Yenny Wahid Bicara Prabowo Bidik Capres 2024, Kekuatan Luar Istana, Isu Agama

Masuknya Partai Gerindra dan Prabowo Subianto dalam kekuasaan, tepatnya dalam gerbong Presiden Joko Widodo

TribunJakarta.com
Yenny Wahid berbicara soal pemerintahan saat ini 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Masuknya Partai Gerindra dan Prabowo Subianto dalam kekuasaan, tepatnya dalam gerbong Presiden Joko Widodo sangat mengejutkan banyak pihak.

Pasalnya, keduanya dalam 5 tahun terakhir berseteru hebat. Apalagi saat pilpres 2019, kubu Jokowi dan Prabowo berseteru hingga mengancam persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Direktur Eksekutif Wahid Institute, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau Yenny Wahid.
Direktur Eksekutif Wahid Institute, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau Yenny Wahid. (Tribunnews.com/ Fransiskus Adhiyuda)

Saking panasnya persaingan, maka isu agama atau politik identitas dipakai untuk saling menjatuhkan lawan masing-masing. Karena itu, tak salah sehingga masuknya Prabowo Subianto sebagai kekuatan utama oposisi menjadi Menteri Pertahanan yang dengan sendirinya memindahkan Partai Gerindra dari oposisi ke penyokong pemerintah.

Hal ini yang kembali diutarakan putri mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid terkait masuknya Prabowo Subianto dalam kabinet.

Diketahui, sejak Oktober 2019 lalu, Prabowo resmi menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) Kabinet Joko Widodo (Jokowi) - Ma'ruf Amin.

Dilansir TribunWow.com, Yenny Wahid menyebut masuknya Prabowo dalam kabinet berkaitan erat dengan kekuasaan.
Hal itu disampaikannya melalui tayangan YouTube KompasTV, Rabu (18/12/2019).

Mulanya, Yenny Wahid menyinggung soal banyaknya tokoh berpengaruh non negara beberapa waktu belakangan ini.

Tol Manado-Bitung Dibuka Gratis Hari ini, Wagub Langsung Jajal Pakai Kartu Transaksi Elektronik

Resmi Jadi Pelatih di Klub Promosi Liga Super Malaysia, Ini Kata Legenda Timnas Indonesia

Prihatin Konsumsi Daging Anjing di Yogyakarta, Anggota Parlemen Eropa Bertemu Pemerintah Provinsi

Disebutnya, pemerintah cukup ketakutan menghadapi kelompok tersebut.

"Di satu sisi negara tampaknya agak bingung menghadapi kelompok non state ini, apalagi kalau mereka menggunakan politik identitas sebagai platform mereka dalam melakukan tindakan represi," ujar Yenny.

"Misalnya menggunakan isu agama."

Halaman
123
Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved