Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Bolmut

10 Desa Jadi Pilot Project, Pemkab Bolmut Komitmen Tekan Angka Kasus Stunting

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) terus berusaha menekan angka kasus Stunting

Penulis: Mejer Lumantow | Editor: David_Kusuma
Istimewa
Kadis Kesehatan Bolmut Jusnan Mokoginta 

TRIBUNMANADO.CO.ID, BOROKO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) terus berusaha menekan angka kasus Stunting di sejumlah desa, yang saat ini sudah pada tahap Aksi ke empat.

Disampaikan Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pembangunan (Bapelitbang) Bolmut Abdul Nazarudin Maloho, bahwa dalam pelaksanaan percepatan pencegahan anak kerdil (stunting) ada delapan aksi integrasi yang dilakukan.

"Yang pertama adalah Identifikasi sebaran stunting, cakupan layanan, ketersediaan program, dan kendala dalam pelaksanaan integrasi intervensi gizi.

Kedua, Menyusun rencana kegiatan untuk meningkatkan pelaksanaan integrasi intervensi gizi. Ketiga, menyelenggarakan Rembuk Stunting tingkat Kabupaten/Kota, dan keempat, memberikan kepastian hukum bagi desa untuk menjalankan peran dan kewenangan desa dalam intervensi gizi terintegrasi," papar Maloho kepada Tribun Manado, Kamis (25/6/2020).

Karyawan dan Pengunjung Senang Mantos Buka Kembali

Lanjutnya, selain keempat hal tersebut pihaknya juga memastikan tersedianya dan berfungsinya Kader yang membantu Pemerintah Desa dalam pelaksanaan intervensi gizi terintegrasi di tingkat desa.

"Meningkatkan sistem pengelolaan data stunting dan cakupan intervensi di tingkat kabupaten/kota, melakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak balita dan publikasi angka stunting kab/kota, serta melakukan review kinerja pelaksanaan program dan kegiatan terkait penurunan stunting selama satu tahun terakhir," jelas Maloho.

Untuk saat ini Bolmut sudah pada tahap Aksi ke empat, yaitu memberikan kepastian hukum bagi desa untuk menjalankan peran dan kewenangan desa dalam intervensi gizi terintegrasi.

Bolmut juga menjadi contoh bagi daerah lain di Sulut. Karena mereka baru memulai langkah pencegahan stunting.

RS Minta Maaf Karena Jenazah Covid-19 Tertukar dan Buat Keluarga Histeris, Ini Fakta-Faktanya

Lebih lanjut, Maloho yang juga selaku Ketua Tim Penanggulangan Stunting di Bolmut menegaskan stunting merupakan salah satu program nasional dalam pembangunan Sumber Daya Manusia.

"Untuk itu, masalah stunting jadi tanggung jawab kita bersama," sebutnya.

Senada, Kepala Dinas Kesehatan Bolmut dr Jusnan Mokoginta MARS, mengemukakan bahwa kasus Stunting di Bolmut terus mengalami penurunan. Di mana, pada tahun 2017 43 persen dan pada tahun 2020 turun drastis menjadi 16,5 persen.

“Keberhasilan ini berkat kerja sama melalui intervensi sensitif yang melibatkan beberapa SKPD, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa dan masyarakat,” sebut Mokoginta.

VIDEO Viral Pedagang Bakso, Diduga Lakukan Hal Ini pada Mangkuk Pesanan Pembeli, Tersebar di Medsos

Dirinya yang juga selaku Sekretaris Penanggulangan stunting mengungkapkan sebanyak 10 desa menjadi pilot project di Kabupaten Bolmut tahun 2020.

Dimana stunting merupakan keterlambatan tumbuh – kembang balita yang disebabkan oleh dua hal, yakni tidak tercukupinya kebutuhan gizi dan penyakit infeksi menular.

“Standarnya itu ada di buku KIA, dan untuk mengenal stunting di sini ada dua pendekatan melalui intervensi spesifik dan intervensi sensitif,” ungkapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved