempat minder, kini ia lebih percaya diri. Dia menyadari keunikan itu sebagai berkat bukan kutukan.
"Saya kini lebih percaya diri," kata dia.
Rubinah Mokoginta, warga lainnya juga sempat tak percaya diri dengan rambut merahnya. Dia pun mengecat rambutnya. Keajaiban terjadi.
"Tak sampai beberapa jam kembali hitam," kata dia.
Tiga kali ia mencoba. Hasilnya sama saja. (art)
Kunjungi channel Youtube kami:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/kisah-rambut-merah-dan-mata-coklat-di-bolmong.jpg)