Rabu, 6 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Jacob Oetama

Jakob Oetama, Sosok Sederhana yang Mengutamakan Kejujuran, Integritas, Rasa Syukur, dan Humanisme

Almarhum tutup usia yang ke 88 dengan tenang di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading pada pukul13:05 WIB.

Tayang:
Editor: Rizali Posumah
KOMPAS
Jacob Oetama, pendiri Kompas Gramedia. Sosok yang dikenal sederhana dan mengutamakan kejujuran serta integritas. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Rabu 9 September 2020, pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas, Jakob Oetama meninggal dunia.

Almarhum tutup usia yang ke 88 dengan tenang di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading pada pukul13:05 WIB.

Jakob Oetama adalah jurnalis senior dan tokoh pers nasional.

Ia lahir pada 27 September 1931 di Desa Jowahan, Borobudur,  JawaTengah.

Saat belia cita-citanya adalah menjadi guru seperti ayahnya. Ia sempat mengajar di SMP Mardi Yuwana Cipanas,  Sekolah Guru  Bagian B (SGB) Lenteng Agung Jagakarsa, dan SMP Van Lith Jakarta.

Minatnya menulis tumbuh berkat belajar Ilmu Sejarah. Karier Jakob Oetama di dunia jurnalistik bermula dari pekerjaan barunya sebagai redaktur majalah Penabur Jakarta.

Pada 1963, bersama rekan terbaiknya, Almarhum Petrus Kanisius Ojong (P.K.  Ojong), Jakob  Oetama menerbitkan  majalah Intisari yang  menjadi  cikal-bakal Kompas Gramedia.

Kepekaannya  pada  masalah  manusia  dan  kemanusiaanlah  yang  kemudian  menjadi spiritualitas Harian Kompas, yang terbit pertama kali pada 1965. Hingga lebih dari setengah abad kemudian Kompas Gramedia berkembang menjadi  bisnis multi-industri, Jakob  Oetama tidak pernah melepas identitas dirinya sebagai seorang wartawan.

Foto Jacob Oetama sewaktu muda.
Foto Jacob Oetama sewaktu muda. (NET/Kolase)

Baginya, “Wartawan adalah Profesi, tetapi Pengusaha karena Keberuntungan.”

Semasa hidup, Jakob Oetama dikenal sebagai sosok sederhana yang selalu mengutamakan kejujuran, integritas,  rasa  syukur,  dan  humanisme

Di  mata  karyawan,  ia  dipandang  sebagai pimpinan yang ‘nguwongke’ dan tidak pernah menonjolkan status atau kedudukannya.

Almarhum berpegang  teguh  pada  nilai  Humanisme  Transendental  yang  ditanamkannya  sebagai  fondasi Kompas Gramedia. Idealisme dan falsafah hidupnya telah diterapkan dalam setiap sayap bisnis Kompas Gramedia yang mengarah pada satu tujuan utama, yaitu mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia.

“Jakob  Oetama adalah  legenda,  jurnalis  sejati  yang  tidak  hanya  meninggalkan  nama  baik, tetapi  juga  kebanggaan  serta  nilai-nilai  kehidupan  bagi  Kompas  Gramedia.  Beliau  sekaligus teladan  dalam  profesi  wartawan  yang  turut  mengukir  sejarah  jurnalistik  bangsa  Indonesia. Walaupun kini beliau telah tiada, nilai dan idealismenya akan tetap hidup dan abadi selamanya,” kata Corporate Communication Director Kompas Gramedia Rusdi Amral dalam siaran pers, Rabu (9/9).

"Keberhasilan tidak diukur ketika para pendiri dan penerusnya masih ada, tetapi menjadi tantangan besar terus dihidupi cita-cita besar itu tanpa meninggalkan kekhasan perkembangan zaman sedemikian hebat yang niscaya dihadapi oleh para penerusnya,” salah satu kutipan terkenal dari Jakob Oetama.

Tentang Jakob Oetama

Pemimpin Umum Kompas, Jakob Oetama, menyampaikan pidato sambutan dalam Syukuran Kompas Gramedia 2012 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (1/2/2012). Syukuran Kompas Gramedia dimeriahkan penampilan reuni Srimulat dengan beberapa personil Srimulat seperti Tarzan, Mamiek, Nunung, Polo, Kadir, Tessy, Gogon, dan Jujuk.()
Pemimpin Umum Kompas, Jakob Oetama, menyampaikan pidato sambutan dalam Syukuran Kompas Gramedia 2012 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (1/2/2012). Syukuran Kompas Gramedia dimeriahkan penampilan reuni Srimulat dengan beberapa personil Srimulat seperti Tarzan, Mamiek, Nunung, Polo, Kadir, Tessy, Gogon, dan Jujuk.() (RADITYA HELABUMI)
Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved