Jumat, 17 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Aksi Demo Bawa Korban Editor  Eksekutif: Kritik Kasar Gerakan Black Lives Matter

Unjuk rasa berkepanjangan terkait rasisme dan diskriminasi membawa korban seorang editor eksekutif surat kabar Philadelphia.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
AFP/Seth Herald
Tampak sejumlah demonstran melakukan aksi unjuk rasa atas kematian George Floyd, di Detroit, Michigan, Amerika Serikat, Minggu (31/5/2020) waktu setempat. Meninggalnya George Floyd, seorang pria keturunan Afrika-Amerika, saat ditangkap oleh polisi di Minneapolis beberapa waktu lalu memicu gelombang aksi unjuk rasa dan kerusuhan di kota-kota besar di hampir seantero Amerika Serikat. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, WASHINGTON - Unjuk rasa berkepanjangan terkait rasisme dan diskriminasi membawa korban seorang editor eksekutif  surat kabar Philadelphia. Editor bernama Stan Wischnowski yang telah 20 tahun bekerja di Philadelphia Inquirer mengundur diri setelah surat kabar itu memuat headline kontroversil berjudul "Building Matter, Too (Bangunan Penting Juga).”

Presidential Threshold Diusulkan Turun 10 Persen

Stan Wischnowski telah menjadi editor eksekutif selama satu dekade, menurut memo dari penerbit surat kebar, Lisa Hughes. Hari terakhir Wischnowski adalah 12 Juni, kata Hughes dalam memo itu. Pengganti untuk posisi tersebut belum disebutkan.

Pada Selasa(2/6) lalu, sebuah artikel diterbitkan tentang kekhawatiran bangunan bersejarah dapat rusak selama aksi unjuk rasa terkait kematian seorang pria kulit hitam George Floyd. Judulnya berbunyi, "Bangunan Penting, Juga."

Polisi Detroit menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstran yang melakukan aksi unjuk rasa atas kematian George Floyd, di Detroit, Michigan, Amerika Serikat, Minggu (31/5/2020) waktu setempat. Meninggalnya George Floyd, seorang pria keturunan Afrika-Amerika, saat ditangkap oleh polisi di Minneapolis beberapa waktu lalu memicu gelombang aksi unjuk rasa dan kerusuhan di kota-kota besar di hampir seantero Amerika Serikat.
Polisi Detroit menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstran yang melakukan aksi unjuk rasa atas kematian George Floyd, di Detroit, Michigan, Amerika Serikat, Minggu (31/5/2020) waktu setempat. Meninggalnya George Floyd, seorang pria keturunan Afrika-Amerika, saat ditangkap oleh polisi di Minneapolis beberapa waktu lalu memicu gelombang aksi unjuk rasa dan kerusuhan di kota-kota besar di hampir seantero Amerika Serikat. ((AFP/Seth Herald))

Berita itu kegemparan dari staf surat kabar itu. Setidaknya 40 jurnalis mendadak tidak masuk dan mengaku sakit, Kamis (4/6). Dalam sebuah surat terbuka kepada editor, para jurnalis mengutuk apa yang mereka sebut kecerobohan pemimpin kita (yang) membuat pekerjaan menjadi sulit , dan paling buruk menempatkan hidup mereka dalam risiko.

Wischnowski, bersama dengan editor,  Gabriel Escobar, dan Redaktur Pelaksana Patrick Kerkstra, menandatangani permintaan maaf. Dalam permintaan maaf itu mereka mengatakan berita utama di Philadelphia Inquirer itu tidak dapat diterima  meskipun telah melalui proses penyuntingan.

Haji 2021 hanya Setengah Kuota: Jemaah Lansia Jadi Prioritas

"Berita utama itu secara kasar mengomentari gerakan Black Lives Matter, dan menyarankan kesetaraan antara hilangnya bangunan dan kehidupan orang kulit hitam Amerika. Itu tidak bisa diterima," tulis para editor dalam permintaan maaf.

Dalam sebuah tweet Kamis, surat kabar itu mengatakan berita tersebut ofensif, tidak pantas, dan seharusnya tidak dicetak. "Kami akan memperluas komitmen kami untuk membangun ruang redaksi yang mencerminkan komunitas yang dilayaninya secara lebih baik,” kata permintaan maaf itu.

Pengunjukrasa meluapkan amarahnya kepada petugas NYPD dalam aksi unjuk rasa 'Black Lives Matter' di kota New York, Kamis (28/5/2020). Amerika Serikat dilanda kerusuhan hebat, pasca meninggalnya George Floyd akibat kehabisan nafas, setelah lehernya ditindih seorang petugas Polisi Minneapolis dalam sebuah penangkapan.
Pengunjukrasa meluapkan amarahnya kepada petugas NYPD dalam aksi unjuk rasa 'Black Lives Matter' di kota New York, Kamis (28/5/2020). Amerika Serikat dilanda kerusuhan hebat, pasca meninggalnya George Floyd akibat kehabisan nafas, setelah lehernya ditindih seorang petugas Polisi Minneapolis dalam sebuah penangkapan. (AFP/JOHANNES EISELE)

Lisa Hughes mengatakan perusahaan pers itu akan lebih hati-hati saat mencari editor eksekutif yang baru. "Kami akan menggunakan momen ini untuk mengevaluasi struktur organisasi dan proses ruang berita, menilai apa yang kami butuhkan, dan mencari secara internal dan eksternal untuk seorang pemimpin berpengalaman  dan memahami keragaman komunitas,” kata memo dari Hughes.

Kesalahan itu terjadi pada minggu yang sama ketika New York Times mendapat kecaman dari beberapa stafnya karena menerbitkan sebuah berita berjudul "Tom Cotton: Send In the Troops". Isinya memberitakan Senator Republik Tom Cotton menyatakan militer harus dikirim untuk memadamkan unjuk rasa dan memulihkan ketertiban.

Masjid di Jakarta Perlahan Selenggarakan Salat Berjemaah

The Times merespons dengan menambahkan catatan editor, berbunyi, "Setelah publikasi, esai ini mendapat kritik keras dari banyak pembaca (dan banyak rekan Times), mendorong para editor untuk meninjau ulang karya tersebut dan proses pengeditan. Berdasarkan ulasan itu, kami telah menyimpulkan berita itu  tidak memenuhi standar kami dan seharusnya tidak dipublikasikan." (cnn/feb)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved