Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Update Virus Corona Dunia

Lebih dari Setengah Pasien Covid-19 Alami Ketidaknormalan Jantung, Ini Berdasarkan Pindaian Dokter

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan pada setidaknya 1.200 pasien covid-19 di sebanyak 69 negara menunjukkan hasil yang mengagetkan.

Kompas.com
Ilustrasi jantung (yodiyim) 

TRIBUMANADO.CO.ID - Berdasarkan hasil studi yang dilakukan pada setidaknya 1.200 pasien covid-19 di sebanyak 69 negara menunjukkan hasil yang mengagetkan.

Studi itu dilakukan dengan memindai jantung pada para pasien tersebut dan menemukan lebih dari setengah pasien mengalami berbagai ketidaknormalan jantung.

Dari hasii temuan itu sebanyak 55 persen mengalami beragam abnormalitas jantung yang bisa menganggu kemampuan organ untuk memompa darah.

Dan sebanyak sepertujuhnya menunjukkan tanda-tanda abnormalitas parah yang bisa menyebabkan gagal jantung.

Dipaparkan oleh para dokter di Edinburgh University dalam European Heart Journal, mayoritas pasien yang dipindai jantungnya tidak diketahui memiliki penyakit jantung sebelum terinfeksi Covid-19.

Namun, kini sepertiga pasien ditemukan mengalami kerusakan pada ventrikel atau dua ruang yang berada di bagian bawah jantung, tiga persen pernah mengalami serangan jantung dan tiga persen lainnya mengalami pembengkakan jaringan jantung.

Dilansir dari The Guardian, Dr Anda Bularga, salah satu peneliti yang tergabung dalam studi ini berkata bahwa proporsi pasien dengan hasil pemindaian jantung yang abnormal sangat tinggi.

Hal ini membuat para ahli berpikir bahwa kondisi abnormalitas jantung yang diamati dalam studi mungkin disebabkan oleh infeksi virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Hasil temuan ini juga mendukung penelitian-penelitian sebelumnya yang mengungkapkan kaitan Covid-19 dengan organ-organ selain paru-paru, seperti otak dan jantung.

Studi di China dan Italia, misalnya, menemukan bahwa 20 persen pasien Covid-19 mengalami kerusakan jantung.

Namun, bagaimana mekanisme pasti Covid-19 bisa menyebabkan kerusakan jantung masih menjadi misteri.

Sejauh ini, teori yang paling kuat adalah karena virus corona menyebabkan peradangan dan penumpukan cairan di paru-paru.

Alhasil, jantung pun harus bekerja lebih keras untuk memompa darah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Tekanan yang berlebihan ini atau kurangnya oksigen karena paru-paru tidak bekerja secara optimal, lantas bisa menyebabkan kerusakan jaringan jantung.

Selain itu, ada beberapa kasus yang menunjukkan bahwa virus corona bisa menginfeksi otot jantung secara langsung dan memaksa organ ini bekerja lebih keras.

Meski demikian, tim dokter Edinburgh tidak mau terburu-buru membuat konklusi.

Pasalnya, pasien-pasien yang dipindai memang telah dicurigai mengalami masalah jantung, sehingga tingginya proporsi abnormalitas yang ditemukan serta merta menunjukkan seberapa umum kerusakan jantung terjadi pada pasien Covid-19.

Akan tetapi, temuan ini juag menunjukkan betapa pentingnya pemeriksaan ekokardiogram dalam mengidentifikasikan penyakit jantung yang disebabkan oleh Covid-19.

Prof Marc Dweck, pemimpin studi ini mengatakan bahwa banyak dokter merasa ragu-ragu untuk memerintahkan pemeriksaan ekokardiogram karena prosedur tersebut mengharuskan kontak dekat dengan pasien.

"Hasil kerja kami menunjukkan bahwa pemindaian-pemindaian ini sangat penting: mereka meningkatkan perawatan bagi sepertiga pasien yang mengalaminya (penyakit jantung akibat Covid-19)," katanya.

Langkah selanjutnya, ujar Prof Dweck, adalah mencari tahu mekanisme pasti dari kerusakan ini, apakah bisa diperbaiki dan apa dampak jangka panjang Covid-19 terhadap jantung.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hasil Pemindaian Ungkap, 55 Persen Pasien Corona Alami Masalah Jantung"

https://www.kompas.com/sains/read/2020/07/13/190500923/hasil-pemindaian-ungkap-55-persen-pasien-corona-alami-masalah-jantung?page=all#page2

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved