HUt RI
Kisah Pensiunnya Bendera Pusaka Merah Putih yang Dijahit Fatmawati hingga Tiga Duplikatnya
bendera merah putih yang berkibar tersebut bukanlah bendera pusaka yang pertama kali digunakan saat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945
Saat persiapan upacara peringatan HUT RI 1968, Presiden Soeharto menanyakan kondisi Bendera Pusaka kepada Bapak Paskibraka H Mutahar.
Kondisi Bendera Pusaka memang sudah mulai rapuh dan memudar, sehingga perlu dibuat duplikatnya.
Sambil menyiapkan duplikatnya, H Mutahar mengusulkan untuk dikibarkan sekali lagi pada peringatan HUT RI 1968.
Atas perintah Presiden Soeharto, H Mutahar mulai menyiapkan pembuatan duplikat Bendera Pusaka.
Selain untuk upacara peringatan HUT RI di Istana Merdeka, duplikat Sang Merah Putih juga dibagikan ke setiap provinsi dan kabupaten/kota untuk dikibarkan oleh Paskibraka pada upacara peringatan HUT RI di daerah-daerah.
Sampai saat ini, Bendera Pusaka Merah Putih sudah tiga kali dibuat duplikatnya.
Duplikat pertama, dikibarkan pada upacara peringatan HUT RI pada tahun 1969 sampai 1984.
Duplikat kedua dikibarkan pada upacara peringatan HUT RI pada tahun 1985 sampai 2014.
Pada tahun 1995, pemerintah membuat duplikat ketiga untuk disimpan sebagai cadangan.
Sang Merah Putih duplikat ketiga ini baru mulai dikibarkan pada upacara peringatan HUT RI 17 Agustus 2015 sampai sekarang.
Profil Ibu Fatmawati
Fatmawati dilahirkan pada 5 Februari 1923 di Bengkulu. Ketika ia lahir, ada dua nama yang akan diberikan kepadanya, yaitu Fatimah yang berarti bunga teratai dan Siti Djabaidah, yang diambil dari nama salah satu istri Nabu Muhammad SAW.
Kedua nama itu ditulis pada dua carik kertas kemudian digulung dan diundi.
Pilihan pun jatuh kepada nama Fatimah, nama yang kita kenal sampai saat ini.
Harian Kompas, 16 Mei 1980 memberitakan, Fatmawati pertama kali bertemu dengan Bung Karno pada 1938.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ibu-fatmawati-ketika-menjahit-bendera-pusaka-merah-putih-pada-bulan-oktober-1945.jpg)