Peduli Sesama
Kisah Cinta Pemuda Sangihe Untuk Korban Bencana Bolmong Bolsel
Tak mudah mencari dana. Apalagi di masa covid, di mana ekonomi mandek. Namun cinta pada kemanusiaan membuat mereka tabah menjalani.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
TRIBUNMANADO.CO.ID - Cinta tak hanya sebatas kata - kata. Harus dibuktikan dengan perbuatan.
Perasaan inilah yang menuntun Ravel Pulumbara dan sebelas kawannya yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pemuda Sangihe (AMPS) melakukan aksi kemanusiaan untuk korban bencana Bolmong dan Bolsel.
Dari Sangihe yang terpisah lautan bermil - mil panjangnya, mereka melakukan penggalangan dana.
Bantuan itu lantas dibawa ke Bolmong.
Para mahasiswa mengarungi lautan dengan kapal menuju Manado.
Menempuh perjalanan ratusan kilometer menuju lokasi bencana.
Sebuah perjalanan yang maha sulit. Apalagi bagi mereka yang tidak terbiasa naik kapal, tidak terbiasa pula menempuh perjalanan dengan mobil selama belasan jam.
"Memang berat, tapi faktor pendorong kami adalah rasa kemanusiaan. Itu mengatasi segalanya. Tak cukup dengan prihatin. Harus ada tindakan nyata," kata dia.
Sebutnya, kedua belas mahasiswa langsung memutuskan turun ke jalan saat mendengar bencana besar di Bolmong dan Bolsel.
Pencarian dana dilakukan setiap hari.
"Berminggu - minggu lamanya kami mencari dana," kata dia.
Tak mudah mencari dana. Apalagi di masa covid, di mana ekonomi mandek.
Namun cinta pada kemanusiaan membuat mereka tabah menjalani.
Dikit-dikit lama lama jadi bukit. Akhirnya uang puluhan juta terkumpul.
Mereka lantas ke Manado. Beli bahan disana.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/aliansi-mahasiswa-pemuda-sangihe-amps.jpg)