Update Virus Corona Indonesia
BREAKING NEWS, Hari Ini Sabtu 6 Juni, 993 Orang di Indonesia Positif Virus Corona
Pemerintah pusat Republik Indonesia, melalui Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto telah mengumumkan jumlah virus corona.
Penulis: Rizali Posumah | Editor: Rizali Posumah
TRIBUNMANADO.CO.ID - Update jumlah kasus positif virus corona di seluruh Indonesia, Sabtu (6/6/2020).
Pemerintah pusat Republik Indonesia, melalui Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto telah mengumumkan jumlah kasus positif virus corona di seluruh Indonesia.
Data menunjukan bahwa hari Sabtu ini terjadi penambahan kasus positif virus corona sebanyak 993 kasus.
Berarti saat ini, total kasus positif virus corona di seluruh Indonesia sebanyak 30.514.
Dari data tersebut ada 9.907 orang yang dinyatakan sembuh. Sementara sebanyak 1.801 dinyatakan meninggal dunia.
Achmad Yurianto mengimbau kepada masyarakat agar mulai beradaptasi dengan keadaan pandemi virus corona ini.
"Bagaimana kita aman dari Covid-19. Oleh karena itu kita tidak henti-hentinya untuk berubah, untuk beradaptasi dengan kehidupan kita saat ini. Dengan menggunakan masker dan rajin cuci tangan," imbaunya. (tribunmanado.co.id)
Mahfud MD: Tak Bisa Kita Sembunyi Terus karena Takut, Lalu Ekonomi Mati
Masyarakat Indonesia tidak bisa bersembunyi terus karena takut menghadapi pandemi Covid-19.
Demikian yang dikatakan Menko Polhukam Mahfud MD.
Mahfud mengatakan, apabila hal tersebut terus dilakukan, maka perekonomian Indonesia akan mati.
"Tidak bisa kita ini bersembunyi terus, karena takut pada pandemi, lalu ekonomi mati," ujar Mahfud MD dalam halalbihalal Ikatan Alumni Universitas Brawijaya secara virtual, Sabtu (6/6/2020).
Mahfud MD mengatakan, pemerintah memang menyediakan dana untuk kebutuhan ekonomi kaum miskin dan yang terdampak.
Namun, tentu pemerintah hanya menyediakan dana tersebut dalam waktu yang terbatas.
Untuk saat ini hanya tiga bulan, dan kemudian barangkali bisa diperpanjang.
"Sesudah itu mau apa? Sementara pemerintah juga harus menyiapkan jaring pengaman sosial atau social safety net," tuturnya.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut mengatakan, seluruh masyarakat harus menghadapi pandemi Covid-19 ini secara bersama-sama.
Hal itu tak lepas karena pandemi tersebut merupakan musuh bersama.
"Pandemi Covid-19 ini adalah musuh kita bersama."
"Pemerintah menyatakan ini sebagai bencana nasional non alam."
"Oleh karena bencana, maka harus kita hadapi bersama, musuh bersama," tuturnya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi ) mengatakan pemerintah menginginkan masyarakat tetap produktif dan aman di tengah darurat Covid-19.
Masyarakat tetap dapat beraktivitas namun aman dari penularan Covid-19.
"Ya beraktivitas, ya," ujar Presiden dalam video yang diterima Tribun, Jumat (15/5/2020).
Menurutnya, lambat laun masyarakat harus berkompromi dengan Covid-19.
Masyarakat harus hidup berdampingan dengan Corona.
Karena berdasarkan laporan WHO, virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina itu tidak akan hilang.
"Karena informasi terakhir dari WHO, yang saya terima, bahwa meskipun kurvanya sudah agak melandai, atau nanti menjadi kurang, tapi virus ini tidak akan hilang."
"Artinya, sekali lagi kita harus berdampingan hidup dengan Covid."
"Sekali lagi yang penting masyarakat produktif dan aman dari Covid," tuturnya.
Berdamai dengan Covid-19 menurut Presiden bukan berarti bahwa masyarakat menyerah terhadap penyebaran virus yang hampir menyebar di seluruh negara di dunia itu."
"Melainkan, masyarakat harus menyesuaikan diri dengan penyebaran virus tersebut.
"Kita lawan keberadaan virus Covid tersebut dengan mengedepankan dan mewajibkan protokol kesehatan yang ketat, yang harus kita laksanakan," jelasnya.
Pemerintah, menurut Presiden, akan mengatur kehidupan masyarakat akan kembali normal secara bertahap, menyesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.
Keselamatan masyarakat menurutnya harus tetap menjadi prioritas.
"Ini bukan dilema. Kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini."
"Itu keniscayaan, itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal, atau tatanan kehidupan baru."
"Tapi kehidupan yang berbeda itu bukan kehidupan yang penuh pesimisme atau ketakutan."
"Kita kembalikan produktivitas kita dengan optimisme, karena kita juga tetap menerapkan berbagai mekanisme pencegahan," paparnya.
Presiden Jokowi juga mengatakan pemerintah belum akan melonggarkan protokol kesehatan PSBB dalam menghadapi penyebaran Covid-19.
Pemerintah akan terlebih dahulu melihat perkembangan penyebaran Covid-19 sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.
"Belum ya. tetapi kita ingin terus akan melihat angka-angka."
"Akan melihat fakta-fakta di lapangan," kata Presiden.
Menurutnya, keputusan atau kebijakan dalam menghadapi penyebaran Covid-19 harus dikaji dengan matang.
Sehingga, tidak keliru dalam penerapannya di lapangan.
"Intinya, kita harus sangat hati-hati."
"Jangan sampai kita keliru memutuskan, jangan sampai keliru memutuskan," tegas Presiden.
Jokowi mengatakan bahwa pemerintah ingin masyarakat produktif kembali.
Masyarakat tetap berpenghasilan namun tetap aman dari penularan dengan menjaga protokol kesehatan.
" Tetapi, kita juga harus melihat kondisi masyarakat sekarang ini."
"Kondisi yang terkena PHK, kondisi masyarakat yang tidak berpenghasilan lagi."
"Ini harus dilihat. Kita ingin masyarakat produktif dan tetap aman dari Covid," cetusnya. (Kompas.com)
• Chord dan Lirik Lagu Selalu Sabar - Shiffa Harun, Kunci Gitar Dasar C Mudah
• Hapus Tato di Dada, Nikita Mirzani Akui Rogoh Kocek hingga Rp 48 Juta
• Pemkab Minahasa Telah Salurkan Bantuan Sosial Tunai kepada 17.484 Kepala Keluarga
Sebagian artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Mahfud MD: Tidak Bisa Kita Bersembunyi Terus karena Takut Pandemi, Lalu Ekonomi Mati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/jumlah-kasus-positif-virus-corona-di-seluruh-indonesia-sabtu-662020.jpg)