Penjualan Kelelawar Menurun di Manado
Heboh Virus Corona, Rumah Makan Ini Masih Ada Langganan Pemakan 'Paniki' Siap Saji
"Pelanggan yang sudah langganan, tetap datang makan ikan Paniki siap saji di sini," jelasnya.
Penulis: Tirza Ponto | Editor: Frandi Piring
TRIBUNMANADO.CO.ID - Dengan adanya informasi Virus Corona di Cina, mulai mempengaruhi penjualan Paniki (Kelelawar) di beberapa rumah makan yang ada di Kota Manado, Sulut.
Meski demikian, pelanggan yang pemakan ikan Paniki, tetap mendatangi rumah makan Ragey Om Alo, yang terletak di jalan Bethesda, Sario, Kota Manado, Sulut.
Hal itu dikatakan bapak Angelis Mangumpaus sebagai pemilik rumah makan Ragey Om Alo, kepada tribunmanado.co.id, Kamis (13/2/2020) tadi.
"Memang ketika adanya informasi Virus Corona, penjualan ikan Paniki siap saji menurun," ujarnya.
Lanjutnya, tapi bukan tidak ada yang datang makan ikan Paniki.
"Pelanggan yang sudah langganan, tetap datang makan ikan Paniki siap saji di sini," jelasnya.
Dikatakannya, sampai saat ini, tidak ada yang terkena virus Corona di Manado.
"Sebelum ada info Virus Corona, malahan jualan kami, khususnya ikan Paniki siap saji, itu laris," ucapnya. (Juf)
(TribunManado.co.id/Jufry Mantak)
• Paniki yang Jual di Pasar Karombasan Didatangkan dari Tiga Wilayah
• Pasar Ekstrem Tomohon Sepi: Pedagang Paniki Klaim Tak Terterpanguh Corona
• Pasar Ekstrem Tomohon Sepi: Pedagang Paniki Klaim Tak Terterpanguh Corona
Virus Corona Berasal dari Kelelawar, Mengonsumsi hingga Kontak Fisik Sangat Berisiko
Ahli patologi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Agus Setiyono mengatakan, kelelawar memang membawa beberapa virus, salah satunya virus corona.
Ada pun jenis kelelawar yang ia maksud adalah kelelawar buah.
"Kelelawar buah mengandung coronavirus, bufavirus, polyomavirus, alphaherpesvirus, paramyxovirus dan gammaherpesvirus," kata Agus, saat dihubungi Kompas.com, Minggu (2/2/2020).
Agus menyebutkan, ia pernah bekerja sama dengan Research Center for Zoonosis Control (RCZC), Hokkaido University, Jepang dalam mendalami riset tentang kelelawar buah.
Penelitian tersebut menemukan 6 jenis virus baru pada kelelawar buah dengan daerah sampel yaitu Bukittinggi, Bogor, Panjalu (Ciamis), Gorontalo, Manado, dan Soppeng (Sulawesi Selatan).
"Sebenarnya hasil penelitian kerja sama ini diperoleh hanya pada kurun waktu tertentu. Dari tahun 2010-2015," kata dia.
Konsumsi kelelawar buah dapat berisiko terinfeksi virus-virus yang dikandungnya.
Risiko ini dapat terjadi jika pengolahan dilakukan secara kurang tepat.
Agus menjelaskan, virus corona dapat berada di dalam tubuh kelelawar tanpa menimbulkan persoalan medis bagi kelelawar.
"Hewan lain juga memiliki kemungkinan menjadi induk semang virus ini," kata Agus.
Agus menerangkan, kelelawar memiliki sistem imun yang unik, sehingga beberapa virus yang berdiam dalam tubuhnya, tidak mengganggu tubuh kelelawar itu sendiri.
Ia menyarankan, untuk menghindari faktor risiko, jangan mengonsumsi kelelawar.
"Tidak bersentuhan dengan kelelawar baik langsung maupun tidak langsung," ujar dia.
Agus juga mengatakan, sebaiknya tidak memakan buah sisa matang pohon yang digerogoti kelelawar, meskipun biasanya buah ini yang paling manis.
"Masih banyak pangan fungsional yang baik dan menyehatkan," kata Agus.
Wabah Virus Corona di China
Penyebaran virus corona menjadi perhatian dunia sejak akhir 2019 hingga awal 2020 ini.
Hingga Minggu (2/2/2020), sebanyak 25 negara telah mengonfirmasi adanya kasus virus corona di negaranya.
Virus yang bermula di Kota Wuhan ini kini telah menginfeksi 14.562 orang dan menyebabkan 305 orang meninggal dunia.
Salah satu yang dituding sebagai penyebar virus corona adalah kelelawar.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa virus corona berasal dari binatang yang dijual di Pasar Seafood Huanan, di Wuhan, Hubei, China.
South China Morning Post menuliskan, sejak virus mewabah, pasar tersebut telah ditutup sejak akhir Desember 2019.
Sumber: Kompas.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/menu-ikan-paniki-siap-saji-di-rumah-makan-ayng-ada-di-manado.jpg)