Perempuan Minahasa, Bicaralah
Perempuan Minahasa itu intelijen andal, jago tempur militer, berani, mandiri, kreatif, banyak inisiatif, serba bisa, cantik, ramah, dan pandai lobi
Oleh: J Osdar, Wartawan Senior
Bicara ihwal perempuan Minahasa, yang terbayang pertama di imajinasi saya adalah sosok mama kandung saya sendiri yang tercinta. Tapi, maaf sekali saya tidak mau mengemukakan apa yang saya bayangkan tentang mama saya sendiri. Bisa jadi, terlalu narsis. Bisa membuat orang lain bosan atau pastiu membaca artikel ini. Tidak membicarakan hal yang narsis itu saja pembaca bisa pastiu (bosan) apalagi kalau diberi uraian tentang mama sendiri. Wouuw. Suda jo neh.
Saya menulis tentang Perempuan Minahasa ini sangat bertalian erat dengan seruan Gubernur Olly Dondokambey (OD), agar pajak 10 persen atas hasil pertanian seperti pala, kopra dan cengkeh (cingke) dihapuskan saja. Karena pertanian di Sulut adalah pertanian rakyat, bukan perusahaan besar. Hasil-hasil pertanian itu baru bahan baku, bukan barang jadi dari proses produksi. Imbauan OD ini merupakan suara rakyat Sulawesi Utara. Suara rakyat adalah suara Tuhan. (Vox populi vox Dei, non vox diaboli (suara rakyat adalah suara tuhan, bukan setan).
Imbauan OD itu disampaikan tanggal 1 Juni 2020. Bulan Juli 2020 mulai panen raya cengkeh. Maka antara tanggal satu sampai 25 Juni 2020 merupakan kesempatan bagi para pendukung ODSK (Olly Dondokambey - Steven Kandouw) menjadi momentum atau kesempatan mengerahkan pikiran dan tenaga agar imbauan itu terealisasi. Tapi, paling tidak di WA Group yang bertebaran di Sulut nampak sepi-sepi mengulas ini. Bila seruan dukungan atau usaha jungkir balik disampaikan setelah tanggal 25 Juni, maka yang akan muncul adalah para pahlawan kesiangan. Pahlawan yang baru bangun tidur di tenga aritua. Oh kasiang, kasiane ngoni.
Saya mengkaitkan dengan perempuan Minahasa, karena merekalah yang hidup sehari-hari bersama nafas ekonomi masyarakat banyak. Kehidupan ekonomi sehari-hari bisa dilihat dari dalam kehidupan dapur rumah tangga. Ini berkaitan erat dengan para perempuan. Dulu, pahlawan perempuan Minahasa, Maria Josephine Chaterine Maramis atau yang dikenal dengan Walanda Maramis berjuang dengan dimulai dari dalam rumah tangga sendiri sebelum di luar rumah. Walanda Maramis, lahir di Kema, Minahasa Utara, 1 Desember 1872. Wafat 22 April 1924.
Sangat Sepi
Kembali soal imbauan Gubernur Olly (OD) tanggal 1 Juni 2020. “Tindak lanjut dari para elit politik (pendukung) tampaknya sangat sepi, yang ada tanggapan apresiasi dari publik/rakyat banyak,” kata Irfan Sembeng dari sebuah suratkabar di Manado, Rabu pagi, 24 Juni 2020. Tentang suara dari perempuan Minahasa ? “Sama saja. Sampai saat ini tidak menyampaikan apa apa ke publik,” kata Irfan.
Seorang teman, Gerdi Worang , Selasa malam 23 Juni 2020, mengatakan masyarakat Sulut mendukung, tapi gerak sosialisasi dari imbauan itu perlu dilakukan berulang-ulang. “Kita belum liat respons di group-group WA,” kata Gerdi Worang.
Gerdi pada hari Selasa malam, 23 Juni 2020, mengatakan akan menghubungi tema-teman wartawan untuk blow up. “Musti disosialisasikan berulang-ulang,” ujar Gerdi sekali lagi.
Minimnya usaha sosialisasi di kalangan elit politik juga dinyatakan kepada saya oleh anggota DPR Provinsi Sulut, Sandra Rondonuwu, Senin, 22 Juni 2020.
Debee Momongan, penggerak petani perempuan menanam tanaman organik di Kampung Tumani, Kecamatan Maesaan, Minahasa Selatan, sekitar 130 kilometer selatan Manado, mengatakan menarik imbauan dari OD itu.
“Kita belum dengar tanggapan dukungan dari orang-orang parampuang Sulut di DPR Provinsi, Kabupaten, Kota dan di pemerintahan provinsi/ kabupaten serta kota,” kata Debee.
“Pandemi corona ini membuat sektor pertanian di Tumani terpuruk. Selain itu, hama tikus membuat panen padi dan jagung banyak yang gagal. Kopra dan cengkeh juga sekian lama terpuruk di pasar,” kata Debee, Rabu pagi 24 Juni 2020.
Reger Mandang (52 tahun), petani cengkeh mandiri di Kampung Kiawa I, Kawangkoan, sejak tanggal 1 Juni 2020, berkali-kali mengatakan kepada saya sangat gembira atas imbauan OD tentang pajak hasil pertanian itu. “Kami tinggal menunggu dukungan dari DPR Provinsi, Kabupaten dan Kota,” kata Reger.
Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi/ Kabupaten dan Kota di Sulut adalah wakil rayat Sulut. Suara mereka adalah suara rakyat. Tapi, begitu sunyi suara mereka soal kopra, pala dan cengkeh yang menjadi hajat hidup 80 persen rakyat Sulut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/debee-momongan.jpg)