Update Virus Corona di Sulut
Pengamat Kesehatan Sulut: Sudah Saatnya Lakukan PSBB
Pasien terkonfirmasi Positif Covid-19 di Sulawesi Utara (Sulut) meningkat tajam. Dari sebelumnya 53 kasus, kini tembus menjadi 71 kasus.
Penulis: Mejer Lumantow | Editor: Rhendi Umar
TRIBUNMANADO.CO.ID - Pasien terkonfirmasi Positif Covid-19 di Sulawesi Utara (Sulut) meningkat tajam. Dari sebelumnya 53 kasus, kini tembus menjadi 71 kasus.
Menanggapi hal ini Pengamat Kesehatan Sulut Jonesius Manoppo mengatakan tajamnya peningkatan kasus tersebut akibat pergerakan orang yang tidak terkontrol, protokol tidak lagi dilakukan dengan baik dan benar.
"Awalnya memang masyarakat masih mematuhi, namun karena masyarakat tidak melihat manfaat dari protokol pencegahan ini, maka banyak orang mulai melanggar, awalnya tidak sengaja, namun karena tidak terjadi apa-apa mereka lanjut mengabaikan," jelas Dosen Epidemiologi ini kepada Tribun Manado.
Dirinya mengatakan, kenyataanya setiap hari tetap ada yang ditetapkan sebagai PDP.
Dua hari terakhir saja ada penambahan 8 orang yang dinyatakan positif.
Nah, dengan tidak adanya penambahan kasus positif dalam satu minggu bukan berarti pandemi covid-19 di Sulut sudah selesai dan tindakan pencegahan itu sudah tidak dibutuhkan lagi.
"Baru-baru ini saja kita sudah ketambahan 18 kasus terkonfirmasi positif, kalau pergerakan kita tidak konsisten maka sulit untuk memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir," tegas Manoppo.
Lanjutnya, memang kita sudah memiliki Laboratorium, dengan beroperasinya laboratorium di daerah ini memang bisa mempercepat kita memastikan pasirn PDP yang ada saat ini positif atau tidak. Sehingga tindakan medis bisa dilakukan secara cepat dan tepat.
"Lebih tepatnya dalam satu minggu pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil yang negatif untuk sampel yang dikirim, tapi bukan berarti juga secara langsung bisa mempercepat penanganan pandemi ini," sebut Manoppo.
Disisi lain, kata Manoppo, dari data survei Community Mobility Report Covid-19 Indonesia yang memantau pergerakan orang ditengah pandemi covid-19, salah satu bukti bahwa orang yang tinggal dirumah selama ini hanya naik 14 persen dari keadaan biasa.
Menurutnya, dari persentase tersebut masyarakat sebenarnya hanya sedikit yang tinggal dirumah dan angka ini cenderung menurun, sedangkan tren orang yang bergerak ke pusat belanja bahan pokok dan tempat rekreasi umum cenderung meningkat.
"Di tempat kerja juga menunjukkan peningkatan aktivitas, hanya berkurang 15 persen dari keadaan normal sebelum pemerintah menetapkan darurat kesehatan masyarakat padahal pada bulan april aktivitas tempat kerja sempat berkurang 70 persen," ungkap Manoppo.
Untuk itu, kata Manoppo, pergerakan orang inilah yang sebaiknya di kontrol pemerintah caranya dengan menerapkan PSBB.
"Sudah saatnya penerapan PSBB ini dilakukan berdasarkan banyaknya temuan pasien positif dari transmisi lokal, bahkan tanpa riwayat perjalanan," kata Manoppo.
Lihat saja sejumlah provinsi yang menerapkan PSBB seperti Jakarta dan Gorontalo, perlahan mulai ada tren penurunan, walaupun memang belum menekan penularan secara signifikan. Nah, bayangkan saja yang belum menerapkan PSBB.