CEP Lirik Manado-Tomohon: Tiga Srikandi Adu Kuat, Imba-Priscilia Menguat
Partai Golkar Sulawesi Utara memantapkan langkah menuju Pilkada Serentak 2020.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Dia pun mengungkapkan paslon yang diusung ditetapkan ini diambil dari tiga nama yang mengikuti penjaringan. "Yang kami usung adalah mereka yang ikut dalam penjaringan. Nah tiga nama ini yang tetap partai Golkar," bebernya.
Sementara terkait peluang koalisi, Golkar tetap terbuka dengan Partai manapun. "Golkar terbuka dengan Partai manapun untuk koalisi. Namun tetap yang diusung itu harus dari Partai Golkar," tukasnya.
Lamaluta pun memastikan Partai Golkar sendiri, menargetkan kemenangan di Kota Tomohon. "Pastinya Golkar ingin mempertahankan kemenangan di Tomohon. Sehingga kemenangan di Tomohon merupakan harga mati," pungkasnya.
Kairupan: Punya Kader Mumpuni
Golkar diprediksi bakal menjadi pesaing kuat di sejumlah daerah, termasuk di Pilkada Manado, Tomohon dan Minsel. Di tiga daerah tersebut, beringin mempunyai kader yang cukup mumpuni, sehingga diprediksikan kuat bakal menyabet kemenangan.
Manado misalnya, nama Jimmy Rimba Rogi alias Imba berpeluang besar bakal tetap menjadi andalan Golkar. Kemudian di Minahasa Selatan duet Michaela Elsiana Paruntu (MEP) dan Ventje Tuela (VT) tampaknya akan menjadi pasangan yang berpeluang besar bakal mempertahankan kemenangan bagi Golkar.
Sedangkan di Tomohon teka-teki siapa yang bakal mendapat SK masih tengah diperebutkan tiga kandidat Miky Junita Linda Wenur, Jilly Gabriella Eman (JGE) dan Syerly Adelyn Sompotan (SAS).
Pengamat politik Josef Kairupan menyatakan, peluang Golkar memenangkan pilkada di tiga daerah ini sangat terbuka. Golkar adalah parpol yang memiliki nilai historis panjang di republik ini. Serta tokoh dan elite politik di negeri ini, paling banyak merupakan kader Golkar, yang walaupun banyak sudah yang berpindah ke parpol lain, tak terkecuali untuk Golkar Sulut. "Tokoh-tokoh dan kader Golkar yang telah sukses mendapatkan kekuasaan walaupun bukan lagi berbajukan Golkar," ujarnya.
Berselang satu dasawarsa terakhir, lanjut Kairupan, peruntungan Golkar pada pertarungan baik di kancah pileg maupun pilkada di Sulut sedikit mengalami penurunan. Walaupun di beberapa kabupaten kota, Golkar masih dapat menunjukkan kekuatannya, tetapi tidak melebihi 50 persen kursi di parlemen.
"Begitu juga kepala daerah, sebut saja Kota Tomohon dan Minsel," jelas akademisi Unsrat ini.
Dia pun menilai, khusus untuk Manado, Golkar harus bernegosiasi untuk berkoalisi agar dapat mengusung calon kepala daerah, dikarenakan hanya memiliki 4 kursi di legislatif. Hal ini mengakibatkan Golkar tidak memiliki kekuasaan absolut seperti PDIP yang memperoleh 10 kursi. Nah, problematika yang umum terjadi adalah minimnya kader paripurna yang dimiliki oleh parpol, termasuk Golkar.
"Sampai saat ini bakal calon yang diusung dalam perhelatan pilkada kesannya seperti dipaksakan atau dengan kata lain tiba saat tiba akal. Walaupun case di Kota Manado Golkar di gadang telah memiliki kader potensial Imba untuk diusung," jelasnya.
Adapun mengingat perhelatan pilkada ini yang lebih mendominasi adalah faktor figur. Maka tidak menutup kemungkinan tingkat elektabilitas parpol itu dipengaruhi oleh figur yang diusung itu sendiri.
"Secara kasat mata hal ini menjadi faktor penyumbang kelemahan Golkar, kader yang memiliki ketokohan populer. Sehingga memiliki nilai jual tinggi dan perlunya usaha optimal untuk membangun tingkat kepercayaan rakyat, bahwa Golkar mampu mengemban amanat rakyat, sehingga ke depannya Golkar dapat menguasai suara di legislatif. Sedangkan faktor pengalaman dan seringnya dilanda konflik internal menjadi salah satu kekuatan partai Golkar," ujar Kairupan.
Prof Welly Areros
Pengamat Politik dari Unsrat
Peluang Fifty-fifty
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/tetty-dan-sehan-landjar.jpg)