Breaking News
Rabu, 3 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ramadan di 'Benua Biru': 18 Jam Berpuasa di Kota Manchester 

Dono Widiatmoko, pengajar Program Pasca Sarjana Bidang Kesehatan Masyarakat University of Derby, Inggris.

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Pixabay
ilustrasi puasa Ramadhan 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANCHSTER - Dono Widiatmoko, pengajar Program Pasca Sarjana Bidang Kesehatan Masyarakat University of Derby, Inggris. Bersama seorang istri dan tiga anaknya, kini tinggal di sebuah kompleks dekat dengan Bandara Manchester. Dono menceritakan, di Manchester, semua umat Islam berpuasa lebih lama dibandingkan yang ada di Indonesia.

Pasien Covid-19 Terbangun Setelah Dinyatakan Meninggal, Keluarga Terlanjur Simpan Abu Kremasi

Sejak tahun 2001 bersama keluarganya sudah tinggal di Kota Manchester. Pada 2015 Doni sempat kembali ke Indonesia. Namun di tahun 2019 Dono dan keluarga kecilnya kembali ke Inggris, tepatnya ke kota Manchester. 

Bulan Ramadhan kali ini tiba bertepatan dengan musim panas di Inggris. Yang berarti siang hari di Inggris menjadi 18 jam, atau lebih lama dibanding malam hari."Kami mulai menjalankan ibadah puasa mulai pukul 4.20 waktu Inggris. Waktu Magrib, matahari terbenam sekitar pukul setengah sembilan waktu setempat. Hampir 18 jam kita menjalankan puasa pada siang hari ," Dono menjelaskan.

Berbeda dengan sebelumnya,  Ramadan kali ini Dono dan keluarga juga umat muslim dunia lainnya,  berpuasa di tengah pandemi Covid -19. Inggris salah satu negara dalam kondisi darurat kesehatan karena pandemi tersebut.   Jumlah kasus COVID-19 di Inggris terus bertambah. Bahkan, Perdana Menteri Britania Raya Borish Johnson turut tertular pandemi tersebut.

Kebijakan social distancing dan bekerja serta belajar dari rumah pun resmi berlaku sejak pandemi tersebut terus mengganas. Tak terkecuali untuk kota Manchester.

"Saat Covid-19 ini jadi memang berbeda. Karena kita tidak boleh keluar rumah. Saat ini semua kegiatan hanya bisa dilakukan di rumah saja, kecuali untuk orang-orang yang memang pekerjaannya membutuhkan tetap keluar rumah," kata Dono bercerita.

Menteri Yasonna Digugat ke Pengadilan

Meski demikian, berpuasa di tengah pandemi Covid-19 yang melanda Inggris justru memberikan hikmah tersendiri bagi Dono dan keluarga. Putra pertama dan putri keduanya, yang semula sibuk bekerja dan berkuliah, kini lebih sering berkumpul di rumah. Suasana berpuasa pun dirasa Dono lebih hikmat ketimbang sebelumnya.

Ia dan putranya kini kerap bergantian menjadi imam ketika salat tarawih. Hematnya, Dono dan keluarga kini lebih dekat satu sama lain.  Selain itu, hikmah lain yang didapat Dono yakni kesempatan untuk bisa secara intens berkomunikasi dengan teman-teman dan warga Indonesia sesama muslim lainnya yang berada di Inggris. Komunikasi lebih intens, lanjut Dono, dibangun secara online.

"Sekarang ini, dengan adanya virus corona, kami dengan teman, keluarga dan orang-orang sesama muslim baik di Manchester, di Inggris, maupun di Indonesia jadi lebih dekat. Karena kami semua jadi lebih sering online sekarang," jelas Dono.

Aktifitas yang dibangun Dono dan teman-teman sesama muslim secara online yakni pengajian online.  Melalui pengajian online, lanjut Dono, dirinya bukan hanya jadi lebih dekat dengan teman-teman, tapi juga dengan keluarga di Indonesia. Dono dan keluarga di Indonesia kini dua kali seminggu melakukan pengajian online bersama.

"Yang sebelumnya tidak kami lakukan karena biasanya ketemu langsung saat salat tarawih . Ketemunya biasanya hanya setahun sekali atau dua kali, sekarang pertemuan kami lakukan setiap minggu," katanya. Wabah covid-19, kata Dono, menjadi momentum untuknya mendekatkan diri bukan hanya kepada Allah, tapi juga dengan keluarga di Indonesia.

"Jadi kami merasa lebih dekat sekarang. Ini adalah pengalaman dan kesempatan yang diberikan Allah kepada kita untuk mendekatkan diri bukan hanya pada Allah, tapi juga keluarga dan teman-teman semua," kata Dono menambahkan.

Jumlah Warga yang Nekat Mudik Menurun

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus mencatatkan adanya penurunan warga Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi yang ditindak untuk memutar balik kendaraannya saat hendak mudik ke kampung halaman. Diketahui pada hari pertama operasi pelarangan mudik atau Jumat (24/4) lalu, total ada sebanyak 2.112 pengendara yang diminta untuk memutar balik karena ketahuan hendak mudik.

60 Persen Positif Covid-19 Tanpa Gejala

Sementara pada Sabtu (25/4), jumlah pengendara yang diminta untuk memutar balik menurun menjadi sekira 1.300 kendaraan saja. Angka itu terhitung sejak Sabtu sekira pukul 19.00 WIB. "Jadi total 3 ribu lebih selama 2 hari. Penurunan hanya beberapa persen saja dari hari yang kemarin, karena malam minggu ya," kata Yusri.

Ia menuturkan, kendaraan yang terjaring di pos pemantauan pelarangan mudik yaitu kendaraan pribadi, kendaraan elf ataupun armada bus. Dia bilang, mereka semua diminta untuk memutar balik. Sementara kendaraan pengangkut logistik, kesehatan, Bahan Bakar Minyak (BBM) diketahui masih diperbolehkan.

"Kami tindak mereka secara persuasif, humanis. Kami sampaikan ada kebijakan ini. PO bus juga kami putar balik mereka semua. Apapun yang kami temukan di 2 pos itu, kami putar balik," ujarnya.

Yusri Yunus mengatakan, pihaknya akan menindak lebih tegas masyarakat yang melanggar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Khususnya untuk daerah-daerah padat penduduk.

"Pembatasan di moda transportasi jalan maupun tempat keramaian. Kami terus lakukan patroli bersama dari TNI-Polri, pemerintah daerah, secara masif. Memang sekarang agak berat ke tempat padat penduduk," kata Yusri.

Ia menuturkan, pihaknya juga menginstruksikan polres dan polsek yang berada di wilayah hukum Polda Metro Jaya lebih gencar melakukan patroli ke daerah-daerah padat penduduk.

"Dibantu partisipasi masyarakat dan tokoh agama serta pemuda untuk memberitahukan memang ada PSBB yang harus diikuti, physical distancing yang harus dipatuhi. Kami laksanakan patroli malam, pemberian bansos untuk meringankan beban kepada masyarakat. Kami laksanakan secara periodik," ungkapnya.

Di sisi lain, Yusri juga menuturkan, pihaknya telah menyediakan dapur umur di sejumlah daerah. Dia mengharapkan, fasilitas tersebut dapat bermanfaat bagi warga terdampak. "Kami sediakan juga dapur umum, sangat berguna sekali sekarang ini. Dengan harapan dapat meringankan beban masyarakat khususnya di masa puasa ini, kami masak buat buka puasa," pungkasnya.

Kemenparekraf Siapkan Skenario Tren Baru Berwisata

Penyebaran wabah virus corona (Covid-19) berdampak pada sektor ekonomi masyarakat. Satu di antaranya sektor pariwisata, yang saat ini tengah gigit jari karena berkurangnya jumlah wisatawan lokal maupun asing yang datang ke Indonesia.

Sejumlah agen travel mengalami kerugian. Untuk mengurangi dampak tersebut, perusahaan menggunakan berbagai cara agar tidak gulung tikar dan bisa bertahan selama masa pandemi.

Salah satunya termasuk dengan memotong gaji karyawan, agar bisa mempertahankan karyawan untuk tidak di berhentikan atau di-PHK. Seperti yang dialami Gery (29), karyawan salah satu perusahaan perjalanan (travel) di Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten ini terpaksa harus menerima gajinya dipotong hingga 30 persen oleh perusahaan.

Ia mengatakan dampak pandemi covid-19 ini sangat terasa bagi sektor pariwisata yang lumpuh total selama masa karantina, sehingga perusahaannya harus menyesuaikan kebijakan. “Beberapa kebijakan dari kantor pun langsung menyesuaikan, saya dan semua karyawan diliburkan hingga waktu yang belum bisa ditentukan dan berimbas pada pemotongan gaji dan tunjangan yang cukup besar,” ujar Gery pada Tribun, Minggu (26/4).

Karena perusahaan tidak memperoleh pemasukan, Gery memperkirakan operasional perusahaan travel tempat dirinya bekerja bahkan harus menggunakan uang pribadi owner dari perusahaan. “Karena perusahaan sekarang ini nggak ada pemasukan, jadi pasti uang pribadi owner yang kepotong,” ujar Gery.

Sistem kerja sama perusahaan travel tempat ia bekerja dengan sejumlah tender seperti penyedia jasa penginapan, hotel, transportasi dan sebagainya dilakukan dengan cara deposit, ada juga dengan cara per project. Adapun hubungan dengan rekanan perjalanan selama masa pandemi ini dikatanya nyaris lumpuh total.

“Beberapa rekanan saya di Bali saja, ngasih info kalau semua tempat wisata sudah tutup,” ujarnya. Ia tidak tahu sampai kapan keadaan ini akan terus berlangsung. “Ini nggak bisa diprediksi. Kacau banget,” ujarnya.

Gery masih bersyukur, kendati demikian harus terima gaji dan tunjangannya dipotong cukup besar, perusahaan tidak memberhentikannya. Untuk memenuhi kebutuhannya selama Ramadan dan menjelang hari Raya Idul Fitri, dia mengaku tidak terlalu berdampak karena statusnya yang single.

Ia juga berharap pandemi ini akan segera berakhir secepatnya.“Karena yang kena dampak banyak banget,” tutupnya.

Sementara itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tengah mempersiapkan perubahan tren baru berwisata usai pandemi covid-19.“Kami menyiapkan destinasi sesuai dengan kondisi new normal. Destinasi itu disiapkan dengan mengedepankan prinsip sustainable tourism, termasuk didalamnya soal kesehatan, dan keamanan,” kata Sekretaris Kemenparekraf Ni Wayan Giri Adnyani.

Menurutnya, pemerintah membagi tiga tahapan dalam penanganan wabah corona mulai dari masa tanggap darurat, pemulihan, dan normalisasi. Pemerintah juga telah merealokasi anggaran dan menerapkan program khusus selama masa tanggap darurat covid-19.

“Realokasi akan diarahkan untuk berbagai macam program yang sifatnya pendukungan masa tanggap darurat untuk membantu sektor pariwisata dan ekonomi kreatif," tutur Ni Wayan Giri Adnyani.

Sementara itu, Founder and Chairman MarkPlus, Inc, Hermawan Kartajaya, menjelaskan sektor pariwisata paling terdampak oleh pandemi Covid-19. "Semua sekarang sadar ketika pariwisata stop, ekonomi juga stop. Semua baru sadar bahwa pariwisata adalah tulang punggung ekonomi. covid-19 ini menarik, karena pariwisata tak akan pernah sama lagi,” kata Hermawan.

Destinasi wisata Bali menjadi contoh bagus dalam mengkombinasikan “God, people, nature” dalam sektor pariwisata.  Ia memprediksi setelah Covid-19 akan semakin banyak wisatawan yang menuntut pariwisata tidak hanya dari segi harga, tetapi juga keberlangsungan lingkungan di destinasi tujuan.

Mereka menginginkan destinasi berkualitas dengan alam dan keamanan lebih baik, sistem mitigasi, di mana bisa terjadi dengan menggabungkan ketiga unsur tersebut. "Kalau bicara bertahan atau surviving itu sudah pasti. Sekarang tinggal bicara preparing atau mempersiapkan ketika wisatawan kembali setelah Covid-19. Bali jadi contoh dan punya ketahanan. Nusa Tenggara Barat juga sekarang sedang preparing karena melihat potensi di masa depan," kata Hermawan. (Tribun Network/ras/nas/wly/igm/genik)

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved