Sabtu, 30 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sejarah

Sejarah Hari Ini 30 Juni 1997, Hong Kong Dikembalikan Inggris ke Republik Rakyat Tiongkok

Upacara ini berlangsung hingga 1 Juli 1997, dan menandakan berakhirnya 156 tahun kekuasaan Inggris di wilayah itu.

Tayang:
Editor: Rizali Posumah
Bambang Putranto
Tampak kapal pesiar di marina Hong Kong, menunjukkan sisi lain dari kemakmuran Hong Kong yang menjadi pusat ekonomi Asia sejak era 1970-an. Kini masa depan Hong Kong di bawah China terancam. AS cabut status khusus negeri tersebut. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Upacara serah terima Hong Kong dari Inggris ke China berlangsung hari ini, tepatnya pada 30 Juni tengah malam 1997. 

Upacara ini berlangsung hingga 1 Juli 1997, dan menandakan berakhirnya 156 tahun kekuasaan Inggris di wilayah itu.

Di bawah bendera Republik Rakyat Tiongkok (China) koloni itu pun menjadi Hong Kong Special Administrative Region (HKSAR).

Upacara penyerahan ini juga menjadi puncak transisi selama 13 tahun yang diprakarsai oleh Deklarasi Bersama Sino-Inggris, dan ditandatangani kepala pemerintahan kedua negara pada Desember 1984.

Secara tertulis perjanjian itu menetapkan HKSAR di bawah pemerintahan China akan memiliki otonomi tingkat tinggi, kecuali dalam hal hubungan internasional dan pertahanan.

Sistem sosial, perekonomian, dan gaya hidup di Hong Kong dijanjikan tidak berubah selama 50 tahun sejak 1997. Artinya, perjanjian ini berlaku sampai 2047.

Namun banyak pengamat yang ragu China akan memegang teguh janjinya menerapkan "Satu Negara Dua Sistem", dan saat itu sudah dikhawatirkan China dapat tiba-tiba membatasi hak dan kebebasan rakyat Hong Kong.

Britania Raya mengakuisisi Pulau Hong Kong dari China pada 1842, ketika Perjanjian Nanking ditandatangani pada akhir Perang Candu pertama (1839-1842).

Kemudian setelah komunis mengambil alih kekuasaan di China pada 1949, Hong Kong menjadi tempat perlindungan bagi ratusan ribu pengungsi yang melarikan diri dari pemerintahan komunis.

Lalu berpuluh-puluh tahun berikutnya, pemerintah Negeri "Panda" bersikeras penjanjian yang memberi kedaulatan Inggris atas Hong Kong tidak sah.

Kerja sama China-Inggris selama periode transisi juga kian memburuk setelah penunjukan Chris Patten pada 1992, sebagai gubernur kolonial terakhir Hong Kong.

Patten dengan berani melawan praktik masa lalu, dengan menginisiasi serangkaian reformasi politik untuk memberikan rakyat Hong Kong suara lebih besar dalam pemerintahan melalui pemilihan demokratis untuk Dewan Legislatif (LegCo).

Beijing berusaha menghalangi reformasi Patten, dan menyebutnya sebagai pengkhianatan janji London.

Britania Raya sebelumnya berjanji mengelola transisi itu sebagai latihan, dengan Hong Kong tidak memiliki suara sendiri.

Ketika Partai Demokrat Hong Kong yang dipimpin pengacara Martin Lee mengalahkan politisi pro-Beijing dalam pemilihan LegCo 1995, Beijing mengecam Patten dan mulai menyusun strategi untuk kembali memperkuat pengaruhnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved