Berita Manado
Kisah Penjual Es Teler dan Bakso Keliling Sejak 1997, Kadang Masih Takut Kena Razia
Berjualan bakso dan es teler keliling menjadi mata pencaharian sehari-hari Coni.
Penulis: Dewangga Ardhiananta | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID - Berjualan bakso dan es teler keliling menjadi mata pencaharian sehari-hari Coni.
Pria asal Gorontalo tersebut berjualan keliling di sekitar Jalan Stadion Selatan Ranotana, Kecamatan Sario, Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut).
Di bawah pepohonan yang rindang di pinggir jalan itu Coni menjajakan es teler sambil menunggu pembeli.
Ia bercerita telah berjualan bakso sejak tahun 1997 dan berjualan es teler dari tahun 2005 saat diwawancarai tribunmanado.co.id.
"Iya ada dua-duanya bareng namun untuk jualan bakso ada yang bantu," ujar Coni, pedagang es teler dan bakso keliling, Kamis (7/11/2019).
Selain itu, pria berusia 42 tahun tersebut berjualan es teler sesuai dengan musim.
Ia mengaku saat musim panas lebih memilih berjualan es teler karena menguntungkan pada waktu tersebut.
"Kalau jualan bakso tidak mengenal musim pasti laris apalagi saat musim penghujan," tukasnya.
Coni mengatakan berjualan es teler pada waktu musim penghujan hasilnya tidak seberapa.
"Cuma kalau musim hujan tidak ada hasil walaupun ada tetapi pendapatan pasti kurang," ucap Coni.
Menurutnya penghasilan dari berjualan kedua hidangan es teler dan bakso lumayan.
"Senang kalau sudah pegang uang dari hasil kerja sendiri," tuturnya.
Omset rata-rata per hari dari berjualan es teler sehari mencapai Rp 300 ribu.
Bahan-bahan untuk es teler ia buat sendiri dengan dibantu oleh istrinya.
Pada saat malam hari sekira dini hari pukul 01.00 Wita sampai waktu subuh, Coni membuat bahan es teler.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/kisahpenjual-es-teler-dan-bakso-keliling-sejak-1997-kadang-masih-takut-kena-razia.jpg)