Senin, 13 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ciputra Meninggal Dunia

Ciputra Belajar berburu Binatang dari Pendatang Sangihe Talaud, Ajukan Mundur ke Erick Samola

Ciputra atau pemilik nama asli Tjie Tjin Hoan menghabiskan masa kecilnya dan remaja di daratan Sulawesi.

Editor: Aswin_Lumintang
(KOMPAS.com / Priyombodo)
Ir Ciputra 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Ciputra atau pemilik nama asli Tjie Tjin Hoan menghabiskan masa kecilnya dan remaja di daratan Sulawesi. Terlahir di Parigi, Sulawesi Tengah. Namun, besar dan mengenyam pendidikan hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA Frater Don Bosco Manado.

Ir Ciputra meninggal dunia di usia 88 tahun, sudah raih puluhan penghargaan semasa hidup. Terima dua Satyalencana dari Soeharto.
Ir Ciputra meninggal dunia di usia 88 tahun, sudah raih puluhan penghargaan semasa hidup. Terima dua Satyalencana dari Soeharto. (YouTube Jaya Suprana Show / ciputra.com)

Bahkan, lelaki berdarah keturunan ini sempat memperkuat Sulawesi Utara di Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jakarta. Saat itu, Ciputra memperkuat di atletik tepatnya lari 800 meter dan 1.500 meter.

Lengkapnya kisah sang konglomerat, lahir di Parigi, kota kecil di Sulawesi Tengah, sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara, semula hidup Tjie Tjin Hoan tak kekurangan. Hingga ayahnya ditangkap tentara Jepang lantaran dicurigai sebagai mata-mata. Ayah Tjin Hoan meninggal di ruang tahanan. Saat itu usia Tjin Hoan baru 12 tahun. Kehilangan tulang punggung, ekonomi keluarga itu seketika morat-marit.

Tjin Hoan, yang sebelumnya tak kenal berkotor-kotor di kebun, terpaksa memeras keringat setiap hari mengolah tanah supaya dia sekeluarga bisa makan. Lewat para pendatang dari Sangihe Talaud, Tjin Hoan belajar berburu binatang di hutan. Hanya dalam waktu singkat, ditemani kawanan anjingnya, dia telah menjadi pemburu yang hebat. Segala onak dan duri tak lagi menyakiti kakinya.

Setiap akhir pekan, dari pagi hingga petang, dengan bertelanjang kaki, Tjin Hoan memburu binatang untuk lauk makan keluarganya. Pulang dari hutan, biasanya dia selalu membawa babi hutan. Sebagian dagingnya disantap, sebagian lagi diawetkan dengan diasapi.

"Daging asap itu awet disimpan selama seminggu sehingga kami bisa makan daging setiap hari," kata Tjin Hoan.

Kematian sang ayah mengubah Tjin Hoan dari seorang anak yang manja menjadi anak yang ulet dan pantang menyerah lantaran ditempa hidup yang keras. Tjin Hoan selalu ingat nasihat sang ayah, "Jika ingin sukses, lawannya bukanlah orang lain, tapi diri sendiri."

Demi berlatih mengalahkan diri sendiri itulah Tjin Hoan rajin berlari.

Semangat pantang menyerah itu pulalah yang mengantarkannya bisa berkuliah di Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung, dan kemudian menjadikannya pengusaha supertajir.

Punya duit banyak bukan modal nomor satu untuk jadi pengusaha kaya. Boleh percaya atau tidak, tapi itulah yang terjadi pada Tjie Tjin Hoan alias Ciputra.

Ciputra merintis usahanya sejak masih jadi mahasiswa di ITB. Bersama dua sahabatnya sesama mahasiswa ITB, Budi Brasali dan Ismail Sofyan, hanya bermodal ilmu arsitektur yang didapat di kampus, mereka mendirikan CV Daya Tjipta.

Ciputra, pemilik grup bisnis Ciputra Group yang meninggal dunia.
Ciputra, pemilik grup bisnis Ciputra Group yang meninggal dunia. (FORBES.COM/CIPUTRA.COM)

Awalnya, seperti kisah Larry Page dan Sergei Brin memulai Google, mereka berkantor di sebuah garasi di Jalan Soetjipto, Bandung. Mereka berkeliling dari rumah ke rumah di Bandung mencari orang yang bersedia memakai jasanya.

Hingga akhirnya Ciputra menikah, punya anak dan menyandang gelar insinyur dari ITB. "Apakah kita akan terus begini dan menunggu order datang?" Ciputra bertanya kepada Budi dan Ismail.

Bagi Ciputra kala itu, hanya mengerjakan proyek-proyek kecil dan bertahan hidup saja tak membuatnya puas.

"Saya harus membuat lompatan besar."

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved