Renungan Minggu
RENUNGAN - Lingkungan Hidup Layak Huni
Ada ritual dan simbol kecil, sederhana, tapi penuh makna, untuk membuka dan bahkan menjalani masa Adven.
Penulis: | Editor: Alexander Pattyranie
Renungan Minggu oleh :
Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC
Uskup Manado
Hari minggu tanggal 1 Desember kita memasuki tahun liturgi yang baru, dengan merayakan Hari Minggu I dalam masa Adven.
Ada ritual dan simbol kecil, sederhana, tapi penuh makna, untuk membuka dan bahkan menjalani masa Adven ini.
Ritual dan simbol itu adalah Krans Adven.
Ada siklus hidup penuh harapan yang selalu bergerak menuju cahaya yang semakin terang benderang.
Sambil membuka dan menjalani tahun liturgi yang baru ini, tentu saja kita bersyukur atas perjalanan hidup sepanjang tahun liturgi yang sudah lewat, yang sudah dimeriahkan dengan peristiwa-peristiwa dan perayaan-perayaan iman.
Rangkaian peristiwa dan perayaan iman itu menegaskan bahwa kita memang terus bergerak maju, melayakkan kita untuk menyongsong datangnya "Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, (yang sedang datang ke dalam dunia" (Yoh. 1:9).
Dalam rangka menyongsong datangnya Terang itu, kita perlu mengkondisikan hidup kita dan lingkungan kita, supaya terhitung layak huni.
Lingkungan yang layak huni sudah digambarkan oleh Nabi Yesaya "Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul, akan berbaring di samping Kambing.
Anak domba dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil menggiringnya.
Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu, anak yang menyusu akan bermain dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak; tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk (Yes. 11:6-9)
Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Ahmed At-Tayyeb, dalam pertemuan pada tanggal 4 Februari 2019 di Abu Dhabi, membuka hati dan budi masyarakat dunia untuk membangun dunia yang layak huni, dengan menegaskan niat bersama untuk membangun persaudaraan manusia demi perdamaian dunia dan hidup berdampingan.
Dunia yang layak huni adalah ruang yang memberi peluang kepada sesama anggota untuk menikmati hidup berdampingan, tidak saling mengancam, tidak saling menghancurkan, tidak saling mengucilkan.
Hidup bersama diperjuangkan sambil mengedepankan kepentingan bersama dengan tetap menghormati kekhasan masing-masing pribadi dan kelompok.
Cita-cita hidup bersama adalah kerukunan dan kedamaian yang menjamin kenyamanan dalam menjalani hidup dan menjalankan karya-karya hidup masing-masing.
Masing-masing anggota menjadi batu-batu yang hidup membangun lingkungan yang layak huni itu.
Yang satu tidak perlu menjadi sandungan bagi yang lain.
Semua anggota saling menerima untuk mewujudkan persaudaraan insani yang inklusif dan bersama-sama bersyukur dan bergembira : "betapa bahagianya kami berada di tempat ini" (Mat. 17.4)
Sidang KWI tahun 2019 di Bandung (4-14 November) mengambil tema dan memberi tekanan pada Persaudaraan Insani untuk Indonesia Damai.
Sambil mengenang perjalanan bersama sebagai satu bangsa, sungguh terasa betapa mahalnya kerukunan dan kedamaian itu.
Terlalu banyak biaya harus digelontorkan untuk itu, terlalu banyak energi dihabiskan untuk mewujudkannya; terlalu banyak waktu dan pekerjaan harus dikorbankan untuk itu; bahkan terlalu banyak nyawa melayang untuk menggapainya.
Kerukunan dan kedamaian itu memang harus dibayar mahal. Untuk mewujudkannya perlu ada perubahan dalam tata kelola pergaulan dan interaksi sosial.
Interaksi sosial itu perlu diletakkan di atas dasar yang kokoh, yaitu pengakuan atas persaudaraan insani.
Kesaksian tentang persaudaraan insani itu ditemukan secara sangat mengagumkan di kandang Betlehem, di mana tampil anak-anak manusia yang berkehendak baik untuk membangun lingkungan yang layak huni.
Mereka tampil sebagai pelaku-pelaku perubahan; mereka mau keluar dari kotak fanatisme mereka (keluarga, suku, agama, keyakinan, status, jabatan) dan mewartakan persaudaraan insani.
Yesus menjadi pelaku perubahan dan pembaharuan yang luar biasa.
Yesus mengubah kandang dan palungan menjadi rumah yang layak dihuni oleh manusia.
Palungan yang disiapkan untuk domba, kini menjadi tempat yang nyaman untuk Anak Domba Allah.
Kandang menjadi tempat berteduh segerombolan binatang kini menjadi rumah perjumpaan yang sangat nyaman antar manusia.
Dunia malam yang menakutkan untuk para gembala berubah menjadi malam yang penuh kedamaian dan membangkitkan keberanian untuk hidup.
Para ilmuwan dan bijak dari Timur memuncaki petualangan mereka di kandang itu, di mana mereka menemukan jawaban untuk petualangan keingintahuan mereka.
Di situ mereka diterima, dan di situ pula mereka menyerahkan masa depan mereka kepada Emmanuel.
Sungguh kandang itu menjadi rumah yang layak huni, karena orang-orang berbeda yang bertemu di dalamnya tidak memersoalkan perbedaan mereka, tetapi justru merenungkan masa depan mereka, menegaskan tujuan hidup mereka, menemukan cita-cita mereka sebagai manusia, yaitu keselamatan.
Di dalam ruang ada ruang yang berbeda; di dalam rumah ada orang yang berbeda; di dalam rumah ada aspirasi berbeda; di dalam rumah ideologi yang berbeda; tetapi mereka semua bersatu di bawah tuntunan visi yang sama yaitu: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Luk 2:14).
Gereja Keuskupan Manado hadir, hidup dan berkarya di tiga Propinsi (Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah) dengan keragaman agama (Katolik, Protestan, Islam, Hindu, dan Buddha) dan budaya (Minahasa, Mongondow, Sangihe-Talaud, Gorontalo, Banggai, Balantak, Kulawi, Lore, Pamona, Mori, Toraja, Bali, Flores, Jawa, Cina, dll).
Kemajemukan adalah fakta tak terhindarkan sebagai konteks di mana Gereja hadir, hidup dan berkarya.
Fakta ini harus dimengerti sebagai undangan atau panggilan bagi Gereja untuk memberikan tanggapan.
Tanggapan dimulai dengan berusaha untuk memahami perbedaan-perbedaan yang mewarnai keragaman itu; selanjutnya menegaskan bahwa ada kebaikan dan kebenaran yang terkandung di dalam masing-masing agama dan budaya itu; kemudian menghargai kebenaran dan kebaikan itu; akhirnya kita saling menerima, menghormati, dan merangkul sebagai anggota persaudaraan insani.
Demikian kita sudah berkontribusi membangun lingkungan yang layak huni untuk semua anggota persaudaraan insani.
Yang memersatukan kita adalah nilai-nilai kemanusiaan : torang samua ciptaan Tuhan dan torang samua basudara.
Selamat memasuki Masa Adven.
(Tribunmanado.co.id/David Manewus)
BERITA TERPOPULER :
• Kejelasan Susi Pudjiastuti untuk Pimpin BUMN, Menteri Erick Thohir: Figur Terbaik untuk Bank Mandiri
• Erick Thohir Lakukan 6 Gebrakan, Rini Soemarno Ngapain Aja Kemarin? Yunarto Wijaya Mempertanyakan,
• Sempat Viral di Facebook, Tendang Pintu Gereja Sambil Mengancam Warga Pakai Pisau di Jalan
TONTON JUGA :