Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Update Virus Corona Dunia

Sebut Virus Corona akan Selamanya Bersama Kita, SAGE Inggris: 'Butuh Vaksinasi Berulang'

Mengutip BBC, komentarnya muncul setelah kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan dia berharap pandemi akan berakhir dalam dua tahun.

Editor:
dailymail/EPA
Sebuah mikrograf elektron pemindaian berwarna dari sel apoptosis (merah) yang sangat terinfeksi partikel virus Virus Corona (SARS-COV-2, warba kuning), diisolasi dari sampel pasien. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sejak mewabah di Wuhan China, hingga saat ini virus corona atau covidi-19 terus menyebar ke belahan dunia.

Bahkan, virus yang menjadi pandemi ini dikabarkan terus memakan korban seiring berjalannya waktu.

Baru-baru ini, Anggota Scientific Advisory Group for Emergencies (Sage) pemerintah Inggris Sir Mark Walport mengatakan Covid-19 akan selamanya bersama kita.

Mengutip BBC, komentarnya muncul setelah kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan dia berharap pandemi akan berakhir dalam dua tahun.

Sir Mark mengatakan populasi dan perjalanan yang lebih padat mengakibatkan virus menyebar dengan mudah.

Dia juga mengatakan populasi dunia sekarang jauh lebih besar daripada tahun 1918 saat flu Spanyol merebak.

Empat negara di Asia Tenggara melaporkan mutasi virus corona baru yang lebih menular dari yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, China.
Empat negara di Asia Tenggara melaporkan mutasi virus corona baru yang lebih menular dari yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, China. (TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA)

Ilustrasi virus corona - Ilmuwan Sage: Virus Corona akan Selamanya Bersama Kita (Pixabay/Tumisu)
Berbicara kepada program Today Radio 4 BBC, Sir Mark mengatakan bahwa, untuk mengendalikan pandemi diperlukan "vaksinasi global".

Tetapi virus corona tidak akan menjadi penyakit seperti cacar yang "dapat diberantas dengan vaksinasi", katanya.

"Ini adalah virus yang akan bersama kita selamanya dalam beberapa bentuk atau lainnya, dan hampir pasti akan membutuhkan vaksinasi berulang," ungkap Sir Mark.

"Jadi, seperti flu, orang perlu vaksinasi ulang secara berkala," ungkapnya.

Tedros Adhanom Ghebreyesus, Kepala WHO, mengatakan bahwa flu Spanyol tahun 1918 membutuhkan waktu dua tahun untuk diatasi.

Namun, dengan kemajuan teknologi dapat memungkinkan dunia untuk menghentikan virus corona "dalam waktu yang lebih singkat".

Petugas kesehatan dari layanan tanggap darurat medis membawa Eladio Lopes Brasil (79), yang terinfeksi virus corona baru, dengan tandu yang akan dipindahkan dengan kapal ambulans dari komunitas Portel ke rumah sakit di Breves, di pulau Marajo, negara bagian Para, Brasil, pada 25 Mei 2020. Layanan kapal ambulan memungkinkan pasien COVID-19 yang kritis dipindahkan di daerah yang sangat terpencil yang dikelilingi oleh air di Brasil.
Petugas kesehatan dari layanan tanggap darurat medis membawa Eladio Lopes Brasil (79), yang terinfeksi virus corona baru, dengan tandu yang akan dipindahkan dengan kapal ambulans dari komunitas Portel ke rumah sakit di Breves, di pulau Marajo, negara bagian Para, Brasil, pada 25 Mei 2020. Layanan kapal ambulan memungkinkan pasien COVID-19 yang kritis dipindahkan di daerah yang sangat terpencil yang dikelilingi oleh air di Brasil. ((TARSO SARRAF / AFP))

Perbandingan Korban Jiwa

Untuk dicatat, flu tahun 1918 menewaskan sedikitnya 50 juta orang.

Virus corona sejauh ini telah menewaskan 800.000 orang.

Hampir 23 juta infeksi telah dicatat, tetapi jumlah orang yang benar-benar terinfeksi virus diperkirakan jauh lebih tinggi karena pengujian yang tidak memadai dan kasus tanpa gejala.

Sir Mark memperingatkan bahwa "kemungkinan" virus korona akan "di luar kendali" lagi.

Tetapi mengatakan tindakan yang lebih bertarget sekarang dapat digunakan daripada penguncian umum.

Secara terpisah, kasus virus corona telah meningkat di negara-negara Eropa dalam beberapa pekan terakhir.

Beberapa negara, yang tampaknya berhasil menekan wabah awal, kini mengalami peningkatan infeksi lagi.

Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa, per 22 Agustus, Inggris mencatat 21,5 kasus virus korona per 100.000 orang selama dua minggu terakhir.

"Kami tahu bahwa kurang dari satu dari lima orang di seluruh negeri telah terinfeksi, jadi 80% populasi masih rentan terhadap virus ini," kata Sir Mark.

"Ini adalah keseimbangan yang mengerikan antara mencoba meminimalkan bahaya bagi orang-orang dari infeksi dan melindungi orang, sambil menjaga agar masyarakat tetap berjalan," tambahnya.

Dia mengatakan dia khawatir dengan peningkatan jumlah kasus di Eropa dan bagian lain dunia.

Wisatawan Pulang ke Negaranya Wajib Karantina 14 Hari

Sementara itu, turis yang kembali ke Inggris menghabiskan puluhan juta rupiah untuk mengatur penerbangan baru dalam perlombaan untuk pulang sebelum aturan perjalanan baru diberlakukan.

Mulai pukul 04:00 BST pada Sabtu, wisatawan yang kembali dari Kroasia, Austria, dan Trinidad dan Tobago harus dikarantina selama 14 hari.

Ada pemandangan serupa akhir pekan lalu ketika aturan baru diberlakukan bagi mereka yang kembali dari negara-negara termasuk Prancis dan Belanda. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Ilmuwan SAGE Inggris: Virus Corona akan Selamanya Bersama Kita, https://www.tribunnews.com/internasional/2020/08/24/ilmuwan-sage-inggris-virus-corona-akan-selamanya-bersama-kita?

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved