Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Update Virus Corona Dunia

Bukan Berasal dari Kelelawar, Virus Corona Diduga Masuk ke Pasar Wuhan China Melalui Manusia

Penelitian yang disebut dilakukan pakar biologi itu memperlihatkan bahwa virus diyakini sudah dibawa oleh orang yang sudah terinfeksi

Editor: Finneke Wolajan
Tribunnews.com
Seorang wanita mengenakan masker menyesuaikan masker anaknya ketika mereka tiba di Stasiun Kereta Api Hankou di Wuhan untuk mengambil salah satu kereta pertama yang meninggalkan kota di provinsi Hubei tengah Cina awal pada 8 April 2020. 

"Bukti menyatakan adanya bagaimana virus itu bisa menyusup ke tubuh manusia melalui introduksi tunggal," papar peneliti tersebut.

Seorang perempuan melintas di depan pasar ikan di Kota Wuhan, China, yang ditutup terkait dugaan sebagai lokasi awal merebaknya virus misterius di negara itu, Minggu (12/1/2020). Virus misterius mirip pneumonia telah menjangkiti puluhan orang dan menelan korban jiwa kedua di China, menurut pemerintah setempat.AFP/NOEL CELIS Seorang perempuan melintas di depan pasar ikan di Kota Wuhan, China, yang ditutup terkait dugaan sebagai lokasi awal merebaknya virus misterius di negara itu, Minggu (12/1/2020). Virus misterius mirip pneumonia telah menjangkiti puluhan orang dan menelan korban jiwa kedua di China, menurut pemerintah setempat.

Mereka menolak berspekulasi bagaimana patogen itu beradaptasi di tubuh manusia.

Meski begitu, mereka berkonsensus tidak ada "campur tangan manusia" dalam munculnya wabah.

Studi itu, yang belum menjalani peer review (penelahan sejawat), bisa kembali memunculkan sorotan kepada pemerintah Negeri "Panda".

Ketika wabah menyebar, Beijing menekankan asal virus itu dari hewan, dan tinggal masalah waktu mereka akan mengungkap hewan perantara itu.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis pernytaaan yang memperkuat penjelasan Beijing, bahwa penyakit itu berasal dari salah satu hewan yang dijual.

Pejabat setempat langsung menutup Pasar Seafood Huanan sehari setelah melayangkan pemberitahuan kepada WHO mengenai pandemi itu.

Sampel pun diambil. Namun hngga empat bulan, hasilnya tak dibagikan dengan ilmuwan dari negara lain, sehingga memunculkan anggapan mereka sengaja menyembunyikannya.

"Tempat Kejadian Perkara (TKP) sudah hilang. Bagaimana kita bisa menyelesaikan kasus tanpa adanya bukti?" tanya Guan Yi, pakar di Universitas Hong Kong.

Artikel ini tayang di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved