BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem hingga 2040
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi hingga periode Maret
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi hingga periode Maret mendatang. Berdasarkan hasil analisis perkembangan musim hujan dasarian II Februari 2020 dapat disampaikan bahwa 100 % wilayah zona musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim hujan, termasuk wilayah Jabodetabek.
• Istana Presiden Kebanjiran: Ini Titik-titik Banjit di Jakarta
Kondisi dinamika atmosfer terkini menunjukkan faktor skala regional-lokal berkontribusi signifikan terhadap pembentukan pola hujan dan cuaca ekstrem di wilayah Indonesia. Keberadaan badai tropis "FERDINAND" yang mulai terdeteksi pada tanggal 24 Februari yang lalu di Samudera Hindia selatan NTB, serta sirkulasi angin di wilayah Samudera Hindia Barat Daya Banten, menyebabkan pembentukan pola pertemuan massa udara (konvergensi) yang memanjang dari Jawa Barat, Jawa Tengah,Jawa Timur hingga Bali, NTB, dan NTT. Belokan angin juga terpantau terbentuk di sekitar wilayah Sumatera bagian selatan, Kalimantan,Sulawesi, dan Maluku.
"Cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Jabodetabek beberapa hari terakhir secara dominan dipicu oleh faktor dinamika atmosfer skala lokal, yaitu adanya pembentukan pola konvergensi (pertemuan massa udara) dan kondisi labilitas udara yang kuat terutama di wilayah Jawa bagian barat, termasuk wilayah Jabodetabek," ujar Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati saat jumpa pers, Selasa(25/2).
BMKG juga menyebut cuaca ekstrem terus meningkat dalam 30 tahun terakhir. BMKG meminta agar pengelolaan lingkungan dan tata air terintegrasi dari hulu ke hilir. "Kondisi kejadian fenomena cuaca dan iklim ekstrem semakin sering selama 30 tahun terakhir dengan intensitas yang semakin tinggi," ujar Dwikorita.
Dia mengatakan peningkatan cuaca ekstrem diprediksi masih akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Menurutnya, fenomena cuaca dan iklim ekstrem masih akan terjadi pada 2020 hingga 2040.
• Terawan Pastikan 9 WNI Positif Virus Corona, Kru Kapal Pesiar Diamond Princess, Dirawat Dengan Baik
"Hal yang sama diproyeksi juga akan terjadi di masa yang akan datang tahun 2020-2040," katanya.
Atas fenomena peningkatan cuaca ekstrem itu, Dwikorita meminta pemerintah baik pusat dan daerah untuk mempersiapkan mitigasi dalam penanganan bencana alam akibat cuaca ekstrem. Terlebih, kata dia, koordinasi, dan sinergi keduanya harus ditingkatkan dalam penanganan banjir.
"Pengelolaan lingkungan dan tata air harus terintegrasi dari hilir ke hulu, mengingat jumlah akumulasi curah hujan di wilayah hulu relatif lebih tinggi 1,4 kali dibanding wilayah hilir, maka tata kelola air harus mampu menyimpan (menahan air) lebih lama di wilayah hulu," katanya.
Dwikorita mengaku sudah melaporkan prediksi dan laporan cuaca ekstrem di Indonesia kepada seluruh jajaran Pemerintah Daerah. "[Laporan dan prediksi cuaca ekstrem] sudah disampaikan melalui [rapat] koordinasi khusus, bahwa tren kondisi cuaca ekstrem yang semakin meningkat dan intensitas semakin tinggi," ujarnya.
Modifikasi Cuaca
Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TMC-BPPT) terus dilakukan untuk mengurangi intensitas hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Kepala BBTMC Tri Handoko Seto mengatakan, dalam beberapa hari terakhir, pertumbuhan awan pada siang hari tidak cukup banyak sehingga TMC hanya dioperasikan dengan melakukan penyemaian 1-2 sorties per hari.
Ia menambahkan, awan-awan mulai tumbuh secara masif pada malam hari dan menjadi hujan lebat pada malam hingga dini hari bahkan sampai dengan pagi hari. "Awan-awan seperti ini di luar jangkauan kemampuan armada TMC yang ada saat ini. Ke depan, kami berharap armada TMC direvitalisasi agar mampu beroperasi pada malam hari," ujar Tri Handoko.
Untuk diketahui, sejak (3/1) hingga Senin (24/2), tim penerbang TMC pemburu awan hujan di pesisir selatan Bandar Lampung dan pantai timur Lampung, telah melakukan penerbangan sebanyak 127 sorties dengan jam terbang 274, serta telah menebar bahan semai lebih dari 200 ton.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali gelar pasukan penanggulangan banjir di sejumlah wilayah di Jabodetabek. Kali ini BNPB mengadopsi operasi dan stretagi penanggulangan bencana banjir Jabodetabek pada awal tahun 2020.
• Tekan Angka Pengendara di Bawah Umur, Polres Lakukan MoU dengan Disdik
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/cuaca-121213.jpg)