Bedah Buku di STFSP, Mahasiswa dan Dosen Harus Berpikir Kritis

Ia mengatakan perlu berpikir kritis di era post truth. Akademisi harus bermartabat dan tahu berpikir mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Bedah Buku di STFSP, Mahasiswa dan Dosen Harus Berpikir Kritis
Istimewa
Bedah Buku di STFSP, Mahasiswa dan Dosen Harus Berpikir Kritis 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Mahasiswa-mahasiswi Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (STFSP) harus rajin menulis.

Itu kata Prof. Dr. Johanis Ohoitimur, guru besar STFSP saat menanggapi bedah buku "melangkah dengan akal budi, karsa dan karya" yang dieditori oleh Dr. Barnabas Ohoiwutun dan "Matuari Wo Tonaas" karya Dr. Paul Richard Renwarin.

Tampil sebagai pembedah buku pertama ialah Dr. Ignatius Welerubun SS, MA. Sementara, untuk buku kedua dibedah Alex Ulaen, DEA. Judul materi pembedahannya "Aroma strukturalisme atau simbolisme dalam "matuari wo tonaaas" karya PR Renwarin.

Sebagai moderator Pastor Dr. Barnabas Ohoiwutun.

Dalam kegiatan di aula STFSP, Sabtu (8/2/2020), Pastor Yong, sapaan akrabnya mengatakan menulis harus dimulai dengan penelitian. Ini baginya yang paling dibutuhkan dalam dunia pendidikan.

Ia mengatakan perlu berpikir kritis di era post truth. Akademisi harus bermartabat dan tahu berpikir mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Para dosen juga harus berpikir kritis. Perlu duduk tenang dan ketenangan batin untuk itu.

Para dosen harus bergaul dalam organisasi profesi dan lintas ilmu. Manfaat terbesar ialah mendapat pengetahuan jauh dari keahlian.

Filsafat harus grounded. Filsafat diperkenalkan dalam pergaulan antar organisasi.

Ia sudah membuat tulisan soal filsafat praktis tahun 2007. Ia juga sudah mengajarkan etika pemerintahan di badan diklat propinsi Sulut.

Halaman
123
Penulis: David_Manewus
Editor: Maickel_Karundeng
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved