Selasa, 21 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Jokowi Khawatir Dunia Goyah Gara-gara Covid-19

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung kemerdekaan Palestina dalam pidato perdananya di Sidang Majelis Umum.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie Tombeg
dok Kementerian Luar Negeri
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pidato perdananya dalam Sidang Majelis Umum (SMU) ke 75 PBB secara virtual. Rabu, (23/9/2020) 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung kemerdekaan Palestina dalam pidato perdananya di Sidang Majelis Umum Ke-75 PBB, pada Rabu (23/9) yang disampaikan secara virtual.

Sah! Tukang Jahit Vs Anak Presiden di Pilkada Solo

Dalam pidato awalnya presiden menyampaikan tekad Indonesia, terus berkontribusi dalam perdamaian dunia. Sesuai amanah konstitusi, menurut Jokowi, Indonesia akan berperan sebagai bridge builder atau bagian dari solusi.

"Secara konsisten, komitmen ini terus dijalankan Indonesia, termasuk saat Indonesia duduk sebagai anggota Dewan Keamanan PBB. Spirit kerja sama akan selalu dikedepankan Indonesia, spirit yang menguntungkan semua pihak tanpa meninggalkan satu negara pun. No one, no country should be left behind, " katanya.

Sikap persamaan derajat tersebut kata Jokowi yang selalu ditekankan oleh Bapak Bangsa Indonesia Soekarno (Bung Karno) saat Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955 silam, yang menghasilkan Dasa Sila Bandung.Hingga kini prinsip Dasa Sila Bandung masih sangat relevan termasuk penyelesaian perselisihan secara damai pemajuan kerja sama dan penghormatan terhadap hukum internasional.

"Palestina adalah satu-satunya negara yang hadir di Konperensi Bandung yang sampai sekarang belum menikmati kemerdekaannya. Indonesia terus konsisten memberikan dukungan bagi Palestina untuk mendapatkan hak-haknya," katanya.

Dalam kesempatan itu, presiden juga mendorong PBB untuk memperkuat kerjasama dalam Penanganan Covid-19. Termasuk, meminta kepada lembaga dunia tersebut senantiasa berbenah diri, melakukan reformasi, revitalisasi, dan efisiensi.Menurutnya, PBB harus dapat membuktikan bahwa multilateralisme itu menghasilkan, termasuk pada saat terjadinya krisis.

"PBB harus lebih responsif dan efektif dalam menyelesaikan berbagai tantangan global. Dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk terus memperkuat PBB agar PBB tetap relevan dan semakin kontributif, sejalan dengan tantangan zaman," kata Presiden.

"PBB bukanlah sekadar sebuah gedung di kota New York, tapi sebuah cita-cita dan komitmen bersama seluruh bangsa untuk mencapai perdamaian dunia dan kesejahteraan bagi generasi penerus. Indonesia memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan terhadap PBB dan multilateralisme. Multilateralisme adalah satu-satunya jalan yang dapat memberikan kesetaraan," tambahnya.

Sevilla vs Bayern Muenchen: Penyempurna Gelar Juara

Presiden mendorong agar kepemimpinan global kolektif diperkuat. Dalam hubungan antarnegara dan internasional, setiap negara selalu memperjuangkan kepentingan nasionalnya.Presiden Jokowi mengingatkan, semua negara memiliki tanggung jawab  berkontribusi menjadi bagian dari solusi bagi perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan dunia.

"Di sinilah dituntut peran PBB untuk memperkokoh ''collective global leadership''. Dunia membutuhkan spirit kolaborasi dan kepemimpinan global yang lebih kuat untuk mewujudkan dunia yang lebih baik," ujarnya.

Terkait kerja sama dalam penanganan Covid-19 presiden berharap diperkuat, baik dari sisi kesehatan maupun dampak sosial ekonominya. Menurutnya, vaksin akan menjadi ''game changer'' dalam perang melawan pandemi. "Kita harus bekerja sama untuk memastikan  semua negara mendapatkan akses setara terhadap vaksin yang aman dan dengan harga terjangkau.  Tata kelola ketahanan kesehatan dunia harus lebih diperkuat. Ketahanan kesehatan dunia yang berbasis pada ketahanan kesehatan nasional akan menjadi penentu masa depan dunia," paparnya.

Presiden prihatin mengenai  pandemi Covid-19 yang hampir terjadi di seluruh negara.Di tengah terjangan badai corona, konflik, rivalitas antarnegara justru menajam.  Negara-negara seharusnya bersatu padu dalam menghadapi Pandemi Covid-19.   Menggunakan pendekatan win-win, pola hubungan antar negara yang saling menguntungkan.

"Dampak pandemi ini luar biasa, baik dari sisi kesehatan, maupun sosial ekonomi, katanya. Kita juga paham virus ini tidak mengenal batas negara. No one is safe until everyone is. Jika perpecahan dan rivalitas terus terjadi, maka saya khawatir pijakan bagi stabilitas dan perdamaian yang lestari akan goyah atau bahkan akan sirna. Dunia yang damai, stabil dan sejahtera semakin sulit diwujudkan," pungkasnya.

"Kita harus bekerja sama untuk memastikan bahwa semua negara mendapatkan akses setara terhadap vaksin yang aman dan dengan harga terjangkau," ujarnya.

Sebelumnya, dalam forum yang sama, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyalahkan China atas penyebaran virus corona."Kita harus meminta pertanggungjawaban negara yang melepaskan wabah ini ke dunia - China," cetus Trump.

Sulut Ketambahan Enam Kasus Baru Covid-19, Dua di Antaranya dari Bolmut

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved