Rabu, 15 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sosialisasi Program PEN bagi UMKM, Arbonas Minta Perbankan Genjot Kredit Produktif

Sosialisasi yang melibatkan sedikitnya 100 pelaku UMKM di Manado dan sekitarnya ini diharapkan bisa mendorong perputaran ekonomi di tengah pandemi

Penulis: Fernando_Lumowa | Editor: Finneke Wolajan
Tribun Manado/Fernando Lumowa
Sosialisasi dan Konsultasi Program PEN bagi UMKM di Manado dan sekitarnya di Four Points by Sheraton Manado, Kamis (01/10/2020). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Arbonas Hutabarat meminta perbankan di Sulut menggenjot kredit produktif di tengah upaya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

"Tolong, bapak-bapak, ibu-ibu dari bank, paculah kredit produktif karena multiplier effect-nya besar di masyarakat. Kredit produktif mendorong putaran roda ekonomi," ujar Arbonas saat Sosialisasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) bagi UMKM di Manado di Ballroom Four Points by Sheraton Manado, Kamis (01/10/2020).

Katanya, di tengah tuntutan menggenjot angka kredit, perbankan juga wajib menjalankan prinsip kehati-hatian.

Artinya, selektif dalam memberikan pembiayaan sekaligus memberikan pendampingan kepada debiturnya.

"Kita berkaca dari pengalaman, banyak kredit produktif juga yang kurang maksimal karena berubah peruntukannya. Kredit yang harusnya memodali usaha, eh dibelikan mobil, handphone," katanya.

Menjadi tugas bank untuk memberi pendampingan sehingga permodalan yang diberikan berdaya guna. "Jangan melulu kredit konsumtif. Dampaknya kecil," katanya.

Sosialisasi yang melibatkan sedikitnya 100 pelaku UMKM di Manado dan sekitarnya ini diharapkan bisa mendorong perputaran ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Pasalnya, perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19 juga berdampak pada UMKM.

Sebagian besar UMKM mengalami penurunan pendapatan. Bahkan tak sedikit yang melakukan pengalihan produksi atau jenis usaha.

Dari sisi perbankan, penurunan kinerja UMKM  berpotensi mengganggu likuiditas dan meningkatkan risiko terjadinya penundaan pembayaran bahkan gagal bayar.

Pertumbuhan kredit UMKM pada bulan Agustus 2020 tercatat terkontraksi 4,55 persen (yoy) dan melambat dibandingkan bulan sebelumnya.

Selain itu, hingga Juli 2020 kualitas kredit UMKM belum mengalami perbaikan. Rasio Non-Performing Loan (NPL) Kredit UMKM pada Agustus 2020 mengalami peningkatan dengan tingkat rasio NPL sebesar 6,80 persen.

Pemerintah sendiri telah menggelontorkan dana besar untuk PEN senilai Rp 695,2 triliun dengan alokasi kepada  UMKM sebesar Rp 123,46 Triliun.

Alokasi tersebut antara lain disalurkan dalam bentuk subsidi bunga, penempatan dana untuk restrukturisasi kredit, penjaminan modal kerja, dan relaksasi PPh Final bagi UMKM.

BI sendiri telah menempuh kebijakan untuk menjaga  likuiditas perbankan dan menurunkan suku bunga (BI 7 days  Reverse Repo Rate).

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved