Tokoh
Jenderal Asal Sulut yang Pernah Memimpin Pembebasan Sandera KKB Dalam Waktu Singkat
Setelah Indonesia merdeka, regenerasi putra-putra berdarah Sulawesi Utara tetap ada dan turut menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).
TRIBUNMANADO.CO.ID - Setelah Indonesia merdeka, regenerasi putra-putra berdarah Sulawesi Utara tetap ada dan turut menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Banyak di antara mereka yang dianggap berjasa pada masa pemerintahan, baik Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba) hingga reformasi.
Nah berikut ini ada ada salah satu Jenderal asal Sulawesi Utara yang turut berperan dalam operasi pembebasan sandera Mapenduma Team Ekspedisi Lorenz di Irian Jaya.
Ia juga pernah memimpin langsung operasi pembebasan sandera yang ditawan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), dan berhasil dalam waktu yang singkat.
Dia adalah Letnan Jenderal TNI (Purn) Johny Josephus Lumintang.
Johny lahir Desa Noongan, Minahasa, Sulawesi Utara, 28 Juni 1947.
Merupakan salah satu tokoh militer Indonesia yang pernah menjadi duta besar Indonesia untuk negara Filipina sejak 14 Februari 2014.
Johny menamatkan pendidikan militer di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) tahun 1970, dan masuk di kesatuan Infanteri - Baret Hijau, yakni salah satu pasukan TNI AD yang berkualifikasi Komando, yakni Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat, disingkat KOSTRAD.
Pangkat Terakhir Johny adalah Letnan Jenderal TNI. Jabatan terakhir sebagai militer aktif adalah Sekretaris Jenderal DEPHAN.
Operasi Mapenduma Team Ekspedisi Lorenz
Lumintang merupakan salah satu tokoh yang turut berperan dalam operasi pembebasan sandera Mapenduma Team Ekspedisi Lorenz di Irian Jaya, lewat Operasi Rajawai.
Saat itu dirinya menjabat Kepala Staf Kodam/Kasdam VIII/Trikora (1996).
Operasi Mapenduma adalah operasi untuk membebaskan peneliti dari Ekspedisi Lorentz 95 yang disandera Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Organisasi Papua Merdeka (OPM) dalam peristiwa Krisis sandera Mapenduma.
Berawal pada 8 Januari 1996, Mission Aviation Fellowship cabang Wamena melaporkan kepada Kodim Jayawijaya, Irian Jaya, bahwa sejumlah peneliti yang tergabung dalam Ekspedisi Lorentz 95 disandera oleh OPM kelompok Kelly Kwalik, di desa Mapenduma, kecamatan Tiom, Jayawijaya.
Ekspedisi itu sendiri sudah berada di Mapenduma, sekitar 160 km di barat daya Wamena, sejak tanggal 18 November 1995.
Sejak dilaporkan ada tindakan penyanderaan terhadap para tim ekspedisi ini, pada hari itu juga tanggal 8 Januari 1996 operasi pembebasan sandera dimulai.
Operasi ini berakhir tanggal 9 Mei 1996 setelah penyerbuan Kopassus ke markas OPM di Desa Geselama, Mimika. Dalam penyerbuan ini, 2 dari 11 sandera ditemukan tewas.
Mereka yang tewas yakni Matheis Yosias Lasembu, seorang peneliti ornitologi dan Navy W. Th. Panekenan, seorang peneliti biologi.
Kembali Mendapat Tugas
Setelah dilantik sebagai Panglima Kodam VII/Trikora (sekarang Kodam XVII/Cendrawasih) pada 20 Agustus 1996, Lumintang kembali mendapat tugas lagi.
Ia diberi amanat untuk membebaskan sandera 14 orang karyawan PT. Jayanti yang disandera GPK di Kamuna Raya Camp Timika tanggal 14 Agustus 1996.
Operasi pembebasan sandera ini dipimpin Lumintang sendiri, dan diselesaikan dalam waktu singkat, tepatnya pada 18 September 1996. Sandra dibebaskan walaupun akhirnya 2 sandera meninggal dunia.
Jabatan Pangdam VII/Trikora diembankan padanya selama satu setengah tahun.
Tamatan Akabri tahun 1970, ini kemudian kembali dipercayakan menjabat Asisten Operasi Kasum TNI (dulu ABRI).
Beberapa jabatan penting sebelumnya antara lain: Komandan Batalyon Infanteri 751, Dandim Merauke dan Jayapura, Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 18/Trisula Kostrad, Komandan Rindam Jaya, Danrem 164 Timor-Timur dan Panglima Divisi Infanteri I/Kostrad.
Pada saat-saat kritis saat Soeharto turun dari kursi kepresidenan, Johny dipercaya menjabat Pangkostrad, menggantikan Letjen TNI Prabowo Subianto (yang saat itu terkenal sebagai The Rising Star).
Sayang, masa jabatannya sebagai Panglima Kostrad sangat singkat, hanya 17 jam (22-23 Mei 1998). Itu adalah saat-saat yang paling menentukan dalam kehidupan bangsa dan negara.
Tanggal 30 Oktober 1998, Johny lagi-lagi dipercaya menggantikan posisi Prabowo sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI. Sekaligus juga menggantikan kedudukannya sebagai Anggota Fraksi ABRI MPR-RI.
Suami Drg. Sonya Riupassa, MHA ini pada tanggal18 Januari 1999 ditunjuk menjadi Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat.
Sebelum pensiun Johny menduduki jabatan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Pertahanan setelah sebelumnya menjabat Gubernur Lemhanas.
Dalam waktu yang relatif singkat, yaitu kurang lebih 10 bulan, ia telah menduduki banyak jabatan strategis.
Lumintang adalah alumnus Sesko TNI (1991-1992) Angkatan 18, Sus Staf Senior (1992) serta Lemhannas (1995).
Ada satu kegiatan yang amat disukai Johny Lumintang saat tak berbaju militer lagi, yaitu berkebun.
Johny mreupakan salah satu jenderal dari Sulawesi Utara yang bersinar cemerlang, tak kalah dari Prabowo Subianto.
• DAFTAR Jenderal Asal Manado, Salah Satunya Berhasil Dalam Operasi Pembebasan Sandera OPM
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/letnan-jenderal-tni-johny-josephus-lumintang.jpg)