Sabtu, 13 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Begini Ceritanya Ibu Hamil Kena HIV

Itu adalah sepenggal cerita Kiki, seorang perempuan berusia 33 tahun yang telah 12 tahun hidup dengan human immunodeficiency virus.

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
biliranisland.com
ILUSTRASI: Bocah 8 Bulan asal Sangihe Terinfeksi HIV, Ini Perbedaan HIV dan AIDS 

Itu menjadi penyebab begitu banyak ibu rumah tangga yang terkena HIV. Semua ini terjadi karena kelompok LSL menikah dan belum membuka status mereka ke istri. "Sayangnya lagi teman-teman LSL ini belum buka status ke istri atau pasangan ternyata dia itu HIV positif atau mereka sendiri juga belum tahu kalau mereka HIV positif," ujar Kiki.

Untuk menanggulangi penyebaran HIV pada ibu rumah tangga, Pusat Penelitian HIV/AIDS Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menjalankan program notifikasi pasangan. Dalam program ini setiap ibu hamil menjalani pemeriksaan HIV. Jika ibu tersebut positif, maka dia harus mengajak pasangannya untuk ikut menjalani tes.

Namun demikian, hasil pemeriksaan HIV bisa memberatkan ibu rumah tangga. Jika terbukti positif, dia harus berbicara kepada suami mengenai statusnya. Pembicaraan tersebut bisa berakibat merugikan bagi istri. Bisa jadi dia diceraikan, meski orang yang terkena HIV lebih dulu adalah suami.

"Jadi di panduan program itu ada bagaimana si perempuan membuka status HIV ke pasangannya. Kalau tidak dilaksanakan akan dimediasi. Kami juga akan bantu memberikan konseling," ujar Advocacy Officer Pusat Penelitian HIV/AIDS Unika Atma Jaya Iman Abdurrakhman kepada Tribun.

Injury Time Berdarah, Garuda Muda Tumbang 1-2 dari Vietnam, Gol Indah jadi Penentu

 

Ilustrasi anak yang mengidap HIV
Ilustrasi anak yang mengidap HIV (Internet)

 

Takut Berterus Terang pada Suami

Tingginya jumlah ibu rumah tangga terinfeksi HIV di Indonesia disebabkan oleh mandatory testing yang diwajibkan Kementerian Kesehatan. Program ini menjadi masalah karena diskriminatif terhadap perempuan.

Hal tersebut dikatakan oleh RAS alias Kiki, seorang Office Manager Ikatan Perempuan Positif Indonesia kepada Tribun Network di kantornya, Jakarta, Sabtu (30/11). Kiki mengatakan program ini telah dijalankan sejak tahun 2016, namun cenderung diskriminatif.

"Akhirnya yang ketahuan HIV hanya istrinya, kemudian ketika suaminya diajak tes HIV, kira-kira mau tidak dia? Mungkin ada beberapa yang mau terutama kalau memang benar dia sayang," ujar Kiki.

Menurut Kiki program ini merupakan satu penyebab diskriminasi terhadap perempuan hamil yang positif terinfeksi HIV. Kiki mencontohkan kisah seorang anggota IPPI yang positif HIV, namun takut untuk berterus terang kepada suaminya.

Kata Kiki kecemasan rekannya tersebut ada lantaran stigma buruk yang melekat pada perempuan yang terinfeksi HIV. Selain itu, yang menjadi kecemasan banyak ibu rumah tangga dengan HIV itu terutama ialah nasib sang anak kelak jika dicerai sang suami. Posisi tawar perempuan yang rendah dalam lingkup sosial juga menjadi pertimbangan rekannya untuk terbuka kepada sang suami soal HIV.

"Ada anggota IPPI yang karena dia HIV positif tidak mau terbuka kepada suami karena takut diceraikan. Kecemasan mereka itu beralasan karena takut kelak anaknya tidak ada yang menafkahi, sedangkan dia tidak punya pekerjaan dan segala macam," kata Kiki.

Kiki menambahkan pandangan sang mertua rekannya di IPPI juga menjadi kecemasan dan ketakutan untuk jujur soal terinfeksi HIV. Menurutnya pandangan miring yang melekat pada perempuan dengan HIV di mata mertua menjadi momok yang menakutkan.

"Apalagi pandangan mertua. Mereka itu pandangannya miring sekali ketika tahu menantu perempuannya positif HIV. Mereka langsung beranggapan perempuan yang kena HIV itu pasti perempuan yang bukan baik-baik, padahal asalnya siapa tahu dari si suami," ujarnya.

"Kalau suaminya benar-benar sayang, dia tidak akan meninggalkan, tapi kalau si perempuan ini HIV positif dan itu sumbernya dari si suami, masih banyak laki-laki di luar sana yang bisa menerima," tambah Kiki menceritakan proses pendampingan yang diberikannya pada rekan di IPPI.

Pemeriksaan HIV adalah cara yang penting dalam mencegah penularan HIV, cara perawatan dan memberikan layanan dukungan. Pemeriksaan HIV penting untuk mencapai target 90-90-90 yang dicanangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved