Update Virus Corona Sulut
Cerita Ahli Teknologi Laboratorium Medik Yang Tetap Semangat Bekerja Saat Pandemi Covid-19
Setiap hari, Debora mengaku menghabiskan lebih banyak waktunya di laboratorium.
Penulis: Fistel Mukuan | Editor: Maickel Karundeng
Sebagai tenaga medis, Debora pernah merasakan bekerja saat mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap, sesuai protap tenaga medis di masa pandemi Covid-19.
Selama enam jam bertugas, dia dan kawan-kawannya tak boleh makan, apalagi buang air.
Masker yang dipakai pun berlapis-lapis sehingga untuk bernapas saja agak sulit.
"Rasanya seperti mandi uap. Panasnya luar dalam. Seluruh tubuh kami terbungkus APD. Sulit sekali dalam keadaan seperti itu. Kami harus berjuang, tetap beraktivitas meski dalam keadaan seperti itu. Kalau badan tidak fit bisa-bisa saja tumbang," ungkapnya.
Meski harus melalui masa-masa sulit itu, Debora merasa memiliki tanggung jawab yang besar untuk tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai tenaga medis.
Kondisi para pasien lah yang menjadi motivasi kuat baginya untuk tetap ikhlas dan melakukan yang terbaik saat bekerja.
"Awalnya, saya memang merasakan konflik batin. Sebagai manusia biasa, tentunya ada rasa takut dalam menghadapi masa pandemi Covid-19 ini. Tapi lepas dari ketakutan saya itu, saya selalu teringat sumpah profesi yang sudah saya ucapkan saat selesai pendidikan, sumpah yang saya ucapkan dengan lantang di depan Tuhan dan orangtua saya yang menjadi saksi saat itu," lanjutnya.
Semua itu, diakui Debora, dijalaninya dengan keyakinan bahwa Tuhan pasti menolong.
"Setelah itu, puji Tuhan selesai bertugas, meski dalam keadaan dehidrasi dan tenaga fisik terkuras, saya bersyukur bisa melaluinya. Apalagi hingga saat ini saya tetap sehat dan semangat untuk bekerja," tambahnya.
Anak sulung dari dua bersaudara ini mengaku bangga menjadi bagian dari tenaga medis.
"Saya bangga dengan profesi dan pekerjaan saya sekarang. Meskipun mungkin tak banyak orang yang tau tentang profesi ATLM ini," lanjut dia.
Diakui Debora, dalam semua pekerjaan yang dilakukannya, dia selalu mengawali dan mengakhiri dengan rasa syukur.
"Sekalipun sebagai manusia kita merasa tidak mampu, tapi saya selalu percaya bagi Tuhan tiada yg mustahil. Dia pasti membuat saya mampu. Karena saat kita berjalan bersama Tuhan, mensyukuri seperti apapun kondisi kita, mengawali semuanya dengan doa, sukacita dan hati yang gembira, pertolongan Tuhan akan selalu ada," tutupnya.(fis)
Foto istimewa
Data diri
Nama Lengkap : Debora Micrain Oroh
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/debora-micrain-oroh-23.jpg)