Perwira TNI
DAFTAR Jenderal Asal Manado, Salah Satunya Berhasil Dalam Operasi Pembebasan Sandera OPM
Bicara soal kiprah di dunia militer, sebelum Indonesia lepas sepenuhnya dari kungkungan pendudukan Bangsa Asing, sudah banyak putra Sulawesi Utara.
TRIBUNMAMANDO.CO.ID - Bicara soal kiprah di dunia militer, sebelum Indonesia lepas sepenuhnya dari kungkungan pendudukan Bangsa Asing, sudah banyak putra Sulawesi Utara yang turut mengangkat senjata demi Republik ini.
Sebut saja nama-nama seperti Danniel Elias Mogot, yang gugur di hutan Lengkong Tanggerang, sang penggagas Akademi Militer di Tanggerang.
Ada juga Alexander Evert Kawilarang, yang turut membidani lahirnya pasukan berkualifikasi komando di tubuh Angkatan Darat, yakni Kopassus.
Atau Ahmad Yunus Mokogonta, yang turut dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Jawa Barat.
Ada juga John Lie, pahlawan Nasional berjuluk hantu laut yang berjasa menyelundupkan senjata demi kepentingan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Mereka semua dikenang sebagai pejuang-pejuang yang terlibat langsung dalam revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, pada tahun 1940-an.
Setelah Indonesia merdeka, regenerasi putra-putra berdarah Sulawesi Utara tetap ada dan turut menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Banyak di antara mereka yang dianggap berjasa pada masa pemerintahan Orde Baru hingga reformasi. Beberapa dari mereka, usai bertugas di militer, mencoba peruntungan di jalur politik dan berhasil.
Nah berikut ini ada 5 Jendral Purnawirawan TNI asal Sulawesi Utara, yang mulai menduduki posisi penting militer pada masa Orde Baru. Di antara mereka ada yang turut berperan dalam operasi pembebasan sandera Mapenduma Team Ekspedisi Lorenz di Irian Jaya.
1. Laksamana TNI (Purn) Rudolf Kasenda
Pria berdarah Manado kelahiran Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1934 ini, meninggal di Jakarta, 11 Juli 2010 pada umur 76 tahun,
Ia adalah Kepala Staf TNI Angkatan Laut dari tahun 1986 hingga 1989.
Selain itu ia juga pernah menjadi Duta Besar untuk Korea Selatan periode 1990 - 1993.
Pendidikan yang pernah diterima antara lain, SLA di Ujungpandang (1952) dan Institut Akademi Angkatan Laut, Surabaya (1955).
Ia pernah ditugaskan sebagai Wakil Asisten Operasi KSAL (1975-1978), Asisten Logistik Hankam (1978-1981), Panglima Armada RI (1981), dan Deputi Logistik KSAL (1985).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/foto-tim-lorentz-1996-yang-disandera-opm.jpg)