Senin, 27 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Internasional

Hackers yang Berbasis di China Targetkan Situs Pemerintah Se-Asia Pasifik, Termasuk Indonesia

Sebuah laporan baru-baru ini mengklaim bahwa kelompok hacker yang dikenal sebagai 'Naikon' itu telah menargetkan negara di kawasan Asia Pasifik.

Editor: Rizali Posumah
Ilustrasi komputer. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Dalam lima tahun ini sebuah kelompok peretas (hackers) yang berbasis di China disebut secara diam-diam melakukan kampanye spionase cyber terhadap situs pemerintah se-Asia Pasifik.

Sebuah laporan baru-baru ini mengklaim bahwa kelompok hacker yang dikenal sebagai 'Naikon' itu telah menargetkan sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik dan sekitarnya.

Menurut perusahaan keamanan cybersecurity Israel, Check Point, negara-negara yang ditargetkan termasuk di antaranya Australia, Brunei Darussalam, Filipina, Vietnam, Thailand, Myanmar dan Indonesia.

Dikutip dari laman CNBC, Sabtu (9/8/2020), Naikon disebut menargetkan sejumlah kementerian strategis seperti Kementerian yang berfokus pada bidang urusan luar negeri, sains dan teknologi, serta perusahaan milik pemerintah.

Pihak Check Point mengatakan bahwa aktivitas hacker ini dilakukan untuk mengumpulkan data intelijen geo-politik.

Sebelumnya, Peneliti bidang keamanan itu pun kali pertama mengetahui tentang kelompok Naikon ini pada 2015 silam.

Namun, Check Point mengatakan Naikon telah lolos dari radar mereka dan tidak ditemukan bukti baru atau laporan terkait kegiatan mereka hingga saat ini.

Kelompok hacker ini sebenarnya telah aktif selama lima tahun terakhir.

Namun, mereka baru mempercepat aktivitas spionase maya-nya pada 2019 dan kuartal 1 tahun 2020.

Check Point tidak menjelaskan secara rinci apakah Naikon terkait dengan pemerintah China.

Kendati demikian, sebuah laporan terpisah pada 2015 lalu yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan keamanan yang berbasis di Washington, Amerika Serikat (AS), ThreatConnect, mengklaim kelompok hacker itu sebagai unit dari Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA).

Terkait tudingan ini, Kementerian Luar Negeri China pun belum memberikan tanggapannya saat dihubungi CNBC.

Menurut laporan dari ThreatConnect, Naikon berupaya menyusup ke situs lembaga pemerintah dan menggunakan informasi curian yang diperoleh di sana seperti kontak dan dokumen.

Ini dilakukan untuk menyerang departemen lain dari pemerintahan negara yang ditargetkan.

Check Point mengatakan Naikon telah disiapkan untuk menemukan email yang memiliki dokumen lampiran berisi perangkat lunak berbahaya yang juga dikenal sebagai 'malware'.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved