Kamis, 11 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Guntur Romli: Persekusi terhadap Anggota Banser, Pancingan yang Bertujuan Kerusuhan

Intelektual Muda NU, Mohamad Guntur Romli mengecam keras intimidasi dan persekusi terhadap anggota Banser NU.

Tayang:
Penulis: Aldi Ponge | Editor: Aldi Ponge
Facebook/Mohamad Guntur Romli
Mohamad Guntur Romli 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Intelektual Muda NU, Mohamad Guntur Romli mengecam keras intimidasi dan persekusi terhadap anggota Banser NU di Pondok Pinang Jakarta Selatan, Selasa 10 Desember 2019.  

"Saya mengecam keras intimidasi dan persekusi terhadap anggota Banser dengan makian kafir, mony*t, anj*ing, hanya orang radikal yang mengkafirkan sesama muslim" kata Guntur Romli.

Seperti yang ditwit oleh akun resmi Nahdlatul Ulama, anggota Banser Depok, Eko bersama temannya, dipepet dan dihentikan oleh seseorang di Pondok Pinang, Jakarta Selatan yang mengintimidasi mereka untuk takbir dengan makian.

"Eko dan Wildan anggota Banser Depok yang melintasi Jakarta Selatan menuju Masjid Al-Muhajirin, Cipadu, Tangerang terkait pengajian Gus Muwafiq, tapi di Pondok Pinang, Jakarta Selatan.

Mereka dipepet dan dihentikan oleh seseorang yang kemudian mempersekusi mereka dengan makian.

Orang itu sengaja memancing keributan untuk kerusuhan, alhamdulillah sahabat Banser tidak terpancing, mereka tetap melanjutkan perjalanan dan bertugas," kata Guntur Romli mengutip keterangan dari Eko, Anggota Banser Depok.

Untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan Guntur Romli mendesak aparat hukum menangkap pelaku.

"Agar isu ini tidak menjadi liar dan menjalar.

Saya minta kepolisian menangkap pelaku, provokasi dan persekusi dia membawa-bawa isu SARA sangat berbahaya.

Saya juga minta kader-kader Banser dan NU yang lain tidak terpancing dan tetap menahan diri, serahkan pada proses hukum" pungkas Guntur Romli.

Banser Kota Depok diganggu orang tak dikenal di Jakarta Selatan.
Banser Kota Depok diganggu orang tak dikenal di Jakarta Selatan. (Kolase Twitter @alissawahid)

PBNU Angkat Suara

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) angkat bicara soal kejadian persekusi yang menimpa dua anggota Badan Anshor Serbaguna (Banser) karena mereka enggan meneriakkan takbir.

"Berikut beberapa poin menyikapi peristiwa persekusi yang menimpa Saudara Eko Sutriyo dan Wildan (Banser Kota Depok) yang terjadi di Pondok Pinang," kata HA Helmy Faishal Zaini, Sekretaris Jenderal PBNU, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/12/2019).

Lima poin yang dimaksud Sekjen PBNU tersebut adalah:

1. Prihatin bahwa pemahaman keagamaan yang disertai kebencian masih saja terjadi, bahkan menggunakan takbir secara keliru.

2. Mengapresiasi kapada Saudara Eko dan Wildan yang tidak terpancing provokasi. Hendaknya hal seperti ini dapat menjadi contoh bagi yang lainnya.

3. Meminta kepada aparat kepolisian untuk mengusut pelaku persekusi.

4. Mengimbau kepada segenap warga NU untuk tetap temang dan tidak terpancing. Tetap jaga kondusivitas demi tercapaianya kehidupan berbangsa yang damai.

5. Islam adalah agama yg mengajak kepada perdamaian, kemanusiaan, toleransi.

Takbir adalah kalimat suci yang justru setiap insan harus menjaganya dengan perbuatan dan akhlak.

Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faishal Zaini menegaskan pihaknya prihatin bahwa pemahaman agama disertai kebencian masih saja terjadi.

"Prihatin bahwa pemahaman keagamaan yang disertai kebencian masih saja terjadi, bahkan menggunakan takbir secara keliru," kata Helmy Faishal Zaini dalam keterangannya yang diterima TribunJakarta, Rabu (11/12/2019).

Helmy Faishal Zaini berharap masyarakat bisa mencontoh Eko dan Wildan apabila menjumpai situasi yang sama.

"Mengapresiasi kapada Saudara Eko dan Wildan yang tidak terpancing provokasi. Hendaknya hal seperti ini dapat menjadi contoh bagi yang lainnya," lanjut Helmy Faishal Zaini.

Ketua PP GP Ansor Syaiful Rahmat Dasuki (tengah) saat ditemui di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2019).
Helmy Faishal Zaini juga meminta aparat kepolisian agar mengusut pelaku persekusi.

Helmu tidak lupa mengimbau segenap warga NU agar tetap temang dan tidak terpancing. Tetap jaga kondusivitas demi tercapaianya kehidupan berbangsa yang damai.

"Islam adalah agama yg mengajak kepada perdamaian, kemanusiaan, toleransi. Takbir adalah kalimat suci yang justru setiap insan harus menjaganya dengan perbuatan dan akhlak," pungkas Helmy Faishal Zaini.

Tinggal Tunggu Waktu Penangkapan Pelaku

Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Pol Bastoni Purnama menyebut penangkapan terhadap pelaku persekusi dua anggota Banser NU tinggal menunggu waktu saja.

"Tinggal menunggu waktu penangkapannya saja, jadi saya kira tidak perlu kita membuat DPO (daftar pencarian orang)," ujar Bastoni di Polres Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2019).

Pihak kepolisian sadar pelaku berpotensi melarikan diri karena video perbuatannya telah viral di jejaring media sosial.

Baca: Polisi Sudah Kantongi Identitas Pelaku Persekusi Terhadap 2 Anggota Banser NU di Jakarta Selatan

Namun, Bastoni menegaskan pihak kepolisian sudah mengetahui wajah, alamat, dan inisial pelaku persekusi.

Sehingga imbauan yang diberikan kepada pelaku ialah agar segera menyerahkan diri kepada pihak kepolisian dan menjalani pemeriksaan.

"Kami mengimbau untuk segera menyerahkan diri, diproses dalam penyelidikan kita sehingga masalah cepet selesai dan tidak menjadi besar agar tidak menjadi konflik antara ormas-ormas yang ada di Jaksel," ujarnya.

Menurut Bastoni, tim Reskrim sudah diturunkan untuk melalukan pendalaman kasus dengan menggali keterangan terhadap empat orang saksi.

"Sampai saat ini ada empat orang saksi yang sudah diperiksa, kemudian kita juga masih melakukan olah TKP mencari alat bukti yang lain," kata Bastoni.

Kantongi identitas pelaku

Kepolisian mengaku sudah mengantongi identitas pelaku persekusi terhadap dua anggota Banser NU, Eko dan Wildan.

Meski begitu, pihak kepolisian hingga saat ini masih berupaya mencari keberadaan pelaku.

"Tersangka sudah kita ketahui wajahnya, alamatnya, kemudian inisialnya. Sementara kita melakukan mencari tersangka untuk diambil. Pelaku untuk sementara satu inisialnya H, sekarang proses pencarian," kata Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Pol Bastoni Purnawa di Mapolres Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2019).

Bastoni mengatakan persekusi terhadap Eko dan Wildan terjadi pada 10 Desember 2019 sekira pukul 15.00 WIB di Jalan Ciputat Raya I Nomor 61, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Lokasi kejadian tepatnya berada di seberang toko Holland Bakery.

Saat itu kedua korban dalam perjalanan dari arah Pasar Jumat menuju Depok.

"Mereka dibuntuti beberapa orang. Di TKP akhirnya Banser tersebut sempat dipepet, juga dengan kata-kata yang agak keras sehingga pelaku merasa terancam dan terintimidasi," kata Bastoni.

Selain itu, aksi persekusi tersebut ternyata juga divideokan oleh pelaku dan akhirnya menjadi viral.

Bastoni mengatakan, kedua anggota Banser NU tersebut kemudian melapor kepada ketua Banser NU Jakarta Selatan, Muhammad Anwar.

"Saudara Muhammad Anwar kemudian menghubungi Polres Jaksel dan membuat laporan kemarin malam. Setelah itu kita (pihak kepolisian) melakukan langkah-langkah. Kasat Reskrim melalukan upaya mencari alat bukti, saksi-saksi," ujar Bastoni.

Sampai saat ini sudah ada empat orang saksi yang diperiksa pihak kepolisian terkait kasus tersebut.

"Kemudian juga kita masih melakukan olah TKP mencari alat bukti yang lain," kata Bastoni.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved