Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

NEWS

Kunjungi Komunitas Tionghoa, Ganjar Pranowo Disambut Baik: Inilah Cara Sebenarnya Bertoleransi

Ganjar Pranowo menghadiri jamuan makan siang yang digelar Perkoempoelan Sosial Rasa Dharma atau Boen Hian Tong di Jalan Gang Pinggir Pecinan Semarang

Editor: Rhendi Umar
Istimewa
Gubernur Ganjar Pranowo mengucapkan salam "pai/soja" saat mengunjungi Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong (Rasa Dharma) di Gang Pinggir, Pecinan, Semarang, Jum'at (24/1). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Ganjar Pranowo menghadiri jamuan makan siang yang digelar Perkoempoelan Sosial Rasa Dharma atau Boen Hian Tong di Jalan Gang Pinggir Pecinan Semarang.

Berbagai olahan daging ayam jadi menu utama, selain tumpeng nasi kuning.

Kudapan khas Tionghoa jadi hidangan pelengkap.

"Orang Tionghoa juga melakukan kenduren (kenduri). Makan bersama keluarga, tetangga atau teman," kata Haryanto Halim, Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata (Kopisemawis).

Hidangan utama berupa olahan daging ayam tersebut bukan karena ada Ganjar.

Wuhan jadi Kota Mati, Tidak Ada yang Berbicara dan Suasana Jadi Menyeramkan

Meski sebagai kelompok sosial yang berbasis di Pecinan, ada tiga muslimah yang jadi bagian dari kepengurusan kelompok yang telah berdiri sejak 1876 itu.

Jadi olahan daging babi sangat jarang ada di meja makan.

Bukan hanya di meja makan, olahan daging babi juga tidak bakal ditemukan di altar gedung yang dikelola kelompok tersebut.

Hal itu lantaran sejak tahun 2013 terdapat sinchi atau papan nama leluhur, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

"Sajian daging babi kita ganti dengan daging kambing. Ini penghormatan kami kepada Gus Dur, satu-satunya muslim yang berada di altar ini," katanya.

Ganjar tiba di gedung bernama Rasa Dharma itu setelah melaksanakan ibadah salat Jumat di Masjid An Nur Diponegoro, yang menjadi satu-satunya masjid di kawasan Pecinan.

Begitu tiba, Ganjar langsung diajak Haryanto Halim untuk menengok altar, sinchi, prasasti doa untuk Gus Dur dan berbagai hidangan yang tersedia di depan altar.

Setelah keliling dan berfoto di dalam gedung Rasa Dharma tersebut, Ganjar lantas dipersilakan santap siang.

Meski sempat beralasan sudah kenyang, Ganjar justru dengan lahap makan berbagai hidangan olahan daging ayam, dari sop hingga ayam bakar.

Kalahkan Bom Nuklir: Virus Corona Bisa Tewaskan 65 Juta Orang dalam 18 Bulan

Bahkan ketika hendak pamitan, beberapa ibu-ibu memanggil, menghentikan langkah gubernur berambut putih itu untuk memberi Tenong, bingkisan berisi makanan.

Ibu-ibu itu menjelaskan masing-masing dari kudapan dalam Tenong itu memiliki makna.

"Di dalam ini semuanya bermakna. Jajanan manis biar hidupnya manis, kue lapis biar rizkinya berlapis, kue keranjang biar rizkinya masuk ke keranjang," kata ibu-ibu pengurus Rasa Dharma itu.

Mendengar penjelasan itu, Ganjar pun langsung nyeletuk.

"Yang jelas ini membikin kenyang. Inilah cara yang sebenarnya bertoleransi, ternyata bukan hanya Jawa atau Islam, Tionghoa juga ada kenduri, pulang membawa berkat," kata Ganjar. (*)

Gubernur Ganjar Pranowo Tempuh Jarak 8 Kilometer Dengan Sepeda Tua, Meresmikan Jalan Desa

Ganjar Pranowo meresmikan jalan antara desa Pesanggrahan hingga Ciwuni Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap, Rabu (23/10).

Ganjar Pranowo mengayuh sepeda motor di sepanjang jalan berjejer 1.089 tumpeng yang disiapkan masyarakat untuk selamatan.

Jalan dengan lebar sekitar empat meter dan panjang 8 KM tersebut sebenarnya adalah jalan kabupaten.

Menurut Ganjar jalan tersebut tahun lalu rusak parah. Bahkan dirinya sempat merasakan saat gowes melintasi empat desa di sepanjang jalan itu.

"Beberapa waktu lalu saya lewat sini jalannya lumayan, lumayan hancur. Saya masih ingat beberapa kepala desa datang Maghrib-maghrib marah-marah semua. Saya bilang, ya diusulkan tapi sabar. Dan Alhamdulillah hari ini sudah ada bentuknya," kata Ganjar.

Setelah jalan tersebut diajukan pembangunannya dan selesai dibangun, masyarakat meminta Ganjar untuk meresmikan.

Begitu datang, seperti ingin merasakan sensasi perbedaan dengan saat pertama kali gowes di jalan tersebut,

Jelang Hasil Autopsi Lina Jubaedah, Teddy Ketakutan? Dilaporkan Kasus Pembunuhan Berencana

Ganjar mengayuh sepeda tua. Menyalami masyarakat yang berjejer di sepanjang jalan dan berdialog dengan mereka di balai desa.

"Mengejutkan. 1.089 tumpeng dibuat hanya untuk mengucapkan terimakasih. Satu pertunjukan kultural ditunjukkan. Saya melihat wajah keikhlasan, senyum-senyum ketulusan yang tadi minta salaman," katanya.

Melihat respon masyarakat, Ganjar mengatakan sebenarnya yang senang bukan hanya rakyat, tapi dirinya. Karena melihat rakyat tertawa memiliki jalan yang baik itu sebuah kebahagiaan pemimpin.

Ganjar juga mengatakan pembangunan jalan tersebut berasal dari dana gotong royong antara Pemkab Cilacap, Pemprov Jateng dan Pemerintah Pusat.

Anggaran sebesar Rp 4 miliar dari APBD Kabupaten, Bangub Rp 7 miliar dan Rp 5 miliar dari Pemerintah Pusat.

"Ini anggaran gotong royong. Dari kabupaten, Provinsi dan pusat. Masyarakat sehingga bisa senang. Kalau ekonominya bagus kan masyarakatnya senang," katanya.

HASIL dan Proses Autopsi Jenazah Lina Jubaedah, Mantan Istri Sule, Ini Kata Kombes Saptono Erlangga

Empat desa yang dilalui jalan tersebut adalah Pesanggrahan, Karang Jengkol, Keleng dan Ciwuni. Wakil Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman mengatakan keempat desa tersebut merupakan bagian dari wilayah pertanian. Jadi kebutuhan fasilitas yang bagus, jalan terutama sangat vital.

"Selain itu ini juga jalan penghubung antara Purwokerto dengan Cilacap. Jadi saya yakin dengan perbaikan ini akan mampu mengungkit perekonomian masyarakat," katanya. (*)

SUBSCRIBE YOUTUBE TRIBUNMANADO OFFICIAL:

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Ganjar Kunjungi Komunitas Tionghoa Jelang Imlek, Pulang Dapat Berkat

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved