Senin, 8 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita TNI

26 Juli 1950 KNIL Belanda Dibubarkan, Markas Diserahkan ke TNI, Pemberontakan Meletus di Makassar

Proses pembubaran ditandai dengan pidato dari Komanda KNIL, Dir Cornelis Buuman van Vreeden kepada Angkatan perang Republik Indonesia APRIS

Tayang:
Editor: Rizali Posumah
dokumen kompas
Malam resepsi pembubaran KNIL oleh Dr. Hirschfeld (Dok. Arsip Kompas) 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Hari ini 70 tahun yang lalu atau 26 Juli 1950 Konenkelijke Nederlands Indische Leger ( KNIL) Tentara Kerajaan Hindia Belanda dibubarkan. 

Pembubaran KNIL dilakukan di rumah Komisaris Tinggi Belanda Dr. H. Hirschfield di Jakarta tepat pada pukul 00.00 WIB.

Sebagaimana yang diberitakan Kompas, 26 Juli 1970, proses pembubaran ditandai dengan pidato dari Komanda KNIL, Dir Cornelis Buuman van Vreeden kepada Angkatan perang Republik Indonesia APRIS yang kini dikenal dengan nama Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Menurut Harian Kompas, 23 Juli 1983, berdasarkan keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB) bekas tentara KNIL diperbolehkan bergabung dengan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRIS).

Tak hanya itu, mereka juga berhak memperoleh kenaikan pangkat.

Harian Kompas, 5 Oktober 1994, menuliskan, sebelum dibubarkan, KNIL menyerahkan pangkalan besar mereka ke Indonesia.

Pada 15 Januari 1950, tentara KNIL menyerahkan General Head Quarter kepada Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD).

Penyerahan dilakukan secara resmi oleh Letjen Boerman van Vreiden kepada KSAD, dengan dihadiri oleh Komisaris Tinggi Belanda serta Panglima AK Belanda, Laks, Vingke.

Acara ini juga dihadiri oleh pimpinan ABRI, KSAP Simatupang, KSAL Subiyakto, dan KSAU Suryadarma.

Pada sore harinya, Boerman membawa panji KNIL ke pesawat KLM kembali ke Belanda.

Oleh karena itu, dengan adanya penyerahan tersebut, berakhirlah pendudukan KNIL di Indonesia.

Meski telah dibubarkan, sejumlah serdadu Ambon dan Manado dari KNIL yang pindah memasuki dinas Koninklijke Landmacht (KL) melakukan pemberontakan di Makassar.

Arsip Harian Kompas, 4 Februari 1995, menyebutkan, untuk menumpas pemberontakan tersebut, HC Hirschfeld mengirimkan kapal pemburu terpedo Kortenaer dari Surabaya ke Makassar secara diam-diam.

Setelah Perang Dunia II, di Indonesia beroperasi dua macam tentara, yakni KNIL dan KL atau Angkatan Darat Kerajaan Belanda.

Harian Kompas, 23 Juli 1983, mayoritas personel dari KL ini sebagian besar merupakan kiriman dari Belanda.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved