Berita Internasional
Presiden AS Donald Trump Tuntut China Bayar Rp 14.000 Triliun
Langkah memberatkan China itu mau diambil oleh Donald Trump karena China dinilai sebagai sumber asal virus corona atau covid-19.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Presiden AS Donald Trump mau mengambil langkah hukum terkait penyebaran virus corona atau covid-19, yakni menuntut China bayar ganti rugi Rp 14.000!
Tuntutan fantastis yang hendak dilakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu dikabarkan portal Soha.vn, Sabtu (13/6/2020).
Langkah memberatkan China itu mau diambil oleh Donald Trump karena China dinilai sebagai sumber asal virus corona atau covid-19.
• HOTEL Ini Kamarnya Tanpa Dinding, Pintu & Atap Tapi Per Malam Rp 4,4 Juta, Begini Potretnya
Sementara itu, sebelumnya dikabarkan, diperburuk dengan Demo Kematian George Floyd, Kini Jumlah Kematian Akibat Virus Corona di AS Telah Melampaui Jumlah Kematian Akibat Perang Dunia I.
Apa yang dilakukan Donlad Trump merupakan serangkaian kebijakan baru mulai dari mempertimbangkan pelarangan visa pelajar hingga mempertimbangkan kembali kontrak perdagangan.
Namun, beberapa anggota parlemen sayap kanan mengusulkan gagasan "terobosan" daripada AS yang menolak membayar hampir $ 1,1 triliun utang obligasi yang dipegang China.
Proposal ini membingungkan banyak analis.
Mereka berpikir bahwa meskipun ini adalah ide yang menarik, itu akan sangat berbahaya bagi perekonomian yang menderita resesi akibat pandemi dan akan meningkatkan jumlah besar hutang nasional AS.
Senator Lindsey Graham, sekutu dekat Mr. Trump, mengatakan kepada Fox News:
"Mereka (China) harus menjadi orang yang membayar kita, bukan kita membayar China."
• Wanita Indonesia Curi Tas & Baju Louis Vuitton Rp 700 Juta, Fakta Lain Terungkap
Graham kemudian menyebutkan usulan Senator Marsha Blackburn bahwa AS dapat membatalkan pembayaran utang yang dipegang China.
John Yoo, seorang profesor hukum di University of California, mengatakan AS "bisa membuat China mengimbangi pandemi COVID-19" dengan membatalkan komitmennya pada obligasi.
"Washington bahkan dapat menghancurkan nilai obligasi yang dimiliki China dan menciptakan dana untuk mengkompensasi warga Amerika yang terkena pandemi," tulisnya.
Meskipun Yoo mengakui bahwa ini akan mengganggu pasar keuangan, yang lain berpikir bahwa konsekuensi bagi ekonomi global akan jauh lebih buruk.
Kelayakan ide tersebut
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/presiden-as-donald-trump-34.jpg)