Senin, 4 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Indiana Ngenget - Rory : Jokowi Berani Tinggal di Istana Bogor ?

Ini penting untuk merealisasi semboyan Indonesia Centris, bukan Jawa Centris..dan mengapa Bung Karno dicintai orang Sunda dan Jokowi kalah di Pasundan

Tayang:
Editor: Sigit Sugiharto
dokumen pribadi keluarga Ngenget - Rory
Indiana Ngenget, perempuan Minahasa, doktor budaya politik Sunda, ini sedang meneliti perbandingan budaya politik Sunda dan Minahasa. Foto dari dokumen pribadi keluarga Ngenget - Rory 

Oleh: J Osdar, Wartawan Senior

Seorang perempuan Minahasa, Indiana Ngenget Rory, tujuh tahun lalu, Senin, 13 Januari 2013, di kampus Universitas Indonesia, Depok, Jakarta, mendapat gelar doktor bidang politik. Desertasinya, berjudul “Kekuasaan, Dalam Pemikiran Politik Sunda Tradisional”.

Perempuan berdarah Tara-tara, Tomohon ini setelah mendapat doktor, mengajar bidang politik, komunikasi dan hubungan internasional di Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP) Jakarta sampai saat ini. Selain mengajar, Indiana melanjutkan penelitian tentang budaya politik Sunda. Selain itu, sering dia diminta meneliti untuk kepentingan pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah di Jawa Barat dan Banten.

Lantaran itulah, wartawan sering minta pendapatnya tentang masalah politik di Jawa Barat, termasuk tentang karakter pemilih di sekitar Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Cukup menarik pendapat Indiana , bahwa Presiden Joko Widodo sekarang berani tinggal Bogor. Padahal, masyarakat Bogor dan hampir seluruh Jawa Barat yang sebagian besar berpenduduk suku Sunda, tidak memilih Jokowi jadi presdien dalam pemilihan umum 2014 dan 2019. “Istana Bogor itu punya relasi mistis dengan masyarakat Sunda, khususnya Bogor,” ujar Indiana. 

“Yang paling menarik adalah keberanian Jokowi untuk tinggal di Istana Bogor. Kalau dari sisi supranatural, ini ada maknanya, karena Pak Harto (Presiden RI kedua, Soeharto) saja tidak berani,” kata Indiana.

Lain halnya dengan Presiden RI pertama, Soekarno atau Bung Karno. “Untuk orang Bogor, Bung Karno punya spiritual yang sangat tinggi. Bung Karno sangat memahami dan mengerti sejarah,” kata Indiana yang tinggal di Bogor. “Makanya Bung Karno punya pesan dan wasiat agar dimakamkan di Batu Tulis, Bogor. Tapi mengapa Bung Karno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur ?

Menurut Indiana, banyak orang Sunda suka dengan Bung Karno. Sementara, orang Minahasa, banyak menentang Bung Karno. Hal ini bisa ditunjukan dengan “pemberontakan” Permesta di Sulawesi Utara 1958- 1961. Padahal dua di antara para istri resmi Bung Karno, adalah orang Minahasa, yakni Yurike Sanger dan Kartini Manoppo.

Inilah Yurike Sanger, salah satu istri resmi Bung Karno berdarah Minahasa. Foto diambil dari buku “Biografi Cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger”
Inilah Yurike Sanger, salah satu istri resmi Bung Karno berdarah Minahasa. Foto diambil dari buku “Biografi Cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger” (buku “Biografi Cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger”)

Sementara itu Bung Karno terkenal sedang “menari lenso”, keturunan dari seni maengket. Banyak foto terkenal Bung Karno sementara menari lenso yang bergaya Minahasa, termasuk ketika sedang berlenso dengan Ny Hartini di halaman istana Bogor..

Apakah Jokowi bisa kuat tinggal di Istana Bogor karena dia ditopang oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang dipimpin Megawati Soekarnoputri ? “Mungkin juga, tapi masih perlu penelitian,” kata Indiana.

Sunda dan Minahasa

Indiana, yang sekarang sering disebut sebagai pakar budaya politik Sunda mengatakan tertarik untuk meneliti, atau membandingkan, budaya politik di Minahasa, Sulawesi Utara dengan budaya politik di Jawa Barat dan Banten. “Para pelaku politik di Sunda secara tradisional tidak banyak menonjolkan diri, sedangkan Minahasa berani tampil, berani beraksi, terutama para perempuannya,” ujar Indi.

Indiana juga menunjukkan posisi pusat negeri ini Indonesia, termasuk istana-istana kepresidenannya, terbanyak ada di Tatar (tanah) Sunda atau Pasundan. Hal ini, kata perempuan yang wajahnya sangat “keke” itu, relasi antara pusat pemerintahan Republik Indonesia dengan tanah atau Tatar Pasundan ini punya implikasi “mistis” di mata orang Sunda.

“Maka saya ingin terus meneliti mengapa banyak orang Sunda tidak memilih Jokowi dibandingkan dengan orang Minahasa di Sulawesi Utara yang bukan hanya memilih tapi semi berdevosi kepada Presiden RI ke-7 itu,” ujar putri sulung Anton Ngenget ini yang mengatakan memilih Jokowi dalam dua pemilihan presiden yang lalu.

Yurike Sanger, kedua dari kiri bersama keluarganya, ketika menunggu Bung Karno datang melamarnya di rumahnya di Jakarta. Foto diambil dari buku “Biografi Cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger”
Yurike Sanger, kedua dari kiri bersama keluarganya, ketika menunggu Bung Karno datang melamarnya di rumahnya di Jakarta. Foto diambil dari buku “Biografi Cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger” (buku “Biografi Cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger”)

Dalam desertasinya, Indiana Ngenget mengatakan, selama ini pemikiran politik Indonesia lama yang dijadikan rujukan ilmuan pemerhati Indonesia adalah pemikiran politik Jawa tradisional. “Pemikiran politik Jawa tradisional kerap dijadikan model dalam dalam menganalisis perpolitikan di Indonesia, pada masa pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru, terutama dari sisi budaya politik, tingkah laku politik, kepemimpinan (elite),” tegas Indiana.

Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved