Ancaman Trump Tak Bikin Takut Perusuh: Bakal Terjunkan Militer Bersenjata
Unjuk rasa disertai aksi anarkis yang telah berlangsung berhari-hari di seantero Amerika Serikat (AS) membuat murka Presiden Donald Trump.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, WASHINGTON – Unjuk rasa disertai aksi anarkis yang telah berlangsung berhari-hari di seantero Amerika Serikat (AS) membuat murka Presiden Donald Trump. Ia mengancam akan menerjunkan pasukan militer bersenjata untuk meredam kerusuhan massal terkait kematian George Floyd (46), seorang pria kulit hitam, yang melibatkan oknum polisi kulit putih di Kota Minneapolis.
• Tahapan Pilkada Dilanjutkan 15 Juni
Namun ancaman Trump itu tak digubris. Aksi anarkisme terus berlangsung di berbagai kota di AS. Di beberapa kota para perusuhan bahkan berani menyerang polisi menggunakan senjata api.
Dari Kota St Louis dilaporkan empat polisi ditembak orang tak dikenal. Tiga polisi ditembak di bagian kaki, sedangkan seorang lainnya di lengan. "Syukurlah mereka masih hidup," kata Kepala Kepolisian St Louis, John Hayden.
Demikian pula di Kota Las Vegas, dua polisi terkena tembakan. Gubernur Nevada Steve Sisolak mengakui telah mendapat laporan mengenai insiden penyerangan terhadap polisi itu.
Dalam pidato di Gedung Putih, Washington DC, Senin (1/6) sore waktu setempat atau Selasa pagi WIB, Trump menyebut militer AS akan diterjunkan jika kekerasan yang meluas tidak ditumpas. Ancaman itu bukan hanya ditujukan kepada para perusuh tetapi juga para wali kota dan gubernur.
"Jika sebuah kota (wali kota) atau negara bagian (gubernur) menolak mengambil tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan dan properti penduduk mereka, saya akan mengerahkan militer Amerika Serikat secara cepat untuk menyelesaikan masalah mereka," kata Trump.
Presiden dari Partai Republik itu menegaskan berkomitmen untuk menegakkan hukum dan memobilisasi sumber daya militer untuk mengakhiri penjarahan nasional. "Tugas pertama dan tertinggi saya sebagai presiden adalah untuk membela negara besar kita dan rakyat Amerika. Saya bersumpah menegakkan hukum negara kita dan itulah yang akan saya lakukan," katanya.
Trump memberi sinyal akan menggunakan seluruh hak prerogatifnya sebagai preside -- termasuk mengancam akan menggunakan Undang-undang 1807 tentang pemberontakan - untuk memastikan berakhirnya aksi kekerasan. “Saya akan mengerahkan ribuan tentara bersenjata lengkap daba aparat penegak hukum, untuk menertibkan kondisi,” katanya.
Mengenai oknum polisi yang mengakibatkan tewasnya George Floyd, Trump berjanji akan memberikan keadilan kepada korban. "Saya bersama warga AS lainnya benar-benar muak melihat video yang menunjukkan insiden itu,” kata Trump.
• Pekerjaan Apa yang Banyak Dilirik di Tengah Pandemi Covid-19 dan Cocok untuk Dilamar?
Setelah kematian Floyd, beredar sejumlah video yang menggambarkan polisi bernama Derek Chauvin menindih leher korban menggunakan lutut selama beberapa menit. “Please..please..please I can’t breathe (Tolong saya tidak bisa bernafas).” Korban kemudian tewas di lokasi kejadian.
Keluar Gedung Putih
Setelah berpidato di Gedung Putih, Trump berjalan kaki menyeberangi Lafayette Park menuju ke Gereja St John’s, dibentengi petugas Secret Service (pengawal presiden AS) dan polisi antihuru-hara. Beberapa waktu sebelumnya polisi menghalau sejumlah pengunjukrasa yang melakukan aksi di gerbang Gedung Putih.
Gereja St John’s merupakan rumah ibadah yang biasa digunakan oleh presiden AS selama lebih dari seabad karena berada tak jauh dari Gedung Putih. Sebgian dari gerjeja itu terbakar saat berlangsung unjuk rasa pada Minggu malam.
"Kita merupakan negara terbesar di dunia," kata Trump di depan gereja sambil memegang Alkitab. Di tempat itu ia didampingi sejumlah pejabat tinggi AS, antara lain Penasihat Keamanan Nasional Robert O'Brien, Jaksa Agung Bill Barr, Penasihat Senior yang juga menantu Jared Kushner, Kepala Staf Kepresidenan Mark Meadows, Menteri Pertahanan Mark Esper, dan Juru Bicara Kepresidenan Kayleigh McEnany.
• Sekkot Manado Menyerahkan SK Kepada Plt Kaban Keuangan Pemkot
Menurut informasi Trump marah besar ketika diberitakan ia dimankan di bunker bawah tanah Gedung Putih pada Jumat lalu ketika terjadi unjuk rasa di dekat lokasi itu. Ia kemudian memberitahu para pejabat AS ingin keluar dari gerbang Gedung Putih. Itulah mengapa Trump kemudian berjalan kaki ke Gereja St John’s . (cnn/feb)