Kamis, 7 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Jakob Oetama

Sosok Jakob Oetama, Ajarkan Sikap Rendah Hati kepada Seluruh Orang Terdekat

Jakob Oetama, seorang pendiri Kompas, meninggal dunia, Rabu (09/90/2020).

Tayang:
Editor: Alexander Pattyranie
ARSIP KOMPAS
Foto pendiri harian Kompas Jakob Oetama dan PK Ojong; J Adisubrata, Pemimpin Redaksi Majalah Intisari, dan Irawati saat masih di Jalan Pintu Besar Selatan 86-88 Jakarta Kota, sebelum tahun 1969. 

TRIBUNMANADO.OC.ID, JAKARTA - Jakob Oetama, pendiri Kompas, meninggal dunia, Rabu (09/90/2020).

Jakob Oetama, dikenal memiliki sikap rendah hati yang menjadi ciri khas sepanjang hidupnya.

Dia mewariskan kerendahhatian itu kepada rekan kerja, kerabat, serta generasi selanjutnya.

BACA JUGA :

 Istri Ngamuk Bawah Teman-temannya Keroyok Selingkuhan Suaminya di Tengah Jalan hingga Pincang

 Akhirnya, Pencairan BLT Karyawan Rp 600 Ribu Tahap 3, Menaker: Lebih Banyak dari Tahap Satu dan Dua

 Perseteruan Arab-Israel, Kisah Perang pada 1948, Strategi Jitu Membuat Bangsa Yahudi Menang

TONTON JUGA :

Sejumlah pernyataan kerabat turut mendokumentasikan kerendahhatian itu. P Swantoro, misalnya,

menyebut Jakob memiliki kesabaran dan sikap kebapakan yang menyelip dalam keahlian profesional.

Dalam Syukur Tiada Akhir (2015), dia menyebut Jakob bukanlah sosok pemimpin yang sewenang-wenang.

Dia terbuka terhadap masukan dari anak buahnya.

”Saya bisa bertahun-tahun menjadi pendampingnya, justru betah karena sikapnya yang tidak bossy.

Ada kesabaran dan sifat kebapakan darinya meski kadang-kadang pun disalahgunakan oleh

anak buah,” kata P Swantoro dalam buku tersebut.

Frans Seda dalam Kompas, dari Belakang ke Depan (2007) juga mengenali sosok Jakob sebagai seorang yang pemalu.

Kesempatan dan ketekunan yang membuat Jakob menjadi pengusaha sukses. Meski demikian, Jakob tidak keblinger 

dalam kesuksesannya. Jakob tetap setia dan terus mengembangkan profesinya sebagai wartawan.

Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama
Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama (KOMPAS/DANU KUSWORO)

Sejumlah rekan sejawat juga mengapresiasi kerendahhatian dalam profesi Jakob Oetama. Wartawan senior Rosihan Anwar,

dalam Semua Berawal dengan Keteladanan (2007), menyebut sosok Jakob adalah seorang pendekar pers Indonesia yang

cukup tangguh walau sering tampil merendah.

”Jakob Oetama kurang begitu senang disebut Raja Pers, Baron Pers, Rupert Murdoch-nya Indonesia,

dan lain-lain sebutan. Saya tidak bermaksud melebih-lebihkan dalam memuji Jakob.

Tetapi, sebagai wartawan, he is great,” ucap Rosihan dalam kesempatan ulang tahun Jakob yang ke-70.

St Sularto dalam Bersyukur dan Menggugat Diri (2009) memandang kerendahhatian Jakob juga tertuang saat

bersama rekan pendiri, PK Ojong. Dalam sebuah kesempatan, Jakob pernah mengucapkan, ”Sebagai seorang

yunior, saya belajar juga kepada Ojong, bukan dalam visi pandangan kemasyarakatan dan pola jurnalisme,

tetapi lebih pada teknik.” Sepeninggal PK Ojong pada 1980, Jakob yang banyak berkutat di redaksi kemudian

turut mengatasi bagian manajemen.

Humanisme

Sosok Jakob Oetama yang rendah hati memiliki keprihatinan akan berbagai permasalahan bangsa.

Sindhunata, budayawan dan mantan wartawan Kompas, menyelisik empat pokok keprihatinan bangsa dari Jakob.

Keempat hal ini selalu ditekankannya dalam ulasan surat kabar harian Kompas.

DIDIE SW
DIDIE SW 

Pertama, yakni keprihatinan pada pendidikan. Kedua, yaitu obsesi Jakob tentang memberikan pencerahan kepada publik.

Ketiga, keprihatinannya terhadap berbagai peristiwa sebagai momen sejarah.

Keempat, harapan agar wartawan Kompas tidak kering akan kekayaan hati.

Akademisi dan Ketua Tidar Heritage Foundation, Komaruddin Hidayat, agaknya sependapat dengan poin itu.

Dalam  sebuah diskusi tentang buku Jakob Oetama di Bentara Budaya Jakarta, 13 November 2001, Komaruddin mengunjuk

pada keprihatinan Jakob tentang nasib demokrasi, integrasi bangsa kemajuan, pemerataan ekonomi, dan moralitas politik.

Jakob dalam Kompas Dari Belakang ke Depan (2007) menyebutkan, pandangan, sikap hidup, dan orientasi

nilai Kompas adalah paham kemanusiaan yang beriman, yang percaya pada nilai abadi dan kemanusiaan.

Prinsip itu sejalan dengan kalimat berbahasa Perancis yang kerap dikutipnya, un journal c’est un monsieur.

Artinya, surat kabar bersosok, berpribadi, justru karena memiliki pandangan hidup yang transenden

serta pandangan hidup yang bermasyarakat.

Selama berpuluh tahun, Kompas telah berkembang dan juga berubah, mulai dari ukuran, warna, serta makin sering

menampilkan visualisasi. Meski begitu, Jakob tetap menjanjikan bahwa isi Kompas masih akan tetap menempati posisi ”raja”.

Dengan demikian, koran akan tetap menyajikan isi yang dapat dipercaya, isi yang diramu dengan serba dimensi, pergulatan,

dan ekstase kemanusiaan.

Pemimpin Redaksi Kompas Jakob Oetama (baju putih) dalam kesempatan HUT Kompas di halaman Percetakan Gramedia, Palmerah Selatan 26-28, Jakarta pada 29 Juni 1974
Pemimpin Redaksi Kompas Jakob Oetama (baju putih) dalam kesempatan HUT Kompas di halaman Percetakan Gramedia, Palmerah Selatan 26-28, Jakarta pada 29 Juni 1974 (KOMPAS/DJ PAMOEDJI)

Wartawan Kompas, Budiman Tanuredjo, dalam Syukur Tiada Akhir (2015), mengatakan, Pak Jakob berkeyakinan bangsa

Indonesia adalah bangsa besar yang tentunya bisa menang dalam pertarungan antarbangsa.

Jakob juga selalu mengajarkan wartawan Kompas agar terus belajar dan bekerja dengan totalitas.

(Kompas.id/ADITYA DIVERANTA)

BACA JUGA :

 Istri Ngamuk Bawah Teman-temannya Keroyok Selingkuhan Suaminya di Tengah Jalan hingga Pincang

 Akhirnya, Pencairan BLT Karyawan Rp 600 Ribu Tahap 3, Menaker: Lebih Banyak dari Tahap Satu dan Dua

 Perseteruan Arab-Israel, Kisah Perang pada 1948, Strategi Jitu Membuat Bangsa Yahudi Menang

TONTON JUGA :

Artikel ini telah tayang di Kompas.id dengan judul Jakob Oetama Mewariskan Kerendahhatian untuk Generasi Selanjutnya

https://www.kompas.id/baca/dikbud/2020/09/09/jakob-oetama-mewariskan-kerendahhatian-untuk-generasi-selanjutnya

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved