Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Update Virus Corona Sulut

BREAKING NEWS, Pasien Virus Corona di Sulawesi Utara Bertambah jadi 74 Orang

Pemerintah pusat kembali menginformasikan data sebaran terkini penanganan virus corona se Indonesia, pada Selasa 12 Mei 2020.

Editor: Rhendi Umar
dewangga ardiananta/tribun manado
Ruang Isolasi di RSUP Kandou Malalayang 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pemerintah pusat kembali menginformasikan data sebaran terkini penanganan virus corona se Indonesia, pada Selasa 12 Mei 2020.

Dari data sebaran terkini yang dibagikan di website covid19.go.id, menjelaskan bahwa Sulawesi utara pada hari ini terjadi penambahan pasien virus corona.  

Hal tersebut berdasarkan data sebaran terkini yang diinformasikan pemerintah pusat.

Setelah sebelumnya hanya 71 orang, kini sudah bertambah 3 orang menjadi 74 orang.

Rinciannya masih dengan data terakhir yaitu 74 pasien terkonfirmasi, sembuh 29 orang, dan meninggal 5 orang.

Sebelumnya Jubir Covid-19 Sulut dr Steaven Dandel menyampaikan kepada masyarakat untuk menghindari perilaku yang sifatnya diskriminatif kepada pasien positif covid-19.

Menurutnya masyarakat harus berempati dan sebenarnya tidak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan dirinya untuk menjadi sakit.

"Jadi keberadaan mereka di rumah sakit tertular itu adalah bagian dari dinamika transmisi penyakit," ujar dia.

Ia pun meminta seharusnya untuk berupaya saling mendukung justru bukan saling menjatuhkan atau malah saling mendiskriminasi.

Pemberlakuan PSBB di Sulut akan Picu Kekacauan

Terpisah Pengamat Sosial Sulut Dr Meike Imbar mengatakan isu pemberlakuan PSBB untuk Sulut mungkin perlu dipikirkan matang-matang karena implikasi nya cukup besar terhadap sektor ekonomi teristimewa pada UMKM.

"Artinya, pemberlakuan harus di dahului studi holistik, publikasi yang masif kepada masyarakat agar masyarakat tidak panik yang mengakibatkan "chaos" kekacauan sosial," papar Imbar kepada Tribun Manado.

Dikatakannya, dampak sosial dari PSBB itu cukup riskan. Apalagi jika akan diberlakukan menjelang hari raya keagamaan. Pasti akan terjadi "panic buying" dan jika tidak ditangani dengan baik bisa menjurus pada kekacauan tadi, sebagaimana pernah dialami oleh beberapa negara yang melakukan kebijakan Lockdown.

"Ingat bahwa tidak semua warga memahami platform PSBB ini," sebut Imbar.

Disisi lain, kata dia, resiko dari PSBB ini yang harus dicermati adalah penurunan daya ekonomi rakyat, yang sudah terkuras sejak pertengahan Maret lalu di Sulut. Dan jika kondisi normal nanti, apakah daya Ekonomi ini masih akan bergeliat kembali, atau justru tidak bisa bangkit lagi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved