Penyebaran Virus Corona
Anies Minta Kemenkes Cepat dan Jelas Mengenai Hasil Tes Orang Yang Diduga Terjangkit Virus Corona
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta Kementerian Kesehatan cepat dan transparansi hasil tes orang yang diduga terjangkit virus corona (Covid-19
Kasus 61, Perempuan (58 tahun) sakit ringan sedang.
Kasus 62, Laki-laki (51 tahun) sakit ringan sedang.
Kasus 63, Laki-laki (34 tahun) sakit ringan sedang.
Kasus 64, Perempuan (49 tahun) sakit ringan sedang.
Kasus 65, Laki-laki (48 tahun) sakit ringan sedang.
Kasus 66, perempuan (73 tahun) sakit ringan sedang.
Kasus 67, Perempuan (25 tahun) sakit ringan sedang.
Kasus 68, Perempuan (38 tahun)sakit ringan sedang.
Kasus 69, Perempuan (80 tahun) sakit sedang.
Tim Reaksi Cepat
Pemerintah telah membentuk satu tugas atau tim reaksi cepat untuk menangani penyebaran virus Corona.
Task Force atau satuan gugus tugas tersebut dipimpin oleh Kepala BNPB Doni Manado.
"Tim reaksi cepat dibentuk dipimpin Kepala BNPB Pak Doni dan disiagakan RS tipe A," kata Presiden Jokowi di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Jumat, (13/3/2020).
Satuan tugas tersebut bertugas menelusuri kontak pasien yang terkena virus Covid-19. Selain menjaga pintu masuk Indonesia.
"Untuk menjaga pintu negara kita miliki 135 pintu gerbang baik darat laut udara, airport protokol keamanan dan kesehatan disiapkan seperti yang kita lihat mitigasi kondisi disiapkan dengan cepat dan sebaik-baiknya," kata Presiden.
Dalam mengantisipasi pandemi Virus Corona juga Presiden melibatkan Badan Intelijen Negara (BIN).
Lembaga tersebut terlibat dalam proses contac tracing, serta kegiatan antisipasi lainnya.
Seperti yang terjadi di Bandara Soekarno Hatta, sejumlah petugas BIN, ikut dalam kegiatan penanggulangan penyebaran Corona dengan melakukan penyemprotan disenfectan di lokasi-lokasi yang terindikasi terpapar Virus Corona.
"Setiap klaster baru tim reaksi kita pasti langsung masuk dibantu intelijen BIN, Polri dan TNI, setiap ada yang baru pasti langsung bergerak," pungkas Presiden.
Jokowi: Kita Harus Tetap Tenang & Berupaya Keras Hadapi Tantangan Ini
Presiden Jokowi mengaku tak ingin menciptakan kepanikan dan keresahan masyarakat.
Jokowi menegaskan, dalam melakukan penanganan penyebaran virus corona, pemerintah terus berupaya keras.
"Langkah-langkah serius telah kita ambil tetapi juga, sekali lagi saya sampaikan, di saat bersamaan saya tidak ingin menciptakan rasa panik, tidak ingin menciptakan keresahan di tengah masyarakat," kata Jokowi dalam jumpa pers, seperti yang dilansir dari tayangan Kompas TV, Jumat (13/3/2020).
"Oleh sebab itu, dalam penanganan, kita memang tidak bersuara.
Kita semuanya harus tetap tenang, berupaya keras menghadapi tantangan ini," tegasnya.
Jokowi pun mencontohkan penanganan kasus pasien 01 dan 02 di Indonesia.
Setelah dua pasien tersebut diketahui positif terinfeksi virus corona, dalam dua hari Jokowi mengaku mendapat 80 nama yang berada di kluster tersebut.
"Setelah kita ketahui yang bersangkutan (pasien 01 dan 02), dalam dua hari saya sudah mendapatkan 80 nama yang berada di kluster ini," ungkap Jokowi.
"Dalam dua hari dari tim reaksi cepat yang kita miliki, Kemenkes dibantu intelijen BIN, intelijen Polri, tetapi kita juga tahu bahwa virus ini juga memiliki kecepatan yang sangat cepat dalam penyebarannya," tambahnya.
Menurut Jokowi, tindakan pencegahan dan mitigasi harus dilakukan secara bersamaan.
Dalam hal ini, Jokowi menuturkan, pemerintah telah dan akan terus melakukan contact tracing atau pelacakan yang dikoordinasi BNPB, didampingi Kemenkes, TNI, Polri terhadap orang yang sudah melakukan kontak dengan pasien yang dinyatakan positif Covid-19.
"Kemudian di bidang koordinasi lintas kementerian dan lembaga, TNI/Polri, pemerintah pusat dan pemerintah daerah terus kita perkuat dalam dua bulan ini," lanjut Jokowi.
Dalam membahas sebaran virus corona, Jokowi menuturkan pemerintah telah mengadakan sejumlah rapat.
"Kita telah secara khusus mengadakan rapat paripurna mengenai corona sekali dan rapat terbatas sudah 5 kali," kata Jokowi.
"Rapat internal sehari bisa dua sampai tiga kali membahas khusus mengenai virus corona ini," sambungnya.
Alasan Pemerintah Tak Buka Riwayat Perjalanan Pasien Covid-19
Sementara itu, Jokowi juga mengaku, sebenarnya pemerintah ingin membuka riwayat perjalanan pasien positif virus corona ( Covid-19).
Namun, berdasarkan kalkulasi, pemerintah menilai, membuka riwayat pasien positif corona akan menimbulkan ketakutan berlebihan dari masyarakat.
"Inginnya kita sampaikan (riwayat perjalanan pasien positif Covid-19). Tapi kita menghitung kepanikan masyarakat nanti bagaimana," ujar Jokowi, seperti yang dikutip dari Kompas.com, Jumat (13/3/2020).
Selain itu, pemerintah juga menghindari stigma negatif masyarakat terhadap pasien.
Baik ketika pasien masih menjalani perawatan maupun setelah ia dinyatakan sembuh.
Presiden Jokowi menegaskan, pemerintahan memiliki kebijakan masing-masing dalam hal pengendalian virus corona.
"Yang paling penting, setiap ada klaster baru, tim kita langsung memagari," lanjutnya.
Jokowi pun memastikan, pemerintah Indonesia bekerja keras dalam upaya mencegah penyebaran virus corona.
Artikel ini telah tayang di:
Tribunnews.com dengan judul Presiden Bentuk Tim Reaksi Cepat Tanggulangi Pandemi Corona
Tribunnews.com dengan judul Anies: Kami Harap Kemenkes Buka Data Sebaran Corona untuk Tekan Angka Penyebaran
Subscribe YouTube Channel Tribun Manado:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/gubernur-dki-jakarta-anies-baswedan-di-balai-kota-dki222.jpg)