Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

News

Tiongkok Harus Belajar Berbagi Agar Konflik Tak Pecah di Laut China Selatan

Memanasnya gerakan militer di wilayah Laut China Selatan, Membuat kegelisahan bagi negara disekitarnya bahkan para nelayan.

Editor: Glendi Manengal
Nicholas Huynh/Handout via REUTER
ILUSTRASI. Situasi di Laut China Selatan kian memanas. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Memanasnya gerakan militer di wilayah Laut China Selatan.

Membuat kegelisahan bagi negara disekitarnya bahkan para nelayan.

Terkait hal tersebut dari membuat orang berpikir bagaimana cara agar tak memecahkan konflik di wilayah tersebut.

VIRAL Jenazah PDP Covid-19 di Surabaya Hanya Dipakaikan Popok Tanpa Kain Kafan, RS Beri Bantahan

KISAH Putra Asli Papua Pertama Berpangkat Jenderal Bintang 3 TNI AD, Pernah Jadi Buruh Pengaspal

Ingat Sahabat Al Ghazali yang Dibunuh Ibu dan Kakak Tiri? Pembunuh Dana Kini Divonis Hukuman Mati

Dua Kapal China Serang Kapal Vietnam di Laut China Selatan, Situasi Makin Genting
Dua Kapal China Serang Kapal Vietnam di Laut China Selatan, Situasi Makin Genting (ISTIMEWA)

Mantan Wakil Direktur Administrasi Keselamatan Maritim Hainan Zhang Jie seolah tak percaya dengan perubahan yang cepat di Kepulauan Spratly.  

Tetapi hal-hal mulai berubah pada tahun 2013, ketika Beijing memulai program pembangunan pulau dan pembangunan infrastruktur untuk mengubah gugusan pulau kecil dan terumbu menjadi pusat penelitian kelautan dan menjadi perhatian beberapa tetangganya.

"Saya terkejut ketika melihat foto-foto pesawat sipil mendarat di Fiery Cross Reef [pada 2016], yang hanya berupa batu kecil yang muncul dari laut ketika saya mengunjunginya beberapa tahun sebelumnya," kata Zhang.

"Luar biasa bagaimana mereka mengubahnya menjadi daratan besar dengan landasan terbang sepanjang 3.000 meter," katanya.

Pada tahun-tahun sejak penerbangan pertama itu, pengembangan Spratly terus berlanjut.

Mischief dan Subi reef yang bertetangga sekarang juga memiliki landasan terbang yang mampu menampung pesawat besar.

Ada juga berbagai bangunan dan fasilitas yang cocok untuk keperluan militer atau sipil seperti hanggar untuk jet tempur.

Kehadiran inilah yang paling menimbulkan kegelisahan di antara negara lain dan hak terkait dengan perikanan dan eksplorasi sumber daya yang tersebar di Laut China Selatan.

Keita Beijing mengklaim sekitar 90% dari jalur air yang disengketakan sebagai wilayah kedaulatannya, Vietnam, Malaysia, Brunei, Taiwan dan Filipina juga memiliki klaim sendiri.

Demikian juga, Amerika Serikat dan banyak sekutunya di Eropa telah mengkritik apa yang mereka lihat sebagai gerakan China yang semakin agresif di wilayah tersebut.

Tetapi Zhang yang kini bekerja sebagai peneliti di Institut Nasional Studi Laut Cina Selatan, mengatakan hal tersebut tidak selalu seperti itu.

Dalam lebih dari 30 tahun di agensi tersebut, dia bilang ada sejumlah proyek penelitian kolaboratif dengan para ilmuwan dari seluruh wilayah.

"Kami membangun mekanisme komunikasi yang komprehensif dan bekerja bersama untuk menyelamatkan banyak orang," katanya.

"Tidak masalah apakah mereka orang China atau Korea atau Vietnam, atau apa pun. Di mata penyelamat, nyawa itu penting, bukan dari mana asalnya. ”

Meskipun Beijing telah berulang kali mengatakan bahwa program pembangunan pulau adalah untuk kebaikan global, tidak hanya memberi manfaat bagi kapal dagang yang lewat tetapi juga nelayan dari seluruh Asia Tenggara, banyak pengamat yang kurang yakin.

"Kecuali mercusuar, penggunaan semua layanan publik lainnya yang ditawarkan oleh China sangat terbatas, sementara jumlah perselisihan antara nelayan Tiongkok dan saingan mereka dari negara-negara tetangga terus meningkat," kata Zhang Mingliang, seorang profesor yang mengkhususkan diri dalam studi Laut Cina Selatan di Universitas Jinan di Guangzhou.

Gejolak di Laut China Selatan
Gejolak di Laut China Selatan (Google Maps)

"Perselisihan dan kebuntuan ini adalah hasil dari konsep yang sudah ketinggalan zaman dimana banyak orang China menganggap sumber daya Laut China Selatan sebagai keuntungan eksklusif yang tidak boleh dibagi," kata Zhang.

"Tetapi opsi yang lebih berkelanjutan adalah bagi China, sebagai negara terbesar dan paling kuat di kawasan ini, untuk berbagi sumber daya itu, dan dengan demikian membantu menjaga perdamaian dan stabilitas jangka panjang," ungkapnya.

KISAH Putra Asli Papua Pertama Berpangkat Jenderal Bintang 3 TNI AD, Pernah Jadi Buruh Pengaspal

Buang Air Kecil Sembarangan, Pria 28 Tahun Dijatuhi Hukuman 14 Hari Penjara, Tertangkap Kamera

VIRAL Jenazah PDP Covid-19 di Surabaya Hanya Dipakaikan Popok Tanpa Kain Kafan, RS Beri Bantahan

Artikel ini telah tayang di kontan.co.id dengan judul " Agar konflik tak pecah, China harus belajar berbagi di Laut China Selatan "

Sumber: Kontan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved