Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kondisi Tubuh Setelah Sembuh dari Virus Corona, Tak Lagi Bugar dan Sesak Nafas, Waktu Pemulihan Lama

Profesor Paul mengatakan, penyakit tersebut menimbulkan gejala yang mirip dengan sindrom kelelahan kronis, tetapi belum yakin 100 persen

Editor: Finneke Wolajan
istimewa
Ilustrasi perawatan pasien virus corona 

"Kami tertarik untuk meneliti efek dari Covid-19. Penyakit ini memiliki spektrum gejala yang luas—dari gangguan pernapasan yang relatif ringan hingga pneumonia yang sangat parah."

Profesor Greg sedang meneliti dampak Covid-19 termasuk dalam kasus tidak parah, dengan memperhatikan beberapa faktor seperti ketahanan penderita berolahraga, fungsi koordinasi, dan kemampuan berkonsentrasi.

"Tidak lagi bugar"

Salah satu pasien yang menjadi contoh kasus dalam penelitian di rumah sakit tersebut adalah Alex Lewis, yang ditemui ABC pertengahan Maret, setelah dinyatakan positif Covid-19.

Dua bulan setelah dinyatakan sembuh, Alexis masih mengalami kesulitan.

"Saya sebelumnya cukup bugar, namun sekarang tidak lagi. Kondisi pernapasan saya terus memburuk dan berolahraga terasa lebih sulit," katanya.

"Butuh beberapa waktu sembuh. Rasa lelah datang dan pergi," imbuh Alexis.

Komunitas online pasien Covid-19 dari seluruh dunia

Dampak jangka panjang dari Covid-19 dirasakan pasien yang sudah dinyatakan sembuh di seluruh dunia.

Fiona Lowenstein, penulis dari Amerika Serikat yang didiagnosa terjangkit Covid-19 pertengahan Maret lalu merupakan salah satu yang turut merasakan.

"Proses pemulihannya lama sekali dan saya tidak menyangka akan demikian," kata Fiona.

Karena terbatasnya informasi mengenai situasi yang ia alami, Fiona mendirikan sebuah kelompok beranggotakan ribuan mantan pasien Covid-19 untuk mendukung satu sama lain.

Anggota kelompok ini juga merasakan kelelahan dan perasaan tidak enak badan setelah dinyatakan sembuh.

"Saya pikir saya sudah sembuh total beberapa minggu lalu, tapi gejala lama itu malah kembali, ditambah rasa panas dingin dan keringat, juga kelelahan yang sangat intens," katanya.

"Rasanya seperti ditabrak truk setiap jam 4 subuh."

Pengalaman tersebut menjadi dasar dari dibentuknya kelompok di media sosial yang sangat aktif tersebut.

"Jelas sekali bagi saya, perlu ada sebuah komunitas bagi penderita virus ini agar kita bisa berbagi pengalaman satu sama lain," kata dia.

"Kotak pesan saya (di media sosial) dibanjiri pesan masuk."

Artikel ini tayang di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved