Sulut Maju

Olly Sediakan 219 Ribu Paket Sembako, Kucur Rp 404 M Lawan Corona

istimewa
Gubernur Sulut, Olly Dondokambey sudah meninjau beberapa lokasi. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Sulawesi Utara punya Rp 404,4 miliar perangi Coronavirus disease 2019 (Covid-19). ‘Amunisi’ ini dikucurkan Pemerintah Provinsi Sulut bersama 15 kabupaten dan kota (lihat grafis). Dari jumlah itu, Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut, Olly Dondokambey-Steven Kandouw (ODSK) menyiapkan Rp 96 miliar, diambil dari APBD 2020.

"Bantuan tahap 3 ini diharapkan menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang kena dampak pandemi Covid-19 ini," kata Olly, Minggu (19/4/2020).

Eks Napi Asimilasi Ditembak Mati usai Merampok Penumpang Angkot dan Melukai Polisi

Bantuan ini, kata Olly, disalurkan ke kabupaten dan kota. Ia mengharapkan bisa berjalan baik dan sesuai peruntukan, terlebih masyarakat yang ada di desa dan kelurahan. "Kita jaga agar bantuan bisa menciptakan rasa aman dan nyaman ketika kita berada di rumah dalam upaya memutuskan mata rantai Covid-19 ini," ujar Gubernur.

Selain dana ini, ada pula pos anggaran dari Dana Desa. Gubernur mengapresiasi peran serta masyarakat yang ikut peduli, termasuk BUMD dan BUMN. "Saya salut dan bangga karena ada beberapa BUMN dan BUMD yang peduli kepada masyarakat yang terkena dampak, bahkan bantuan dilaporkan dan diberikan diserahkan BPBD Sulut," ujar dia.

Begitu pun jajaran Pemprov Sulut mulai pejabat eselon I, II, III, IV hingga tenaga harian lepas (THL) ikut peduli. "Anda pejuang kemanusiaan, anggaran SKPD 75 persen digeser untuk penanganan Covid-19. Luar biasa kepeduliannya," sebut dia. “Program kemanusian telah ditempatkan pada tataran yang tinggi, kerja nyata dan semangat gotong royong sudah terbukti," ungkap dia.

Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada para tokoh agama. "Saya berterima kasih, amat terlebih para tokoh agama bergotong-royong meyakinkan untuk beribadah di rumah," sebutnya. Peran tokoh agama mendukung arahan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Kata dia, semua program bisa terwujud karena kematangan dan kedewasaan umat beragama di Sulut yang mau sejalan bersama pemerinah. "Kita berdoa dan bekerja, bersama agar pandemi ini bisa usai dan kita bisa beraktivitas normal," kata Olly.

Informasi yang diperoleh, dana Pemprov Rp 96 miliar dikucurkan sebanyak dua kali. Tahap pertama, Rp 48,5 miliar ditambah Rp 2 miliar untuk rehabilitasi gedung, pemenuhan sarana prasarana gedung dan ruangan isolasi. Kemudian pengadaan alat kesehatan (alkes) dan vitamin C.

Tahap kedua, dana sebesar Rp 45,5 miliar diperuntukan penanganan dampak ekonomi melalui penyediaan 219 .000 paket sembako dan penyediaan social saferty atau jaring pengaman sosial bagi masyarakat.

Gubernur juga mengatakan, masyarakat jangan patah semangat. "Menyerah dengan keadaan justru bukan jadi pilihan yang terbaik. Menghadapi keadaan jadi kunci yang bisa dilakukan masyarakat selama masa pandemi Covid-19," kata Gubernur, Sabtu pekan lalu.

Kisah Perawat Pengurus Pasien Corona: Nurdiansyah Sebulan Tak Bertemu Ibu

Menurutnya, sikap berani menghadapi dan memahami keadaan, bisa membuat Sulut mampu melewati masa sulitnya sambil tetap menjalani pola hidup sehat demi mencegah Covid-19. "Hidup harus terus berjalan. Jangan menyerah," kata Olly usai memberikan pakan rumput bagi sapi peliharaannya di Desa Kolongan, Kabupaten Minahasa Utara.

Ia ingin menyebarkan energi positif, untuk bertahan dari Covid-19 bisa dilakukan dengan memelihara ternak, mengumpulkan buah kelapa ataupun menanam tanaman. Menurut dia, sektor pertanian justru menjadi salah satu pengaman dalam menghadapi pandemi Covid-19. Lahan tidur harus dimanfaatkan dengan tanaman pangan produktif yang hasilnya dapat langsung dirasakan warga.

"Tidak ada sesuatu yang akan sia-sia bila kita menanam dengan niat yang baik karena apa yang kita tanam sekarang akan kita panen nantinya," ujar Gubernur. Lanjutnya, baik pemerintah provinsi dan kabupaten/kota serta seluruh masyarakat juga harus bersatu, saling mendukung dan saling menguatkan agar ujian di tengah pandemi Covid-19 ini dapat segera terlewati. "Kita harus kesampingkan kepentingan pribadi, kelompok dan golongan," katanya.

Namun demikian, Olly mengajak masyarakat melihat dengan jernih setiap tantangan di tengah pandemi. "Selalu ada pelangi di balik hujan badai. Tuhan sudah mengatur semuanya. Langit tidak selalu biru, cahaya matahari dan mendung muncul bergantian," kata dia. "Di mana ada gelap pasti ada terang kalau kita bisa betul-betul menjaga kebersamaan kita," ujar Olly.

Satgas Covid-19 Sulut kembali memperbaharui data terkait perkembangan Covid-19. Seperti yang disampaikan dr Steaven Dandel selaku Juru Bicara Satgas Covid-19 Sulut malalui video conference, Minggu (19/4/2020) malam, bahwa kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Sulut sudah 20 kasus.

"Untuk kasus terkonfirmasi positif tetap 20 kasus, dengan rincian 5 sembuh, 3 meninggal, 12 dalam perawatan," ujar Dandel. Lanjut dia, ke-12 pasien tersebut dirawat di rumah sakit yang berada di Sulut. "7 orang dirawat di RSUP Prof Kandou Manado dan 5 orang dirawat di RSAD Wolter Mongisidi," kata Dandel.

Dia menjelaskan, untuk orang dalam pemantauan (ODP) di Sulut berjumlah 255 kasus, sementara yang sudah selesai pemantauan berjumlah 655 orang.
"Sementara untuk PDP sebanyak 67 orang," katanya. "Kasus ke-19 di Sulut, jenis kelamin perempuan, umur 71 tahun, warga Kota Manado," ujar Dandel.

Lanjutnya, namun pasien kasus ke-19 ini sudah meninggal pada 7 April 2020 lalu saat berstatus PDP. "Sebelum meninggal, pasien ke-19 ini sudah diambil sampel swabnya dan hasil pemeriksaan baru diterima Gugus Tugas Covid-19 Sulut pada Sabtu 18 April 2020," ujar dia.

Diterangkan Dandel, pasien kasus ke-19 ini, tidak ada riwayat perjalanan. "Namun, melalui analisa yang kami lakukan kepada keluarga yang bersangkutan, ditemukan bahwa yang bersangkutan ada kontak erat dengan salah seorang anggota keluarga yang datang dari Jakarta," katanya.

Sementara, untuk pasien kasus ke-20, dijelaskan Dandel, bahwa yang bersangkutan berjenis kelamin perempuan, umur 37 tahun dan warga Minahasa Utara. "Yang bersangkutan adalah pelaku perjalanan dari Jakarta ke Manado," jelasnya.

ICW Desak KPK Tangkap Sjamsul Nursalim

Tambahnya, saat ini pasien kasus ke-20 sedang dirawat di Rumah Sakit Wolter Monginsidi, kurang lebih dua minggu yang lalu. "Pasien ke-20 ini awalnya berstatus PDP dan kemudian dinaikkan menjadi pasien terkonfirmasi positif," katanya.

Satu PDP Negatif
Sepekan, kasus kematian pasien dalam pengawasan (PDP) di Kota Tomohon melonjak. Per Sabtu (18/4/2020), total sudah ada enam warga yang dinyatakan meninggal dengan status PDP.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Tomohon, Yelly Potuh, tak menampik hal tersebut. "Memang per Sabtu terhitung ada enam yang meninggal dengan status PDP," ujarnya. "Ada ketambahan satu dan sudah langsung dimakamkan," sambung Yelly.

Meski demikian, dari enam PDP meninggal tersebut, satu di antaranya sudah keluar hasil swab test dan dinyatakan negatif. "Yang PDP asal Tomohon Tengah hasil swab testnya dinyatakan negatif, sedangkan yang lima sementara menunggu hasil swab test," terang Yelly. "Tentu kami sangat harapkan hasil kelima PDP negatif," tukasnya.

Adapun sejauh ini, jumlah PDP di Kota Tomohon mencapai 16 kasus, dengan yang sementara dirawat masih delapan orang. "Satu meninggal non-Covid-19 dan dua orang juga sembuh non Covid-19, sementara lima meninggal dan masih menunggu hasil," pungkasnya. 

Prof dr Boetje Herry Moningka
Prof dr Boetje Herry Moningka (istimewa)

Prof dr Boetje Moningka

Pakar Penyakit Dalam dari Unsrat

Minimalisir Penyebaran Virus

Kebutuhan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mendiagnosa Coronavirus disease 2019 (Covid-19) di Provinsi Sulawesi Utara sangat mendesak.

Sejauh ini, keterlambatan maupun kesalahan dalam mendiagnosa pasien yang diduga terpapar Covid-19, perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Pasalnya saat ini, di seluruh rumah sakit pusat rujukan Covid-19 di Sulut, belum ada satupun yang memiliki PCR.

Tentu ini yang membahayakan masyarakat, sebab sejauh pengamatan saya, ada banyak kasus overdiagnosis, dimana orang bersatus pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal karena penyakit bawaan, justru dikubur dengan prosedur Covid-19.

Di sisi lain, ada juga PDP yang belakangan diketahui positif, namun hasilnya sangat lambat. Bahkan, harus menunggu waktu sekitar 10 hari. Tentu ini dapat menyebabkan suspect (Corona) melakukan kontak erat dengan seseorang. Sehingga keterlambatan hasil tes ini, menjadi polemik yang sangat merugikan masyarakat.

Untuk menseriusi penanganan dan penanggulangan Covid-19 ini, pemerintah harusnya segera menyiapkan alat PCR di setiap rumah sakit rujukan Covid-19. Karena kecepatan diagnosa sangat penting dalam meminimalisir penularan.

Jika upaya pengadaan PCR ini tidak digenjot pemerintah, maka segala upaya penanganan dan penanggulangan Covid-19 percuma dilakukan. Karena untuk melakukan tindakan dan berbagai protokol medis, tentu kita harus mengetahui dulu penyakit yang diderita. Karena tidak mungkin kita mengobati pasien tanpa ada keakuratan dalam mendiagnosa. (juf/ryo/hem/drp)

Dana Perang Covid-19

Provinsi Sulut Rp 96 miliar

Kabupaten Bolmong Rp 6,7 miliar

Kabupaten Bolsel Rp 12,9 miliar

Kabupaten Boltim Rp 27,6 miliar

Kabupaten Bolmut Rp 22,1 miliar

Kabupaten Talaud Rp 7,7 miliar

Kabupaten Minahasa Rp 23,3 miliar

Kabupaten Minsel Rp 13,6 miliar

Kabupaten Mitra Rp 27,1 miliar

Kabupaten Minut Rp 13,2 miliar

Kabupaten Sitaro Rp 12,7 miliar

Kabupaten Sangihe Rp 38,9 miliar

Kota Bitung Rp 25,2 miliar

Kota Kotamobagu Rp 27,7 miliar

Kota Manado Rp 30,6 miliar

Kota Tomohon Rp 19,5 miliar

Total Rp 404,4 milar