Sosok Tokoh
5 Jenderal TNI asal Manado Karier Cemerlang, Ada 2 Kali Menteri, Jadi KASAL hingga Ganti Prabowo
Ada banyak Jenderal TNI dan Polri yang dimiliki masyarakat Sulawesi Utara. Namun, kelima sosok ini tergolong cemerlang.
Penulis: Aldi Ponge | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO.CO.ID - Berikut 5 jenderal TNI asal Manado yang memiliki karier cemerlang di militer dan politik
Ada banyak Jenderal TNI dan Polri yang dimiliki masyarakat Sulawesi Utara. Namun, kelima sosok ini tergolong cemerlang.
Banyak juga dari mereka yang memiliki posisi penting di militer dan pemerintahan sipil.
• Hanya 60 Detik, Ini Cara Mudah Cek Kesehatan Anda Pakai Sendok Makan
• 17 Pahlawan Nasional Asal Manado, Diminta Soekarno Bentuk Pemerintahan hingga Gugur Usia 24 Tahun
Namun, kali ini kami hadirkan 5 Jenderal Purnawirawan TNI asal Manado:
1. Laksamana TNI (Purn) Rudolf Kasenda

Pria berdarah Manado kelahiran Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1934 ini, meninggal di Jakarta, 11 Juli 2010 pada umur 76 tahun,
Ia adalah Kepala Staf TNI Angkatan Laut dari tahun 1986 hingga 1989.
Selain itu ia juga pernah menjadi Duta Besar untuk Korea Selatan periode 1990 - 1993.
Pendidikan yang pernah diterima antara lain, SLA di Ujungpandang (1952) dan Institut Akademi Angkatan Laut, Surabaya (1955).
Ia pernah ditugaskan sebagai Wakil Asisten Operasi KSAL (1975-1978), Asisten Logistik Hankam (1978-1981), Panglima Armada RI (1981), dan Deputi Logistik KSAL (1985).
Rudolf Kasenda meninggal dunia pada 11 Juli 2010 disebabkan sakit jantung dan komplikasi.
Jenazahnya dikebumikan di TMP Kalibata.
• 10 Artis Cantik Berdarah Manado, Bukti Cewek Manado Cantik-cantik, Nagita Slavina hingga Ranty Maria
2. Laksamana TNI (Purn) Bernard Kent Sondakh
Bernard Kent Sondakh lahir di Tobelo, Halmahera, Maluku, 9 Juli 1948, pada umur 71 tahun.
Ia adalah Kepala Staf TNI Angkatan Laut dari 25 April 2002 hingga 18 Februari 2005.
Ia pernah mengikuti Kursus Komandan Kapal Atas Air (1985), Seskoal Angkatan-26 (1988/1989), Operational Artilery di Yugoslavia (1990), Sesko ABRI Angkatan-20 (1993/1994), dan KSA Angkatan-8 Lemhannas (2000).
Pernah diberi tugas sebagai Komandan Gugus Keamanan Laut Armada Barat (1995), Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal III (1996)), Komandan Komando Pendidikan TNI AL (Kodikal; 1997), Asrena Kasal (2000), Asops Kasal (2000), dan Irjen TNI (2001).
3. Letnan Jenderal TNI (Purn) Johny Josephus Lumintang

Johny Josephus Lumintang, lahir Desa Noongan, Minahasa, Sulawesi Utara, 28 Juni 1947.
Ia adalah salah satu tokoh militer Indonesia dan duta besar Indonesia untuk negara Filipina sejak 14 Februari 2014.
Lulusan AKABRI Angkatan 1970 dan berasal dari kesatuan Infanteri - Baret Hijau.
Pangkat Terakhir militer aktif adalah Letnan Jenderal TNI.
Jabatan terakhir sebagai militer aktif adalah Sekretaris Jenderal DEPHAN.
Lumintang merupakan salah satu tokoh yang turut berperan dalam operasi pembebasan sandera Mapenduma Team Ekspedisi Lorenz di Irian Jaya, lewat Operasi Rajawai.
Saat itu dirinya menjabat Kepala Staf Kodam/Kasdam VIII/Trikora (1996).
• Mampukah Bayern Atasi Perlawanan PSG, Cetak Sejarah Baru atau Nyamai Raihan Trofi Liverpool
• 7 Kutukan Paling Mengerikan, Keluarga Kaisar Rusia Dibantai hingga Para Musisi Tewas Usia 27 Tahun
Setelah dilantik sebagai Panglima Kodam VII/Trikora (sekarang Kodam XVII/Cendrawasih) pada 20 Agustus 1996, Lumintang kembali mendapat tugas lagi.
Ia diberi amanat untuk membebaskan sandera 14 orang karyawan PT. Jayanti yang disandera GPK di Kamuna Raya Camp Timika tanggal 14 Agustus 1996.
Operasi pembebasan sandera ini dipimpin Lumintang sendiri, dan diselesaikan dalam waktu singkat, tepatnya pada 18 September 1996.
Sandra dibebaskan walaupun akhirnya 2 sandera meninggal dunia.
Jabatan Pangdam VII/Trikora diembankan padanya selama satu setengah tahun.
Tamatan Akabri tahun 1970, ini kemudian kembali dipercayakan menjabat Asisten Operasi Kasum TNI (dulu ABRI).
Beberapa jabatan penting sebelumnya antara lain: Komandan Batalyon Infanteri 751, Dandim Merauke dan Jayapura, Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 18/Trisula Kostrad, Komandan Rindam Jaya, Danrem 164 Timor-Timur dan Panglima Divisi Infanteri I/Kostrad.
Pada saat-saat kritis saat Soeharto turun dari kursi kepresidenan, Johny dipercaya menjabat Pangkostrad, menggantikan Letjen TNI Prabowo Subianto (yang saat itu terkenal sebagai The Rising Star).
Sayang, masa jabatannya sebagai Panglima Kostrad sangat singkat, hanya 17 jam (22-23 Mei 1998). Itu adalah saat-saat yang paling menentukan dalam kehidupan bangsa dan negara.
Tanggal 30 Oktober 1998, Johny lagi-lagi dipercaya menggantikan posisi Prabowo sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI. Sekaligus juga menggantikan kedudukannya sebagai Anggota Fraksi ABRI MPR-RI.
Suami Drg. Sonya Riupassa, MHA ini pada tanggal18 Januari 1999 ditunjuk menjadi Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat.
Sebelum pensiun Johny menduduki jabatan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Pertahanan setelah sebelumnya menjabat Gubernur Lemhanas.
Dalam waktu yang relatif singkat, yaitu kurang lebih 10 bulan, ia telah menduduki banyak jabatan strategis.
Lumintang adalah alumnus Sesko TNI (1991-1992) Angkatan 18, Sus Staf Senior (1992) serta Lemhannas (1995).
Ada satu kegiatan yang amat disukai Johny Lumintang saat tak berbaju militer lagi, yaitu berkebun.
Johny mreupakan salah satu jenderal dari Sulawesi Utara yang bersinar cemerlang, tak kalah dari Prabowo Subianto.
Sepanjang karier militernya, nasib Johny beberapa kali bertaut dengan Prabowo Subianto. Tak lama usai kejatuhan Soeharto, ia diminta menjabat Panglima Kostrad menggantikan Prabowo –justru di saat karier militer Prabowo sedang berada di puncak.
Akhir Oktober 1998, Johny kembali diminta menggantikan Prabowo sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI.
4. Letnan Jenderal TNI (Purn) Arie Jeffry Kumaat
Arie Jeffry Kumaat lahir di Lansot, 20 Mei 1944 dan meninggal di Jakarta, 13 Januari 2002 pada umur 57 tahun.
Ia pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon Brigade Infanteri I Jaya Sakti, Jakarta, Komandan Komando Distrik Militer (Kodim), Jakarta Selatan, Komandan Komando Resort Militer 163/Wirasatya (Korem), Bali, Komandan Resimen Taruna Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah.
Kepala Staf Garnisun I Ibu kota, Jakarta, Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA), Direktur D Badan Intelijen Strategis (BAIS).
Menjabat sebagai Panglima Kodam (Pangdam) I/Bukit Barisan, Medan (September 1994-Agustus 1995)
Kemudian Asisten Teritorial Kasum ABRI (Agustus 1995-29 Agustus 1997)
Lalu Komandan Sekolah Staf dan Komando (Dansesko) ABRI (29 Agustus 1997-28 Mei 1998)
Kepala Pusat Koordinasi Kegiatan Penegakan Hukum dan Sistem Keamanan Departemen Pertahanan (sejak Mei 1998)
Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Kabakin) (20 November 1999-Agustus 2001)
Kumaat adalah sarjana Sosial Politik dan Sarjana Hukum.
Ia juga menamatkan pendidikannya di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SESKOAD).
Pernah besekolah di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI).
Dan, Penerima penghargaan Adhi Makayasa untuk lulusan terbaik AKABRI bagian Darat.
Juga pernah Bersekolah di Staf Dan Komando ABRI (SESKO ABRI), dan Lulusan terbaik Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANNAS).
5. Letnan Jenderal TNI (Purn) Evert Ernest Mangindaan

Evert Ernest Mangindaan lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 5 Januari 1943.
Mangindaan menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk periode 2014-2019.
Sebelumnya ia pernah menjadi Menteri Perhubungan Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu II menggantikan Freddy Numberi.
Ia juga menjabat sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu II dan Gubernur Sulawesi Utara periode 1995-2000.
Ia diangkat menjadi Gubernur menggantikan Cornelis John Rantung.
Di karier militer Ia pernah menjabat sebagai Pangdam VIII/Trikora. Setelah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Utara, ia terpilih sebagai anggota DPR dan menjabat sebagai Ketua Komisi II periode 2004-2009.
Mangindaan pernah menjabat Komandan Danton s/d Danyonif Kodam I/Iskandar Muda, 1965–1977.
Kemudian menjabat Komandan Danrem 084/Baskara Jaya Kodam V/Brawijaya, 1987–1988
Ditunuk sebagai WAASOOPS Kasum ABRI Jakarta, 1988-1991.
Menjabat Pangdam VIII/Trikora/Malirjaya Maluku - Irian Jaya, 1991–1993.
Dan SESKOAD TNI AD Bandung, 1993-1995. (Rizali Posuma/Ald)