Minggu, 26 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kematian di Italia Tertinggi di Dunia: Takhta Suci Kibarkan Bendera Setengah Tiang

Kematian di Italia akibat Coronavirus disease 2019 (Covid-19) mencapai 11.591 orang, tertinggi di dunia, sehingga pemerintah

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
AFP
Bapa Suci Paus Fransiskus 

TRIBUNMANADO.CO.ID, ROMA - Kematian di Italia akibat Coronavirus disease 2019 (Covid-19) mencapai 11.591 orang, tertinggi di dunia, sehingga pemerintah mengajak seluruh warga negeri itu menaikkan bendera setengah tiang untuk menghormati para korban, Selasa (31/3/2020).

Tingkatkan Daya Tahan Tubuh Dengan 7 Menu Jus Rumahan Ini

Tahta Suci Vatikan ikut memberikan dukungan terhadap penghormatan kepada para korban tewas tersebut. "Hariini, dalam solidaritas dengan Italia, Takhta Suci mengibarkan bendera setengah tiang, berduka, untuk mengekspresikan kedekatan dengan para korban pandemi di Italia dan di dunia,” ujar sebuh pernyataan yang dikeluarkan Vatikan.

Menurut penghitungan Universitas Johns Hopkins, terdapat 11.591 orang meninggaldi Italia akibat virus corona. Angka tersebut merupakan tertinggi di dunia.

Sedangkan di Amerika Serikat (AS), pada Senin, angka kematian bertambah 575 orang. Iniadalahkematian yang paling banyak dilaporkan di AS dalam satu hari sejak wabah virus dimulai. Di seluruh AS jumlah korban tewas mencapai 3.004 orang.

Presiden Donald Trump mengatakan negara itu menghadapi 30 hari ke depan yang sangat krusial untuk melawan Covid-19. "Masa depan kita ada di tangan kita sendiri, dan pilihan serta pengorbanan yang kita buat akan menentukan nasib virus ini dan nasib kemenangan kita," kata Trump.

Menurutnya, semakin banyak warga AS mendedikasikan diri mereka untuk menjaga jarak sosial, semakin cepat negara itu dapatkembali normal. Di AS, jangka waktu jarak sosial diperpanjang 30 hari lagi, hingga 30 April mendatang.

Bea Cukai Sebut Pakaian Cabo Berpotensi Sebar Covid-19, Imbau Jangan Dibeli

Kematian di AS menyisakan sebuah drama yang dialami seorang ibu dan anak. Michelle Bennett hanya bisa menyampaikan selamat berpisah kepada ibunya,Carolann Christine Gann (75), beberapa saatsebelummeninggal.

"Sayatidakbisaberada di sana (rumah sakit) dan memegang tangan ibuku, menggosok kepalanya, menceritakan hal-hal yang ingin kukatakan padanya. Aku begitu frustrasi dan tak berdaya karena tidak bisa berbicara dengannya. Ia dalam kondisi tidak sadar selama beberapa waktu,” kata Bennett kepadaCNN,Senin.

Tetapiseorang perawat di Rumah Sakit Issaquah Swedia, Washington, memberibantuan kepada Bennett agar dapat mengucapkan selamat tinggalpada sang ibu. Bennett mengatakan perawat menghubungi dirinya menggunakan ponsel pribadinya dan mengatakan sang ibu tidakakan hidup lebih lama.

"Aku akan mendekatkan telepon kewajahnya agar kamu bisa memberi tahu kamu mencintainya dan mengucapkan selamat tinggal," kata Bennett menirukan ucapan sang perawat. Sekira sepuluh menit kemudian, Bennett dapat berbicara dengan ibunya melaluiaplikasi video call FaceTime.

"Akusangat mencintaimu. Aku memaafkanmu, Bu,” ujar Bennett seraya menambahkan dia sempat bertengkar dengan ibunya sebelum terjangkit Covid-19.

Ilustrasi petugas medis membentangkan bendera China - Untuk Pertama Kalinya, Tidak Ada Kasus Virus Corona Baru yang Dilaporkan di Wuhan
Ilustrasi petugas medis membentangkan bendera China - Untuk Pertama Kalinya, Tidak Ada Kasus Virus Corona Baru yang Dilaporkan di Wuhan (the star via Tribunnews.com)

 

Ratusan Massa Tolak Pemakaman 2 Jenazah PDP Covid-19, Pemda Kota Makassar Akui Terlambat Dapat Info

Muncul 48 Kasus Baru di China

Terjadi peningkatan kasus virus corona baru di China daratan setelah mengalami penurunan empat hari. Melansir Mirror Selasa (31/3), peningkatan tersebut dipicu oleh infeksi yang melibatkan pelancong yang datang dari luar negeri. Pada hari Senin, Komisi Kesehatan Nasional mengatakan, China memiliki 48 kasus baru. Angka tersebut naik dari 31 infeksi baru sehari sebelumnya.

Semua 48 kasus diimpor, sehingga jumlah kasus impor di Cina menjadi 771 pada hari Senin. Tidak ada kasus infeksi lokal baru yang dilaporkan.

Infeksi yang ditularkan secara lokal di China sebagian besar telah menurun, namun pihak berwenang prihatin dengan kasus-kasus yang melibatkan pelancong yang telah menangkap virus di luar negeri.

Oleh karena itu, China telah meningkatkan protokol pemeriksaan kesehatan dan karantina. China bahkan mengurangi jumlah penerbangan internasional dan melarang masuknya sebagian besar orang asing.

Menurut media pemerintah, dari kasus-kasus impor baru yang dilaporkan pada hari Senin, 10 berada di wilayah Mongolia Dalam, utara China yang melibatkan para pelancong yang penerbangannya dialihkan dari Beijing ke Hohhot, ibu kota Mongolia Dalam, dalam beberapa hari terakhir.

Shanghai melaporkan 11 kasus impor baru. Sebagian besar kasus di Shanghai terdiri atas warga negara Tiongkok yang kembali dari luar negeri. Sementara Beijing melaporkan tiga infeksi impor baru.

Kota Wuhan, ibu kota provinsi Hubei tengah dan pusat wabah di China, melaporkan tidak ada infeksi baru selama tujuh hari berturut-turut. Hingga Senin, jumlah total infeksi yang dilaporkan di China daratan mencapai 81.518 dan jumlah kematian 3.305.

Kota Wuhan di China, tempat wabah dimulai, minggu ini membuka kembali kereta bawah tanah dan layanan kereta jarak jauh. Hal tersebut dilakukan untuk mulai penghentian pembatasan yang membatasi jutaan orang di rumah mereka selama berbulan-bulan.

Meski demikian, penumpang di Wuhan harus tetap mengenakan topeng dan diperiksa untuk demam setelah layanan dilanjutkan pada hari Sabtu. Tanda-tanda juga dipasang untuk memberitahu penumpang agar tetap duduk berjarak, dibatasi dengan kursi kosong di antara mereka.

Di China, jumlah infeksi baru telah menurun tajam di daratan dari puncak corona pada Februari. Pemerintah sekarang meminta bisnis dan pabrik untuk membuka kembali bisnis mereka karena mengeluarkan berbagai stimulus fiskal dan moneter untuk mendorong pemulihan.

Tembus 37 Ribu

Di seluruh dunia, jumlah kematian akibat virus corona hingga Selasa (31/3) mencapai 37 ribu dengan sebagian besar korban berasal dari Eropa.  Seperti dilansir dari situs pelaporan online Worldometers, virus corona telah menginfeksi 782.103 orang di 200 negara. Dari jumlah itu, 164.753 pasien dinyatakan sembuh.

Korban meninggal terbanyak dilaporkan terdapat di Eropa dengan jumlah total lebih dari 26 ribu jiwa. Italia menjadi negara dengan kematian akibat Covid-19 tertinggi di dunia yaitu 11.591 orang dan 101.739 kasus positif. Sementara 14.620 pasien dinyatakan sembuh.

Spanyol menempati urutan kedua negara dengan kematian corona terbanyak yakni 7.716 jiwa dengan 87.956 kasus dan 16.780 orang sembuh.

Negara Eropa lainnya yang juga terdampak parah yaitu Jerman dengan 66.885 kasus dan 645 kematian. Lalu Prancis 44.550 kasus dan 3.024 korban meninggal. Kemudian Inggris dengan 22.141 kasus dan 1.408 korban meninggal.

Secara global, kasus corona terbanyak terdapat di Amerika Serikat yakni sebanyak 161.647. Sementara korban meninggal akibat corona di AS tercatat 2.998 jiwa dan 5.254 orang sembuh.

Selain China, negara di Asia paling terdampak Covid-19 yakni Korea Selatan. Di Negeri Gingseng itu terdapat 9.661 kasus, 158 kematian, dan 5.228 sembuh.(xinhua/rtr/grid/cnn/tribunnetwork/cep/feb)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved