Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Internasional

Langkah Sepihak Ethiopia di Sungai Nil Biru Membuat Mesir dan Sudan Khawatir

Nil Biru adalah anak sungai Nil, yang mana 100 juta orang Mesir mendapatkan 90 persen pasokan air bersih dari sana.

Editor: Rizali Posumah
AFP/EDUARDO SOTERAS
Foto tertanggal 26 Desember 2019 menunjukkan progres pembangunan Waduk Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD). Waduk ini membendung aliran Sungai Nil dan disengketakan oleh Ethiopia, Mesir, dan Sudan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Ethiopia melakukan pengisihan bendungan Nil Biru, Grand Ethiopia Renaissance Dam (GERD),  pada Senin (27/7/2020), untuk mengatur aliran air dari proyek besar.

Lankah Ethiopia ini mendapat tantangan dari Mesir dan Sudan. Kedua negara tersebut menilai Ethiopia melakukan hal itu secara sepihak.

Kedua negara tersebut khawatir bendungan pembangkit listrik tenaga air senilai 4 miliar dollar AS (Rp 58,3 triliun) di Nil Biru dapat menyebabkan kekurangan air di negara mereka.

Nil Biru adalah anak sungai Nil, yang mana 100 juta orang Mesir mendapatkan 90 persen pasokan air bersih dari sana.

Hampir satu dekade negosiasi panjang telah gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengatur bagaimana Ethiopia akan mengisi reservoir dan mengoperasikan bendungan dengan tetap melindungi persediaan air bersih di Mesir yang langka.

Bendungan GERD sedang dibangun sekitar 15 kilometer dari perbatasan dengan Sudan.

Pekan lalu, Ethiopia mengatakan mereka membutuhkan bendungan untuk menghasilkan pembangkit listrik bagi rakyatnya dan saat ini telah mencapai target tahun pertama untuk mengisi reservoir, berkat musim hujan yang deras.

Kementerian Irigasi Mesir mengatakan, Mesir dan Sudan menyayangkan tentang "pengisian sepihak" bendungan Nil Biru, yang mereka katakan "membayangi pertemuan itu dan mengajukan banyak pertanyaan tentang kelayakan proses negosiasi yang terjadi untuk mencapai kesepakatan yang adil."

Sudan mengatakan tindakan Ethiopia adalah "preseden yang berbahaya dan mengganggu dalam proses kerja sama antara negara-negara yang bersangkutan", menurut sebuah pernyataan dari Kementerian Irigasi.

Sementara itu, tidak ada tanggapan langsung dari Ethiopia.

Di antara masalah yang diperdebatkan dalam diskusi, yang dimediasi oleh Uni Afrika, adalah bagaimana bendungan akan beroperasi selama "tahun-tahun kering" berkurangnya curah hujan, dan apakah perjanjian dan mekanisme untuk menyelesaikan sengketa harus mengikat secara hukum.

Berdasarkan kesepakatan pada 1929 dan 1959 yang diteken antara Britania Raya sebagai kekuatan kolonial dan negara-negara di lembah Sungai Nil, Mesir berhak mendapatkan 55,5 miliar cm kubik air dari salah satu sungai terpanjang di dunia tersebut.

Sementara itu Sudan mendapat bagian 18,5 miliar cm kubik, sedangkan Ethiopia tidak kebagian satu cm kubik pun.

Pada Mei 2010, 5 negara hulu menandatangani perjanjian Cooperative Framework Agreement untuk mendapat bagian lebih besar. Ethiopia, Kenya, Uganda, Rwanda, dan Tanzania adalah 5 negara pertama yang meneken perjanjian itu, lalu disusul Burundi pada 2011.

Sungai Nil sendiri mengaliri 11 negara di Afrika, yakni Mesir, Ethiopia, Sudan, Uganda, Kenya, Tanzania, Burundi, Rwanda, Republik Demokratik Kongo, Eritrea, dan Sudan Selatan.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved