Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pencegahan Virus Corona

Ternyata Ini Cara Paling Efektif Cegah Covid-19 Menurut Epidemiolog Pandu Riono, Singgung Program KB

Pandu meminta pemerintah serius mengampanyekan pemakaian masker dan jaga jarak untuk mencegah penyebaran Covid-19

Kompas TV
Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono dalam kanal YouTube Kompas TV, Kamis (28/5/2020). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Selama ini ternyata kita sudah melakukan usaha pencegahan virus corona yang paling efektif

Cara paling efektif itu menurut Epidemiolog Universitas Indonesia (UI ) Pandu Riono adalah menggunakan masker

Pandu Riono kemudian menyinggung usaha pemerintah Indonesia saat ini. 

Namun kemudian dia memberikan usulan masukkan untuk pemerintah. 

Kasus Kebakaran Gedung Kejagung Masuk Tahap Penyidikan, Komjen Listyo Sebut Diduga Karena Open Flame

Menurut Pakar, Ini Yang Harus Dilakukan Agar Bisa Melewati Pandemi dengan Selamat

Dia menilai pemerintah tidak memiliki rencana jangka panjang dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Menurutnya, pemerintah tidak memiliki capaian untuk mengubah perilaku masyarakat dalam menghindari penyebaran Covid-19.

"Indonesia dalam menghadapi pandemi enggak punya rencana jangka panjang."

"Tidak punya plan, apa yang akan dilakukan."

"Tidak punya target, tidak punya objektif, termasuk untuk mengubah perilaku itu enggak ada rencana," kata Pandu dalam webinar yang digelar Iluni UI, Sabtu (19/9/2020).

Menurut Pandu, seharusnya pemerintah membuat perencanaan kampanye publik untuk mengubah perilaku masyarakat.

Pandu menilai pemerintah harusnya belajar dari kampanye Program Keluarga Berencana soal tagline 'Dua Anak Cukup.'

Menurut Pandu, kampanye ini berhasil mengubah perilaku masyarakat untuk memakai KB.

"Padahal di kita sudah pernah berhasil melakukan kampanye publik, komunikasi publik perubahan perilaku adalah 'Dua Anak Cukup'."

"Dari negara yang tadinya punya kepercayaan banyak anak, banyak rezeki."

"Ternyata sebagian penduduk akhirnya percaya dua anak cukup," beber Pandu.

Dirinya menilai sebaiknya pemerintah belajar dari kampanye publik tersebut.

Kampanye mengenai 'Dua Anak Cukup' menurutnya sangat sukses mengubah perilaku masyarakat.

"Itu kampanye publik yang luar biasa sukses di Indonesia, dan kita ndak belajar dari situ."

"Seakan-akan sukses itu jadi hilang, padahal orang-orangnya masih ada."

"Prinsip-prinsipnya akan sama walaupun akan lebih cepat harus dilakukan, dan lebih strategis." tuturnya.

Pandu meminta pemerintah serius mengampanyekan pemakaian masker dan jaga jarak untuk mencegah penyebaran Covid-19, dibandingkan mengumumkan soal vaksin yang efektivitasnya belum dapat dipastikan.

Saat ini, menurut Pandu, cara paling efektif mencegah Covid-19 adalah mengenakan masker.

"Akhirnya saya mengomunikasikan bahwa pakai masker adalah vaksin yang terbaik yang ada sekarang."

"Jangan nunggu vaksin yang belum jelas. Efek sampingnya, belum tentu sangat efektif," ucap Pandu.

Menurut Pandu, pemakaian masker dapat meminimalisir penyebaran Covid-19 secara maksimal.

Sedangkan vaksin, kemungkinan hanya memiliki efektivitas sebanyak 60 persen.

Sebelumnya, epidemiolog Universitas Indonesia (UI ) Pandu Riono menilai pemerintah tidak berupaya mengampanyekan pencegahan penyebaran Covid-19.

Padahal, menurut Pandu, kunci pencegahan penyebaran Covid-19 adalah dengan memakai masker dan menjaga jarak.

Kedua perilaku tersebut, menurut Pandu, yang harus dikampanyekan secara intensif kepada masyarakat.

"Perilaku penduduk jadi penting. Perilakunya akhirnya tidak ada komunikasi, tidak ada upaya untuk melakukan kampanye publik."

"Dan akhirnya ditengarai untuk melakukan kampanye pakai masker, menjaga jarak terpisah tadi."

"Padahal ini satu paket. Memang intinya adalah masker," ujar Pandu dalam webinar yang digelar Iluni UI, Sabtu (19/9/2020).

Alih-alih mengampanyekan untuk memakai masker dan menjaga jarak, Pandu menilai pemerintah malah gencar menginformasikan soal vaksin.

Menurut Pandu, pemerintah seakan menjadikan vaksin sebagai solusi dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Padahal menurut Pandu, kehadiran vaksin tidak serta merta menjadi solusi.

"Waktu sekarang dinarasikan bahwa kita akan menghadapi masalah pandemi ini tidak akan sulit hanya akan ada vaksin."

"Ini juga salah. Vaksin itu bukan solusi," tegas Pandu.

Pandu menjelaskan, vaksin tidak selalu menjadi solusi karena hingga saat ini belum ditemukan.

Jika telah ditemukan, Pandu mengatakan kemungkinan vaksin itu dipaksakan ada.

Efektivitas dari vaksin tersebut belum dapat dipastikan. Selain itu, ada efek samping dari vaksin.

"Orang belum ada, mungkin vaksin itu dipaksakan ada. Dipaksakan ada, mungkin efektivitasnya 50 persen sudah dipakai begitu," tutur Pandu.

Menurut Pandu, seharusnya pemerintah dapat mengampanyekan gerakan memakai masker dibanding memberikan harapan kepada masyarakat mengenai vaksin.

Pandu juga menyebut bahwa pemerintah harusnya belajar dari kampanye Program Keluarga Berencana soal tagline 'Dua Anak Cukup.'

Menurut Pandu, kampanye ini berhasil mengubah perilaku masyarakat untuk memakai KB.

"Ini menurut saya, sehingga narasinya adalah mengandalkan solusi ajaib vaksin akan menyelesaikan masalah."

"Iya kan? Jadi saya juga mikir bagaimana kok narasinya vaksin menyelesaikan masalah," cetus Pandu. (Fahdi Fahlevi)

Yang Harus Dilakukan agar Bisa Lewati Pandemi dengan Selamat

Dunia dilanda COVID 19 sejak sembilan bulan lalu.

Berbagai strategi secara global telah dilakukan. Indonesia pun demikian.

Indonesia berusaha melakukan strategi dari sisi kesehatan publik selama ini, yakni dengan melandaikan kurva kejadian atau flattening the curve.

Pakar epidemiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, dr Riris Andono Ahmad menerangkan, dengan intervensi melandaikan kurva tersebut, kita berusaha mencegah terjadinya herd immunity (kekebalan kawanan) secara cepat, tetapi konsekuensinya juga memperpanjang durasi pandemi.

“Karena angka kecepatan transmisinya semakin rendah dan prevalensi COVID-19-nya semakin lama. Nah, ini adalah pilihan yang harus kita buat. Kita harus mencapai interval untuk bisa menyebabkan kematian yang paling kecil, entah karena COVID-19-nya atau karena dampak dari social distancing kita,” jelas Andono dalam Webinar Kuliah Perdana IKM FK-KMK UGM belum lama ini.

Ia melanjutkan, sebagai contoh, jika kita melakukan social distancing bahkan sampai dengan lockdown, ada simulasi modelling yang pernah dilakukan Johns Hopkins bersama Unicef yang mengatakan dampak dari kematian akibat lockdown di negara berkembang jauh lebih tinggi dibanding dampak kematian karena COVID-19.

“Karena kematian ibu hamil maupun anak itu terjadi ketika mereka tidak punya akses ke layanan kesehatan,” imbuh Direktur Pusat Kedokteran Tropis FK-KMK UGM ini.

Andono menambahkan, beberapa waktu lalu WHO (organisasi kesehatan dunia) mengatakan pandemi bisa terjadi hingga 5 tahun ke depan.

Menurutnya, hal ini menjadi alasan kita harus melaksanakan kebiasaan baru.

“Karena kita perlu melakukan flattening the curve itu cukup lama, kita perlu mencari cara agar bisa hidup di dalam dunia tersebut. Yang harus dilakukan, kita harus memiliki pemikiran yang sangat berbeda sama sekali,” bebernya.

Andono pun menyoroti adaptasi kebiasaan baru yang perlu dilakukan pada beberapa level. Di tingkat pemerintah, perlu menyiapkan regulasi, bahkan RPJMN dan Nawacita menurutnya perlu diubah sebab selama ini belum memuat strategi di masa pandemi.

Selain itu, pemerintah perlu melakukan building trust, safety net, law enforcement, mengubah respon bencana menjadi respon problematik, mengatur intensitas status social distancing, dan peningkatan kapasitas surveillans.

“Surveillans ini salah satu cara paling terdepan untuk mendeteksi kasus dan memutus rantai penularan,” tambahnya.

Di sektor bisnis, perlu dilakukan pengembangan protokol, training, implementasi sertifikasi, serta perlu ada pihak yang selalu memonitor implementasi tersebut.

Sementara, di level masyarakat, COVID-19 benar-benar mengubah nilai sosial yang ada.

“Masyarakat Indonesia adalah masyarakat komunal yang suka berkumpul. COVID-19 menyebabkan nilai sosial tercerabut dari akarnya. Kita perlu menciptakan nilai sosial baru bagaimana bisa menggerakkan masyarakat, menjaga social capital dan kohesi sosial, juga surveillans,” tandasnya.

Sedangkan, di level individu, perlu ada perubahan perilaku berbasis risiko, sebab individu sebagai risk bearer. “Di UGM kami mencoba mengintervensi masyarakat dan individu dengan membuat guideline yang bisa masuk sampai level keluarga,” papar Andono.

Di sisi lain, pengendalian COVID-19 di Indonesia selama ini, kata dia, juga menghadapi banyak tantangan. Semisal, informasi yang tidak koheren, ketidakpastian situasi, ketidakkonsistenan intervensi, dan demokratisasi penanganan pandemi yang kerap memunculkan politisasi.

“Pandemi akan berlangsung cukup lama, adaptasi diperlukan untuk bisa melewati masa pandemi dengan selamat. Sementara, tantangan akan memengaruhi proses adaptasi dan memperburuk situasi pandemi,” pungkasnya.(*)

Artikel ini telah tayang di:

Tribunjogja.com dengan judul Pakar Epidemiologi UGM : Pandemi Bisa Berlangsung 5 Tahun Ke Depan!

Wartakotalive dengan judul Epidemiolog UI: Pakai Masker Adalah Vaksin Covid-19 Terbaik

Subscribe YouTube Channel Tribun Manado:

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved