Rabu, 22 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ramadan di Jepang dan Tebet: Mengobati Rindu, Suasananya seperti Indonesia

Andi Lala Waluyo ke Jepang Agustus 2018 lalu. Keputusan Andi pergi ke Jepang lantaran sang istri tercinta mendapat pekerjaan

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Tribunnews.com/Richard Susilo
Ilustrasi Daerah Arima Onsen Perfektur Hyogo, Jepang. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MEGURO - Andi Lala Waluyo ke Jepang Agustus 2018 lalu. Keputusan Andi pergi ke Jepang lantaran sang istri tercinta mendapat pekerjaan di kota Meguro, Tokyo. Dua anaknya pun, kata Andi bercerita, ingin merasakan sensasi hidup di Negeri Matahari Terbit.

Kasus Corona di Jakarta Melambat Pesat: Diprediksi September Wabah Corona di RI Selesai

Tahun 2020 ini Andi dan keluarga genap dua tahun berada di Jepang. Bulan Ramadan tiba di bulan April, yang berarti di Jepang saat ini sedang musim semi.  Hari pertama bulan Ramadan, 24 April 2020 di Jepang, Andi dan keluarga berpuasa lebih lama dibanding di Indonesia. Mereka berpuasa sedikitnya selama 15 jam.

Panjangnya waktu berpuasa bukan masalah. Andi dan keluarga berpuasa di rumah saja karena pandemi virus Covid-19 sedang melanda Jepang. Pemerintah Jepang, kata Andi bercerita, telah menerapkan keadaan darurat Covid-19 di 47 prefektur negara.

Hal itu dikarenakan angka kasus penularan pandemi terus bertambah sejak akhir Februari 2020 lalu.Andi melanjutkan ceritanya, sebelum ada Covid-19, umat muslim yang berpuasa di Jepang sangat beruntung bila tempat tinggalnya berdekatan dengan masjid.

"Kalau mereka tinggal tidak jauh dari masjid, mereka bisa menikmati Ramadan di masjid seperti halnya di Indonesia.Mulai dari berbuka puasa bersama, atau mungkin sahur dan tarawih tentunya," sambung Andi.

Andi mengatakan, dirinya dan keluarga tinggal di dekat Masjid Indonesia-Tokyo. Berarti Andi salah seorang muslim yang beruntung, karena bisa merasakan Ramadhan yang hampir sama dengan di Indonesia.

Wali Kota Syahrul Punya Riwayat Diabetes: Meninggal Setelah Terinfeksi Covid-19

Sebelum masa pandemi Covid-19,  Andi dan sesama muslim di Meguro, Tokyo, memiliki cukup banyak kegiatan. Bukan hanya berbuka dan sahur, tapi juga ada tabligh Akbar seminggu sekali dengan mengundang ulama dari Indonesia.

Ada juga pengajian untuk anak-anak setiap hari Sabtu dan pengajian untuk ibu-ibu setiap hari Jumat, setelah salat Jumat tentunya.

"Juga ada bazar Ramadan yang berbarengan dengan acara tabligh akbar seminggu sekali. Di situ dijual juga  makanan Indonesia, pakaian muslim, buku-buku muslim. Umumnya yang dijual di bazar Ramadaan makanan Indonesia," jelas Andi.

Andi bercerita, yang mengorganisir seluruh kegiatan Ramadaan sebelum ada Covid-19 yakni organisasi Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) Jepang. Semua kegiatan itu dipenuhi dengan konsep urunan.

Masyarakat muslim di Tokyo, lanjut Andi, urunan untuk penyediaan makanan berbuka puasa dan sahur. Kemudian mereka juga membentuk tim kepanitiaan untuk bazar selama Ramadhan. 

"Kita juga mengundang warga Jepang yang ada di sekitar masjid. Jadi mereka dikasih kupon untuk berbelanja gratis di bazar. Satu kupon seharga seribu Yen. Jadi mereka bisa menikmati makan bersama sama kita ketika berbuka puasa," terang Andi.

Jelang Idul Fitri, sebelum ada Covid -19, dibentuk kepanitiaan untuk memasang karpet dan memenuhi segala keperluan di masjid. Juga dibentuk tim keamanan.  "Suasananya seperti di Indonesia. Kita ciptakan sebagai obat rindu. Supaya  tetap bisa merasakan Ramadan meski di negeri orang," kata Andi.

Kini saat pandemi Covid-19 aktifitas peribadatan umat muslim di Jepang beralih secara online melalui aplikasi Zoom. Tak terkecuali untuk kegiatan di bulan Ramadan. Pengajian, tabligh Akbar, kata Andi, kini dilakukan satu minggu sekali. Menghadirkan ustaz atau para ulama-ulama Indonesia dalam kanal live streaming Zoom. "Tarawih  di rumah, berbuka, bersama keluarga. Hanya di dalam rumah," kata Andi singkat.

Trump: Saya Tahu Kondisi Kim Jong Un

Berpuasa di tengah Covid-19, baginya ada hikmah tersendiri.  Dipaksa terus berada di rumah demi memutus rantai penyebaran virus Covid-19, Andi kini memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga. "Sisi baiknya  bekerja dari rumah, kita lebih banyak waktu untuk anak, istri atau suami, kemudian beribadah bersama. Hal itu kan mungkin yang terlewatkan selama kita sibuk dengan pekerjaan," kata Andi.

Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved