Jumat, 8 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sembilan Milenial Sulut Tarung di Pilkada, Kandouw: PDIP Rekrut Anak Muda

Milenial meramaikan dinamika Pilkada Serentak 2020 di Sulawesi Utara. Sejumlah politisi milenial masuk bursa calon kepala daerah

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Kolase Tribun Manado
Jilly Eman, Michaela Paruntu, Amalia Landjar. 

7) Verna Inkiriwang (Demokrat)

8) Paulman Runtuwene (Nasdem)
Boltim

9) Amalia Landjar (PAN)
Cabup

Bagi Michaela Elsiana Paruntu (MEP), milenial yang sudah mempunyai hak pilih, harus mendapat perlakuan khusus supaya mereka antusiasme mengikuti setiap agenda politik bangsa ini seperti pilkada.

Perempuan yang berprofesi sebagai seorang dokter ini mengatakan, figur calon harus tahu apa yang milenial butuhkan. "Jadi jangan paksa mereka ikuti kemauan kita," ujar Ketua Komisi Pelayanan Remaja Sinode GMIM.

Kata dia, satu cara yakni dengan melakukan kegiatan yang melibatkan milenial, sehingga mereka merasa ada bagian dalam pilkada tahun ini. Menurutnya, milenial biasanya jadi apatis karena mereka merasa tidak terlalu mengenal denga figur yang masuk dalam politik.

"Mudah-mudahan dengan adanya saya dengan segala kegiatan yang melibatkan kaum milenial, mereka akan lebih merespon dengan baik tahun politik tahun ini," kata Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Minsel ini. "MEP banyak orang kenal dan banyak juga yang sayang serta mau tulus membantu saya," ujarnya tersenyum.

Jilly Gabriella Eman (JGE) memastikan bakal memaksimalkan dukungan dari kalangan milenial. "Yang akan dioptimalkan adalah bentuk sosialisasinya melakukan pendekatan tersendiri secara kreatif dan inovatif. Serta menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan," kata Jilly.

Selain itu, dia turut memastikan akan aktif melakukan gebrakan dan gerakan nyata lewat organisasi-organisasi kepemudaan. Sehingga bisa mengubah pandangan-pandangan politik milenial yang apatis menjadi proaktif.

"Akan ada gebrakan dan gerakan nyata lewat organisasi-organisasi kepemudaan. Tujuannya agar nanti bisa mengubah pandangan-pandangan politik milenial yang apatis menjadi proaktif," pungkasnya.

Pengamat politik, Josef Kairupan menilai, peluang milenial menjadi pemimpin sangat besar. Dikarenakan milennial memiliki beberapa kelebihan, di antaranya tidak ragu-ragu dalam berpendapat, memiliki toleransi lebih tinggi terhadap perbedaan, dan memiliki sikap optimis dalam membantu membangun bangsa. Namun sayangnya milenial terkadang masih butuh experience yang bisa diperoleh seiring berjalannya waktu.

"Wacana yang berkembang saat ini bahwa Indonesia bahkan di daerah-daerah butuh pemimpin milenial. Dalam beberapa perspektif hal ini merupakan suatu progress yang cukup baik untuk mewujudkan pemerintahan yang responsif," ungkap akademisi Unsrat ini.

Calon kepala daerah milenial yang saat ini ramai pada perhelatan pilkada merupakan bentuk jawaban bahwa mereka cukup diperhitungkan. Walaupun tak jarang sedikit ada kesan dipaksakan, karena factor `spoil system'. Pada intinya adalah modal sosial yang dimiliki oleh calon milenial sebagai pijakan untuk bertarung.

"Michaela Paruntu, Jilly Eman, yang dijagokan untuk bertarung di Minsel dan Tomohon secara gamblang jelas telah memiliki modal sosial sebagai Ketua KPRJ GMIM, yang merupakan salah satu organisasi kerohanian terbesar di Sulut. Begitu juga ketua AMPI dan Karang Taruna untuk Jilly Eman keduanya juga memiliki factor pendukung penyerta yaitu spoil system," jelas Kairupan.

Namun, lanjut Kairupan, ada pula yang kandidat seperti Shintia Rumupe dan Amalia Landjar yang masih belum cukup memiliki modal sosial, hanya memiliki factor spoil system.

Halaman 2/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved