Selasa, 21 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Menteri BUMN Erick Thohir Dapat Ancaman, Gegara Tangani Skandal Jiwasraya dan Asabri

Menteri BUMN Erick Thohir kerap diancam, setelah mencuat dugaan skandal PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero).

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Sigit Sugiharto
Kompas.com/Mutia Fauzia
Menteri BUMN Erick Thohir jelaskan alasan harga BBM turun. 

TRIBUNMANADO.CO.IDMenteri BUMN Erick Thohir kerap mendapat ancaman, setelah mencuat dugaan skandal dua BUMN, yakni PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero).

“(Ancaman sudah menjadi) makanan sehari-hari, apalagi ada (kasus) Jiwasraya dan Asabri,” ujar Erick dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (17/1).

Sejak pekan lalu, mencuat dugaan korupsi bernilai total Rp 23,7 triliun pada dua perusahaan tersebut.

 Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengaku sering mendapat ancaman.

Erick tidak memerinci bentuk ancaman yang dia terima setelah menjabat sebagai menteri.

Dia hanya mengatakan, ancaman yang didapat tak menyurutkan langkahnya untuk memperbaiki BUMN.

“Tapi kita lillahi ta'ala saja. Kerja yang terbaik saja,” kata Erick.

Erick Thohir: Saya Dapat Ancaman Tiap Hari Setelah Jabat Menteri BUMN, Mengaku Beri Sinyal Mundur

Mantan pemilik klub sepakbola Italia, Inter Milan itu pun mengaku lebih senang menjadi seorang pengusaha ketimbang menjadi menteri.

“(Lebih enak jadi) pengusaha. (Jadi pengusaha) bisa lebih bebas,” ucap dia.

PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero) tengah dilanda masalah yang bersumber dari penempatan portofolio investasi pada saham-saham gorengan.

Nilai saham yang diinvestasikan oleh kedua perusahaan tersebut merosot yang membuat aset perusahaan mengalami penyusutan drastis.

Masalah kerugian dalam laporan keuangan pun membuat perusahaan terancam gagal bayar polis kepada masing-masing nasabah.

Pada bagian lain, Erick Thohir berencana ingin menutup atau menggabungkan perusahaan-perusahaan pelat merah tak menguntungkan.

Sebab, saat ini Erick merasa perusahaan BUMN terlalu banyak.

Tak hanya itu, ada beberapa perusahaan plat merah yang tak sesuai core businessnya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved